Benturan Lampu Ajaib di Inggris (1/2)

Benturan Lampu Ajaib di Inggris (1/2)
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi


Jakarta, acehtoday.com -  Sebagai fan fanatik Mancherster City dalam  beberapa tahun terakhir ini, perasaan saya agak terganggu dengan kehadiran pria yang sering disebut MBS. Putra Raja Salman dari Arab Saudi ini sukses membawa Covid-19 ke dekat hidung pemilik lama Newcastle United, yang menbuat Mike Ashley  buru-buru melepas klub itu ke pelukan putra mahkota dari Arabi.

Padahal urusan untuk jatuh cinta kepada klub kota Manchester ini bukan perkara mudah. Karena, seperti penjelasan teman-teman yang telah lebih dahalu nge-fan kepada sebuah klub hebat Eropa lainnya, harus dipikirkan matang-matang; harus hati-hati persis seperti memilih istri. Misalnya apakah klub ini bakal kalah saban hari atau tidak;  fan clubnya ada atau tidak di sekitar erwe kita atau tidak ; barang-barang cendera matanya berkesan anggun atau tidak -- meski mudah di dapat, tapi  kalau dijual dekat pasar ayam, itu pasti tidak berprestise.

Jadi menjadi fan  grup-grup hebat ini, walau belum sekali pun pernah menyentuh pintu pagarnya, jangan bikin malu.  Kalau  nobar,  pakailah baju sesuai warna klub. Jangan sampai, warna  club sendiri biru , tapi kita mengenakan warna hijau dengan kain sarung. Ini, kata sepupu saya dengan penuh lagak, melanggar estetika dan peradaban.

Membantah pendapat putra tante saya yang lulusan akademi pelayaran ini tidak enak. Tapi saya hanya mengelus-elus dagu yang tak berjenggot ketika mendengar istilah "perabadan".  GM di sebuah perusahaan palayaran dan gembar-gembor pernah menangkap berton-ton cumi-cumi sebesar kambing di perairan dekat Selandia Baru ini, ia tidak tahu saja.

Hanya keluarga kerajaan Inggris, baik laki-laki maupun perempuan,   begitu lahir harus segera "dibaptis" menjadi fan Aston Villa. Tapi para gentlemen Inggris lainnya yang berbudi dan penuh martabat, akan menjauhi sepakbola seperti menjauhi kerumunan manusia yang terpapar wabah covid-19. Dikarenakan sering menghadiri acara fan club, yang kebanyakan anggotanya para karyawan kantor pialang, aktivis parpol dan sedikit mahasiswa itu, saya belajar sedikit tentang perihal sepakbola sekitar klub favorit saya ini. Gaya sepakbola di Inggris itu rupanya sangat kaku seperti aktivis partai Konservatif yang baru belajar politik. Tidak menarik dan membosankan.

Maka agar lentur dan sedikit enak ditonton, klub-klub Inggris itu sering mengontrak  para pemain dari Prancis, negeri seberang Selat Inggris. Tapi klub-klub Inggris bersikap agak antipati kepada para pemain Italia. Meski prianya penuh gaya, yang bisa  membutuhkan waktu berjam-jam  di depan cermin sekedar mematut-matut warna kaos kaki agar sesuai dengan warna tali pinggang, paradoks 180 derajat dengan gaya sepakbola mereka. Gaya permainan bola Italia itu dijauhi semua penggemar sepakbola di negeri Ratu Elizabeth.

Dari sebelas manusia bertampang menawan dengan rambut tersisir rapi itu, nyaris semua mereka dipaksa bertugas berdiri di depan gawang,  dan satu orang yang dilepas untuk menjelajah ke depan. Jika pemain belakang tersebut mendapat bola, langsung melepaskan tendangan menyebarang lapangan kepada pemain sebatang kara di depan, yang berusaha sendiri untuk menceplos bola ke gawang lawan.

Dapat dibayangkan, nyaris dalam semua pertandingan segala divisi Italia, terjadi panceklik gol. Jika kemasukan satu gol, itu sudah luar biasa. Sebagai ganti mereka mencari cara lain yang tidak masuk bagian teknik bermain bola seperti menjatuhkan diri tiba-tiba kemudian bangkit dan  mengangkat tangan seraya berucap "Mama Mia".

Mana tahu wasit terpengaruh, dan menghadiahkan tendangan penalti kepada klubnya. Dengan demikian, para pemain Italia tahun 70-an, selain harus bisa nendang,  juga harus bisa memasang mimik memelas yang dibarengi uacapan "Mama Mia" pada momen yang tepat.

