Benturan Lampu Ajaib di Inggris (2/2)

Benturan Lampu Ajaib di Inggris (2/2)
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com -  Di akhir era tahun 80-an, Inggris didominasi Tory, yang menghadirkan pemimpinnya yang garang sebagai perdana menteri, Margareth Thatcher.  Perempuan ini bukan hanya ditakuti sampai ke Malvinas, tapi ia kesohor pula karena angkuh tidak kepalang di depan para pecinta bola Inggris.

           

Menganggap dirinya sebagai penggotong nilai-nilai konsevatif tanpa cela dan tak tertandingi ini, sepanjang karir politiknya, perempuan yang dijuluki "kupu-kupu besi" ini bersumpah akan mengemplang semua batok kepala  kaum pembuat onar yang tak tahu diri itu. Di mata Thatcher, yang walau moyangnya menjajah seluruh dunia, para pembuat onar ini benar-benar tak berguna karena gagal total memahami nilai-nilai Inggris yang luhur dan penuh kelembutan tersebut.

           

Ibu PM yang keras perangai  ini, pada tahun 1989 memutuskan untuk  bertindak kepada olahraga kaum rendahan ini menyusul tragedi Hilborough, Shaffield. Dalam pertandingan antara Liverpool dan Nottingham Forest, 95 orang tewas karena kehabisan napas dan terinjak-injak. Tragedi ini terjadi karena pengunjung yang kelewat banyak itu dijejalkan saja seperti ikan sarden dalam taras   yang tidak memenuhi syarat.  Merespon tragedi itu, Thatcher meraung,  memintahkan semua klub di Inggris menggantikan  teras berdiri dengan tribun yang ada tempat duduk seperti dalam bioskop. Jika menolak, klub-klub itu segera harus membubuhi tanda almarhum di depannya.

           

Tak pelak, persyaratan baru ini benar-benar membalik ekonomi dunia sepakbola Inggris. Kebanyakan klub itu dimiliki para pengusaha kecil. Ketika persyaratan ini diberlakukan, sebagian besar klub jadi kalang kabut, dan harus menjual atau mencari mitra untuk mendatang uang yang bejibun. Maka dalam situasi itu datanglah orang-orang kota yang banyak duit dan memiliki penciuman kuat untuk menambah uang di dunia kaum hooligan ini.

           

Para pembawa uang  dari kota ini selain membuat tribun baru, juga menambah  ruangan-ruangan mewah di bawahnya, yang disewa kepada perusahaan-perusahaan kaya. Ruangan-ruangan mewah ini akan ditempati para pembeli tiket VIP sebelum pertandingan dimulai dan ketika jam istirahat, dan di ruangan mewah  itu,  pemegang tiket VIP itu akan dilayani sekelas  layanan  dalam kapal pesiar milik para syeikh dari Timur Tengah. Perusahaan kaya di atas, kembali dapat uang karena memberi layanan yang hebat yang dipenuhi wine, whisky, berjenis-jenis makanan laut dan daging ditambah buah-buahan enak dari seluruh dunia kepada penonton kaya.

           

Para investor ini menggenjot harga saham klub di pasar bursa efek, harga tiket mereka naikkan, mereka jual  hak siar liga kepada layanan TV milik Rupert Murdoch. Dengan demikian, gagasan Thatcher berjalan sempurna. Jenis suporter baru yang lebih kaya menggantikan jenis lama, yang senang main gebuk. Perempuan-perempuan pun, seperti JK Rowling yang menulis Harry Potter, ikut antri beli tiket. Ia tidak khawatir  lagi mesti berada di tengah hooligan paling ganas di muka bumi, para fan the  Hammer.

           

Perubahan-perubahan di Inggris menjalar seluruh Eropa: ada stadion mewah, ada ruangan mewah dengan berbagai jenis makan saat waktu istirahat, ada saham yang digoreng di pasar efek, dan ada  hak siar. Dan mengikuti perkembangan uang klub ini, bukan hanya tiket yang melejit, tapi bandrol para para pemain pun ikut meroket dengan dahsyat. Setelah kebijakan Thatcher ini, para pemain bermimpi siang dan malam agar mereka dibajak oleh klub-klub yang berankasnya penuh uang. Mereka bermain memang benar demi uang. Kapitalisme telah menyergap dunia persepakbolaan, yang tidak sepadan sekedar upaya menggantikan hooliganisme.

