Aceh Lumbung Pangan NKRI

Aceh Lumbung Pangan NKRI
A A A

Oleh HB. Almascaty (Presiden HB. Corp)

Banda aceh, acehtoday.com - Pada juma'at 8 Mei 2020 HB. Corp. bersama Universitas Islam Kebangsan Indonesia (UNIKI) menjalin silaturrahmi dengan Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Hasanuddin bertempat di Makodam Banda Aceh.

Silaturrahmi sekaligus bertujuan untuk menjalin kerjasama lebih erat antara lembaga swasta, perguruan tinggi dan TNI. Terutama dalam menghadapi dampak wabah Covid-19 yang semakin susah diprediksi berakhirnya. Apalagi kasus terjangkitnya kembali pesakit yang dinyatakan sembuh ditemukan kasus pertamanya  di Aceh.

Di luar negeri banyak kita lihat yang panik dan putus asa dengan merebaknya wabah Covid-19. Kepanikan besar telah melanda negara Eropa. Bahkan sebagian rakyat Amerika berontak agar tetap diberi kebebasan ditengah gencarnya "lockdown". Dengan menenteng senjata mereka meminta pemerintah membuka lockdown yg mereka anggap merampas kebebasan.

Silaturrahmi juga menyinggung meningkatnya kasus Covid-19 secara nasional. Wabah Covid-19 di Indonesia telah meluas, memaksa penduduk pulau jawa yg dihuni 60 % rakyat Indonesia harus tinggal di rumah sampai selesai wabah. Sampai kapan selesainya? Wabah Covid-19 ini belum bisa diduga kapan akan berakhir. Prediksi dari riset JP. Morgan, posisi Indonesia masih di bawah kurva, dan bisa meledak mengikuti Amerika dan Eropa.

Sementara sektor produksi pangan khususnya petani  terhambat usahanya karena merekapun pasti kawatir dan takut datang kesawah. Sehingga dipastikan hasil pertanian akan menurun. Demikian pun sektor distribusi dan pedagangnya akan terhambat dan takut berjualan.

Maka ketahanan pangan bisa menjadi masalah yang sangat urgent  paska pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 ini menyerang sedikitnya 125 negara termasuk Indonesia.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan pemerintah belum dapat memastikan kapan Covid-19 akan berakhir. “Menko Perekonomian mengingatkan sebelum ada vaksin, belum akan aman dari hal ini,” kata Doni Senin (4/5/2020) di Jakarta. Dibutuhkan waktu lama agar aktivitas bisa kembali normal seperti sebelum Covid-19.

Ketika pandemi itu berakhir, negara-negara yang terdampak akan fokus atau mengutamakan ketahanan pangan mereka sendiri. Keadaan itu tentunya akan menyulitkan

Indonesia, yang selama ini masih banyak mengimpor bahan pangan.

Pemerintah harus

menyiapkan antisipasi sebelum menghadapi era paska pandemi Covid-19. Untuk mengantisipasi keadaan darurat pangan ini, dapat dijadikan dasar kerja adalah Keputusan Presiden yang tertuang dalam Keppres No 12 Tahun 2020 tentang penetapan bencana nonalam penyebaran

Covid-19 sebagai bencana nasional.

Maka secara otomatis diperlukan kontijensi ketahanan pangan nasional akibat dampak Covid-19.

Ketahanan pangan mencakup banyak aspek dan luas sehingga setiap orang mencoba

menterjemahkan sesuai dengan tujuan dan ketersediaan data.

 Prediksi para ahli dan lembaga riset bahwa ketersedian pangan dan energi dunia diragukan hanya mampu bertahan hingga Juli 2020. Sementara masa berakhirnya wabah covid-19 belum dapat dipastikan berakhirnya.

Dengan asumsi demikian peranan TNI sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah pangan dalam operasi militer selain perang (OMSP) dalam menghadapi pandemi wabah Covid19. OMSP merupakan salah satu tugas TNI yang membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberi bantuan kemanusiaan yang tertuang dalam pasal 20

Undang-Undang TNI No 34 Tahun 2004, tentang peran TNI tentang penanggulangan bencana.

TNI AD dapat berperan dan bersinergi dengan para petani dan industri pertanian sebagai leading sektor yang bergerak dibidang pertanian agar dapat menjaga kontinuitas produksi pangan terutama seperti, produksi padi, umbi-umbian, jagung dan kacangan serta tanaman palawija serta tanah-tanah HGU yang terbengkalai dapat dipinjam pakai untuk program tersebut.

Potensi Aceh

Wilayah Aceh yang masih di zona hijau bisa maksimal bekerja menggarap lahan yang tersia dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Karena tdk ada waktu yg pasti utk wabah ini. Ketahanan pangan adalah prioritas utama paska pandemi. Aceh punya potensi sebagai lumbung pangan nasional dengan potensi yang dimilikinya.

Aceh yang merupakan salah satu sentral pangan nasional di masa lalu, dapat bangkit kembali menjadi Lumbung Pangan Nasional. Bahkan momentum emas ini sepertinya datang kepada Serambi Mekkah dengan segala potensi yang dimilikinya, terutama potensi peradaban spiritualisme Islam yang berakar. Dengan dasar semangat inilah masyarakat Aceh berbondong-bondong meramaikan masjid dan menyemarakkan ramadhan dengan doa dan qunut nazilah pengusir bala'.

Sejauh ini wilayah Aceh masih tetap zone hijau Covid-19, dan dengan berkah spiritualismenya akan tetap seperti itu. Semangat inilah yang menjadi kunci dan peluang besar kepada Serambi Mekkah untuk kembali menjadi daerah modal dan sekaligus daerah model dalam persiapan menjadi lumbung pangan NKRI.

Berdasarkan uraian di atas maka program penanaman tanaman pangan pada lahan  persawahan di atas 300.000 ha akan menghasilkan beras berlimpah dengan sistem intensifikasi produksi yang terstandar. Demikian pula potensi lahan perkebunan lebih 500.000 ha yang akan difokuskan pada komoditas kedelai, jagung, ubi kayu, porang dan sorgum untuk memenuhi ketahanan pangan nasional dan menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan nasional.

Tujuan program ketahanan pangan yaitu menjamin hak atas pangan, menjadi basis pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas dan menjadi pilar ketahanan nasional akibat pandemi Covid 19.

Program ini sudah dimulai oleh Pemkab Aceh Besar bersama Kodim Aceh Besar.  Program dimulai dengan pembajakan lahan dan pembagian bibit gratis. Diharapkan petani dapat meningkatkan produktifitasnya dalam masa pandemi ini.

Dalam skala nasional, Presiden sudah memberikan arahan bahwa pandemi Covid-19 menjadi momentum reformasi sektor pangan. Indonesia dituntut memenuhi seluruh kebutuhan pangan dalam negeri. Langkah utama yang perlu dilakukan meningkatkan produksi nasional berbasis pertanian rakyat dan keberpihakan pada petani kecil. Untuk bisa mewujudkannya, pemerintah sudah melakukan realokasi anggaran yang lebih besar untuk dialokasikan berupa bantuan benih/bibit, program padat karya, stabilisasi stok dan harga pangan, serta distribusi dan transportasi pangan.

Maka disinilah diperlukan kepemimpinan penggerak perubahan yang akan mensinergikan program di atas dengan berbagai kalangan. Terutama merangkai potensi para birokrat, politisi, cendekiawan kampus, tokoh masyarakat, TNI, relawan dan komponen masyarakat lainnya. Menyatukan mereka dalam satu gerakan nyata di masa pendemi untuk menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan NKRI

Komentar

Loading...