Anak Saya Siap Menantang Covid-19

Anak Saya Siap Menantang Covid-19
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

 Jakarta, acehtoday.com  -  Teror covid-19 yang tiba di Indonesia dengan segala kengeriannya, memaksa anak saya harus pindah tempat  belajar dari sekolah ke rumah, melalui metode home coference.

Pindah tempat belajar ini setidaknya selama dua minggu atau tepatnya setelah covid-19 berhasil ditumpas dengan sempurna. Anak  yang berusia delapan tahun itu pun, riang bukan alang kepalang.

Dengan tempurung kepalanya yang masih mungil itu, ia berpikir, setiap hari bersiap untuk mandi pagi selalu terlambat dan kemudian akan  melanjutkan bermain dengan sahabat karibnya, seekor kucing kampung tiga warna pemberian seorang tetangga.

Satu hari sebelum virtual class tersebut, kesibukan ibunya naik meningkat 180 derajat, dan tidak boleh disapa. Dia mengobrak-abrik ruang kerja saya, dan sukses  disulap menjadi kelas anaknya, yang lebih menarik dan lebih nyaman berkali-kali lipat pula. Cromebook, sarana belajar, diperiksa dengan seksama. Kertas polos dan berjenis-jenis kertas lain,  telah siap sempurna di atas meja.

Pensil 3A dan pensil-pensil jenis semua A lain, yang kebetulan tidak ada atau mungkin entah dilempar ke mana oleh anak delapan tahun itu, dikejar ke tempat lain di malam itu. Dengan masker yang tersaia satu-satunya dan sangat berharga pada saat ini, ia bergegas ke minimart terdekat. Dari gelagat, sangat khawatir kalau mart itu ditutup lebih cepat karena covid-19.

Setelah dilihat beres semua, ia mendekati anaknya, yang telah memakai baju tidur.

"Besok kamu bangun cepat, setelah mandi dan sarapan, langsung duduk di depan meja itu," katanya, dengan mimik yang tidak siap di bantah.

Kaffa, yang sebelah tangan memggang buku "Dog Man", hanya tersenyum saja tapi ke arah teman karibnya yang kini bermulut cemong. Mungkin kucing itu baru saja berusaha menyeruduk seekor tikus di salah satu sudut dapur.

Peristiwa sebenarnya baru berlangsung besok pagi. Rencana bocah itu untuk mandi terlambat dan bermain dengan kucing, gagal total. Sebagai ganti, ia menyadari sepagi itu ibunya telah berdiri di sebelah tempat tidurnya, dan siap menggotong anak malang ini ke kamar mandi.

Kelas baru dimulai pukul 08.00. Tapi Kaffa, satu jam sebelumnya, sudah harus duduk di kursi yang terlampau kebesaran untuk anak yang wajah masih lesu ini. Ibunya tidak tidak henti-hentinya memberi komando dan mondar-mandir waspada laksana seorang wali kelas yang  kehilangan separuh muridnya karena kabur lewat jendela.

Pukul delapan kurang 10 menit, gurunya baru mengirim link. Semua harus masuk ke link tersebut. Saya berusaha menjauh dari semua aura kamar yang telah  tersulap menjadi kelas menggegerkan itu. Sepuluh menit kemudian, dari jauh saya hanya mendengar suara "sang guru" yang tidak pernah belajar didaktik metodik itu, "siap!".

Artinya jam pelajaran telah dimulai. Kemudian hening. Sebagai ganti, ada suara lain yang jelas dari speaker notebook, dengan tekanan suara tegas tapi lambat-lambat. Pasti suara sang guru, Ms Jade, yang sangat sabar itu.

Metode dan langkah belajar mengajar telah diinformsikan jauh-jauh hari. Ada tutorial, diselingi dengan waktu tanya jawab setelah 20 menit, dan setelah dimulai lagi. Begitu terus hingga pukul 12.00. Selesai tutorial, akan ada pekerjaan rumah, dan harus disetor, tetap melalui on line, pukul tiga sore. Setelah 20 menit, saya berusaha mendekat. Istri saya yang terus tegak dan tanpa berkedip di depan anaknya, bereaksi tanpa bunyi.

Saya menjauh karena terasa matanya  mengirim tanda bahaya seperti kucing betina mengirim tanda peringatan agar anaknya tidak boleh diganggu.

Hari kedua, jalannya prosesi belajar berlangsung seperti sebelumnya. Setelah sarapan dengan sepotong roti, anak saya segera berada di kursi yang kebesaran di depan media kecil kurang lebih sebesar majalah "Tempo" itu.  

Masih tetap dengan mata sayu, seraya menyapu bekas susu berbentuk kumis putih di atas bibirnya dengan lengan belakang, ia menggerakkan mouse cromebook untuk masuk link gurunya.  Sang "supervisor", masih tegak di depannya dan belum kelihatan  tanda-tanda santai.

Hari ketiga, setelah 20 menit awal, sementara ibunya ke dapur, saya menyelinap ke kamar belajar itu.  Di luar pantauan sang ibunya, anak saya yang berambut ikal ini,  mata lebih riang menatap ke arah notebook.

Saya mengintip sebentar, dan di layar alat belajar tersebut, ada suara yang cukup hingar bingar. Tapi bukan suara anak-anak berusia delapan tahun tersebut, tapi ibu-ibu mereka yang tengah menyemangati anak-anaknya. Ada yang berteriak kepada anaknya agar jangan pindah dari tempat duduk, dan ada  yang memanggil-manggil suaminya untuk bertanya maksud pertanyaan dalam matamatik tersebut.

"Bagaimana?," tanya saya kepada Kaffa.

"Eee..ngg, itu ayah. Fano,"

"Kenapa Fano?" tanya saya, agak khawatir kepada anak yang dikeluhkan kedua orang tuanya sangat sulit makan itu tapi teriakan dan larinya sangat banter.

"Dia ada mainan baru dan keren, ayah." Saya hanya menelan ludah. Rupanya, anak berambut jingkrak putra sahabat saya,  begitu lepas dari pengawasan sang ibunya, dengan cermat dan tangkas segera memposting ke layar tersebut gambar mainan barunya, berupa Nintendo, setang mainan game yang baru dibeli ayahnya.

Jumat kemarin, setelah bertemu seorang teman di sebuah cafe yang jarang pengunjung, menjelang sore saya pulang ke rumah. Dari jauh, tidak biasa, saya  melihat Kaffa mendekati dan hendak menyambut kedatangan saya.

Saya membuka pintu mobil, turun, dan agak membungkuk di depan anak saya yang sudah lima hari belajar di rumah itu. Sekelebatan, saya melihat ibunya melalui jendela, yang sedang memperhatikan anaknya yang hendak menghadang saya. Saya senang sekali.

 "Hai, Kaffa, sudah makan pisang goreng yang dibuat bunda," tanya saya, membuka pembicaraan.

 "Ayah bisa ke sekolahku besok?" tanyanya serius,  tidak mengubris pertanyaan saya perkara makanan favoritnya tersebut.

"Ayah bilang ke Miss Jade dong, aku ingin masuk  sekolah lagi."[]

Komentar

Loading...