Abusyiek dan Kepemimpinan di Masa Krisis

Abusyiek dan Kepemimpinan di Masa KrisisInternet
Bupati Pidie, Roni Ahmad (Abusyiek).
A A A

Oleh: Khairul Munadi  (Dosen Unsyiah)

Banda Aceh, acehtoday.com Minggu lalu, media sosial dan daring di Aceh heboh oleh pernyataan Bupati Pidie, Roni Ahmad (Abusyiek). Dalam rekaman video, dia menyebut virus Corona adalah senjata biologis,  digunakan saat perang dunia ketiga.

Semula saya geleng-geleng kepala. Tapi kemudian dapat memahaminya. Abusyiek memang fenomenal!

Selain ihwal senjata biologis, sesungguhnya – dalam kacamata saya– Abusyiek sedang mempraktikkan kepemimpinan di masa krisis, lewat video tersebut. Kepemimpinan khas Aceh. Saya menduga, naluri kepemimpinan memang mengalir deras dalam darahnya.  

Kepemimpinan di masa krisis (leadership in a crisis) menjadi isu penting dalam masa pandemi ini. Tak kurang, John A. Quelch – Profesor emeritus di Harvard Bussiness School– mengajukan tujuh kemampuan yang diperlukan pemimpin dalam melawan Corona. Prof. Quelch menyebutnya tujuh C atau 7-Cs: Calm, Confidence, Communication, Collaboration, Community, Compassion, dan Cash.

Dalam tulisan ini, saya mengadopsinya menjadi 7-K: Ketenangan, Kepercayaan Diri, Komunikasi, Kolaborasi, Komunitas, Kasih Sayang, dan Keuangan. Pendeknya, ada tujuh aspek yang perlu dihadirkan pemimpin kepada para pengikutnya. Mari kita simak.

1. Ketenangan

Pengikut atau masyarakat butuh rasa tenang dalam situasi krisis. Pemimpin harus dapat menghadirkan rasa tenang ini dan meredam panik. Abusyiek melakukannya dengan meyakinkan.

“Kita minta masyarakat tidak panik untuk menghadapi. Kita doakan pada Allah.  Ada solusi ya, ada solusi. Untuk kita tangani di kabupaten kita sendiri”, ujarnya dalam potongan video.

2. Kepercayaan Diri

Selain menghadirkan ketenangan, pemimpin harus mampu memancarkan rasa percaya diri. Bahwa dia bersama pengikutnya dapat melewati masa sulit, dengan korban atau kerugian minimum. Keyakinan bahwa “kita bisa bangkit” menjadi suntikan semangat penting bagi masyarakat.

Dalam videonya, Abusyiek tegar dan penuh percaya diri. Ia minta jajarannya untuk tidak takut kepada virus, dan tidak menakuti masyarakat. Abusyiek berujar,

“Tapi mari kita lawan Corona dengan cara cari tahu dulu dari mana asalnya virus itu, dan bagaimana masuk dalam tubuh manusia. Setelah kita tahu baru bisa dilakukan pencegahan”.

3. Komunikasi.

Pemimpin harus mampu membangun komunikasi intensif dengan  pengikutnya. Tentu dalam bingkai komunikasi publik yang baik dan persuasif. Pemimpin perlu menyampaikan langkah-langkah prioritas mengatasi situasi sulit. Hal ini penting  untuk mencegah kepanikan dan keraguan masyarakat. Bila perlu, perihal urgen dikomunikasikan secepatnya. Dalam situasi krisis, diamnya pemimpin bukanlah emas.

Bagaimana komunikasi Abusyiek? Untuk aspek ini, barangkali mesti lebih berhati-hati ke depan. Informasi yang hendak disampaikan harus faktual. Sehingga tidak membingungkan publik.

Abusyiek tangkas menyampaikan langkah penanganan. Secara jelas, menghadirkan aura ketenangan dan ketegasan. Abusyiek mengaku siap melakukan penguncian wilayah jika ada warga terjangkit.

“Kalau kita mau putuskan tali rantai merebaknya virus tersebut. Kalau saya, seandainya ini merebak di rakyat saya, masyarakat saya, orang tua saya, anak-anak saya, yang ada di Kabupaten Pidie ini, saya tidak peduli siapa dia. Kalau tiba waktunya apa pun bisa lockdown,” tegasnya.

4.Kolaborasi

Dalam penanganan krisis seperti Corona, pemimpin harus mampu menggerakkan dan menyinergikan semua sumber daya di bawah kepemimpinannya. Walau tidak eksplisit, kesan menggerakkan tertangkap saat kunjungan Abusyiek ke Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Kabupaten Pidie.

5.Komunitas.

Kepemimpinan seorang pemimpin menjangkau lintas komunitas. Pemimpin perlu membangun hubungan dengan komunitas manapun. Tidak pandang bulu. Ia harus menjadi role model dan menginspirasi banyak orang. Mulai dari aparatur, tokoh agama, dan kelompok-kelompok masyarakat yang dipimpinnya.

6.Kasih Sayang

Rasa belas kasih dan simpati terhadap sesama sangat dibutuhkan saat krisis. Pemimpin harus menghadirkan rasa ini ke tengah-tengah warganya. Apalagi bila krisis tersebut tak mampu ditangani pemerintah semata. Keterlibatan banyak pihak –yang didasarkan pada belas kasih kepada sesama– tentu sangat dibutuhkan. Dalam situasi krisis, rasa belas kasih adalah manifestasi penting dari kepemimpinan itu sendiri.

7. Keuangan atau daya beli

Aspek yang tak kalah penting untuk dihadirkan pemimpin adalah rasa aman finansial. Situasi krisis mengundang kesulitan ekonomi. Dan dapat menurunkan daya beli masyarakat. Lewat berbagai skema,  daya beli masyarakat perlu dijaga. Paling tidak, untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal.

Saya yakin, ketujuh kemampuan kepemimpinan di atas ada dalam diri Abusyiek. Barangkali, beliau hanya perlu dibahani pemahaman yang benar tentang fenomena Corona. Dan itu jadi tugas orang-orang di lingkar terdekatnya.

Kita berharap Abusyiek terus memainkan peran kepemimpinannya. Mengayomi masyarakat dari virus Corona melalui berbagai upaya. Berada di depan untuk edukasi warganya –mengkampanyekan penggunaan masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan. Juga di depan untuk mengambil keputusan sulit.

Demikian Abusyiek, jadilah model pemimpin di masa krisis. Pemimpin khas Aceh![]

Komentar

Loading...