           

Setelah wajah sepakbola Inggris berubah banyak karena urusan uang, saat itulah Syeikh Mansour, adik lain ibu dari amir Abu Dhabi atau presiden Uni Emirat Arab (UEA) sekarang, Syeikh Khalifa bin Zayed al- Nahyan, masuk ke Inggris.  Dikategorikan sebagai politisi dan sekarang menjabat sebagai wakil Perdana Menteri UEA, Syekh Mansour menggelontor uang tak kepalang besarnya untuk memiliki klub dari kota Manchester itu. Walaupun dengan uang sangat besar, pembelian Manchester City disanjung setinggi langit  oleh para amir di  Abu Dhabi secara umum.

           

Membeli klub-klub sepakbola Eropa, bukan sekedar urusan prestise tapi ini sekaligus entitas politik baru bagi negara-negara kecil di teluk. Selama ini, saking kecil negara-negara mereka, urusan kebijakan politik luar negeri mereka dikooptasi semua oleh negara besar yang menjadi tetangga mereka, Arab Saudi. UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain nyaris tidak memiliki politik luar negeri sendiri. Politik luar negeri mereka adalah politik luar negeri Arab Saudi. "Jangan neko-neko, yang penting ente aman semua," kata Riyadh, yang pada gilirarannya berada di bawah supervisi ketat Washington.

           

Qatar, yang telah menggantikan pemimpin ke tangan generasi muda lulusan Inggris, Syeikh Tamim bin Hamad al Thani, ogah selalu jadi objek politik Arab Saudi. Ia melawan dengan cara memberi payung kepada sejumlah aktivis Ikhwanul Muslimin yang melarikan diri Mesir, menjalin hubungan dagang dengan Iran, dan untuk tidak membuat AS marah, ia juga memiliki hubungan yang baik dengan Israel. Akibat langkah ini, Qatar dimusuhi Arab Saudi. Setelah mendapat cap sebagai negara pendukung terorisme, Saudi dengan mengajak semua bawahannya, UEA, Kuwait, Bahrian plus Mesir untuk memboikot Qatar.                

           

Meski UEA dekat dengan Saudi, tapi para emir dalam Abu Dhabi bukan tidak mendongkol kepada keluarga as Saud yang senang mendekte. Maka membeli klub Inggris di Manchester ini adalah koridor negara-negara keemiran kecil ini untuk sedikit keluarga dari tekanan politik di Teluk ini. Qatar dan Abu Dhabi bangga sekali dengan kemampuan mereka menghadirkan kapital yang menggunung  ke Eropa, yang mereka tanam di olahraga yang paling populer di dunia Arab ini. Kebanggan ini disimbolkan dengan dipampangnya wajah-wajah paling populer di kolong langit seperti wajah Naymar, Mbappe di bandara Hamad di Doha, dan wajah Sterling, De Bruyne di bandara Abu Dhabi. 

           

Tapi tiba-tiba keluarga as Saud masuk juga ke Inggris membuntuti keluarga al Nahyan dengan mengambil Newcastle United. MBS pasti sudah belajar banyak dari al Nahyan di keberhasilan Manchester City. Dalam dunia sepak bola sekarang, kunci sukses hanya ada satu: jangan pelit kepada duit. Agaknya kunci ini tidak sulit dipenuhi oleh MBS, calon raja Arab Saudi yang bergelimang uang. Maka mata dunia segera akan melihat persaingan sepakbola di liga primer Inggris dan piala UEFA, antara klub-klub yang uangnya datang dari perut bumi Arabia. Itulah yang disebut dengan the clash of Aladin's Magic Lamp (benturan lampu ajaib Aladin) di bumi Eropa.

Pejaten Barat, 19 April 2020

Komentar

Loading...