Beawiharta: 12 Panduan Meliput Covid-19

Beawiharta: 12 Panduan Meliput Covid-19acehtoday.com
ilustrasi media
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Meliput korona lebih sulit dibanding meliput konflik atau bencana alam. Jadi bagaimana caranya? Meliput hal-hal yang luar biasa, seperti perang dan wabah harus disikapi dengan luar biasa. Luar biasa teliti.

Memotret korona harus memakai mitigasi wabah menular. Banyak hal tidak terukur dalam meliput wabah. Jadi kita hanya bisa membuat persiapan berdasarkan hal terukur.

Yang terukur adalah korona menyebar melalui droplet air liur, air ludah, titik-titik air yang keluar dari mulut. Air liar bisa jatuh kemana saja, itu yang dijadikan patokan. Dan virus korona tidak terlihat. Ini tidak terukur. Dan ini berbahaya.

Berikut ini panduan tips dari Beawiharta fotografer internasional perihal panduan meliput covid-19 yang dikutip dari FB, Ahad 29 Maret 2020, berikut panduannya: 


1. Wajib memakai masker N95 atau yang setingkat, jangan memakai masker kaleng-kaleng.

2. Panduan jarak fisik adalah keharusan

3. Bila harus masuk rumah sakit, wajib memakai APD buatan 3M dari ujung kepala sampai ujung sepatu, serta memakai kacamata pelindung. Catatan, kalau tidak sangat terpaksa, sebaiknya jangan meliput ke RS. Ingat sudah banyak pekerja medis yang meninggal.

4. Badan harus fit, kalau sakit sebaiknya tidak liputan.

5. Harus ada sebuah ruang isolasi guna membersihkan badan

6. Jangan lupa semprot semua barang yang kamu bawa liputan dengan desinfektan sebelum masuk rumah ataupun masuk kantor, seusai liputan. Bawa kamera sesedikit mungkin. Virus bisa menempel disana.

7. Jangan lupa cuci tangan dan mandi dengan sabun, biarkan sabun merata dan tunggu 30 detik sebelum dibilas dengan air mengalir.

8. Bila selesai liputan APD harus dibuang ke tempat sampah setelah dibungkus dalam plastik bersegel.

9. Kalau menurut logika dan situasi lapangan, penyebaran virus terlalu berbahaya, peliputan sebaiknya dibatalkan.

10. Cek asuransi kesehatan dari kantor, apakah terkena wabah juga dicover. Ingat tidak semua asuransi kesehatan melindungi wartawan dari peliputan wabah. Jika tidak dicover minta kantor untuk mengubahnya.

11. Sebelum berangkat, berdoalah. Doa membuat kita lebih tenang.

12. Ketika yakin harus meliput, ingat, jangan panik. Selalu ada pintu kesalahan, tetapi kalau kita tidak panik, selalu ada pintu untuk membetulkan hal yang salah. Kuncinya ada di logika. Dan logika tidak berjalan bila kita panik.

Mitigasi harus dilakukan karena wartawan dan kantor pemberi tugas bisa menghitung harga yang harus dibayar. Tanpa mitigasi akan ada banyak hal tidak terukur yang harus dibayar, dan biasanya harganya jauh lebih mahal.


Contoh: kalau tertular, bisa jadi seluruh rumah tertular. Dan bisa jadi seluruh kantor tertular. Sebuah kantor di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, hampir seisi gedungnya menjadi suspect corona karena rekan kerja tertular covid-19. Beberapa sudah meninggal. Apakah kantor kita siap dengan itu?

Contoh lain dengan adanya asuransi kesehatan, kantor bisa menghitung pengeluaran yang harus dibayar kantor untuk karyawannya. Bila tidak ada asuransi, dan seandainya karyawan terkena korona dan meninggal, bila angota keluarganya menuntut ke pengadilan. Berapa uang yang harus dibayar kantor untuk membayar ganti rugi dan membayar pengacara? Sangat jauh lebih besar dari asuransi.

Panduan ini dibuat untuk teman-temanku fotografer yang terpaksa harus memotret di lapangan pada saat ini. Panduan ini masih jauh dari sempurna, dan harus diperbaiki lagi. Semua sumbang saran untuk melengkapi panduan ini diterima dengan tangan terbuka.

Ingat jika kalian mati, kantor akan menemukan penggantimu dengan mudah, tetapi anak-anakmu tidak bisa menemukan pengganti bapak atau ibu mereka.

Kalau kamu membawa wabah ke rumah, ada orang lain yang akan menerima akibatnya.[]

Komentar

Loading...