Tidak heran para pemain Italia ini sungguh-sungguh berada dalam doa setiap pencinta sepakbola Inggris siang dan malam agar jangan sampai muncul di lapangan mereka seperti para pemain Prancis. Sebenarnya  tanpa para pemain "Mama Mia" ini juga, sepakbola Inggris sudah sangat merisaukan: sementara pemainnya kurang gaya di lapangan, tapi para penontonnya kelebihan daya untuk  membuat keributan di luar lapangan.

Para pendukung klub-klub  kota-kota pelabuhan di utara pasti, seperti Liverpool, pasti pulang dengan muka babak belur setelah klub mereka bertanding dengan klub-klub para buruh pabrik di London seperti Chelsea, dan West Ham United dan lainnya.  Mungkin karena sangat berpengalaman soal membuat masalah, tidak heran Inggris, setelah musik, kembali  jadi kiblat cara membuat rusuh bagi penggila bola di negara-negara lain.

Para penggila bola dari  negara-negara Eropa Timur, secara periodik "berziarah" ke  London untuk melihat perkembangan ritual para hooligan Inggris. Anak-anak muda ini akan mengintip melalui surat kabar, dan kemudian membawa ke negeri mereka varian hoologanisme Inggris. Maka di ibu kota negara-negara blok Timur itu akan muncul anak-anak muda dengan pakaian jean lusuh yang berantai besar di pinggang, lengkap dengan sepatu kets putih. 

Rambut dicukur model musang tengkurap di atas kepala persis seperti pecinta sepakbola di Inggris.  Seraya menamakan diri "Ultra  bad Boys" yang dicomot dari koran di  London, anak-nak muda pendukung club Red Stars di Beograd  bernyanyi: "Kampak di tangan/belati di gigi/akan terjadi pertumpahan darah malam ini", seraya membayangkan wajah Franjo Tudjman, presiden Kroasia, yang sangat dibenci di Serbia.

Dalam perang Balkan awal tahun 1990-an, markas pendukung Red Stars Beograd sekaligus menjadi markas rekruitmen bagi pemuda-pemuda yang mau berperang di Bosnia.  Inggris juga jadi kiblat bagi kaum perusuh di kota-kota  Braitania Raya lainnya.

Di Glagow, Skotlandia, jika Rangers yang  Prorestan berhadap dengan Celtic yang  Katolik, para penggila kedua ke dua belah pihak telah  mempersiapkan diri seminggu pertandingan berlangsung: bagaimana cara menyelundupkan batu dan bagaimana cara menyembunyikan pisau.  Sepanjang pertandingan, mereka akan mengintimidasi dan memprovokasi dengan lagu: Hallo, hallo, kami ini Billy Boy (yang mereka maksudkan adalah geng yang menghabisi umat Katolik Slotlandia antara PD I dan PD II), dan diakhiri dengan berteriak "Mampus Paus". Pendukung Celtic pun tidak tinggal diam, akan menyanyikan lagu "You'll Never Walk Alone" yang dipopulerkan oleh Richard Rodgers, dan diakhiri dengan sumpah serapah "Mati kau ratu".    

Maka tak heran, pada awal mulanya, para elit Inggris memandang sepakbola dengan angkuh dan menghina. Bagi mereka, olahraga yang meski lahir di kampung mereka ini, tidak lebih dari sejenis  keramaian untuk mengundang manusia-manusia terjepit ekonomi untuk saling pukul.

Jika ada orang yang membenci kekerasan, pasti ia lari terbirit-birit dari  olahraga  kaum buruh dan kuli kapal ini. Di negeri yang penuh estetika dan peradaban ini, seperti kata sepupu saya di atas, jika ada  ada 10.000 manusia masuk stadion, 6.000 ingin membuat keributan, 4.000 lagi ingin menonton keributan.  Kenapa mereka sangat suka kepada kekerasan? Menurut sosiolog yang sepaham dengan para elit ini, klub-klub  di Inggris Raya ini, awal pembentukannya adalah sebagai wadah bergembira bagi kaum marjinal, seperti buruh pabrik atau buruh galangan kapal.

Tapi tiba-tiba lapangan kerja mereka direnggut ketika  pabrik-pabrik dan galangan kapal itu direlokasi ke berbagai negara lain yang lebih murah ongkos produksinya. Terenggut pendapatan mereka, serta hancur pula ego patriarkis mereka dalam keluarga, membuat mereka mencari saluran lain untuk menegakkan eksistensinya. 

Pejaten Barat, 19 April 2020

Komentar

Loading...