Rba3

Betulkah Sumber Daya Alam untuk Kesejahteraan Rakyat?

Betulkah Sumber Daya Alam untuk Kesejahteraan Rakyat?
A A A

Oleh : Sadri Ondang Jaya

Banda Aceh, acehtoday.com - Setelah aku dicecar oleh guru-guru di SMP dengan berbagai pengetahuan dan juga pengaruh buku-buku yang kubaca.

Alhamdulillah, hati dan pikiranku sedikit demi sedikit mulai terbuka, peka, respon, dan kritis bila menyaksikan hal-hal yang terjadi di lingkungan saya, terutama apabila ada ketimpangan.

Suatu ketika, saat saya pulang kampung karena libur sekolah, saya sangat "geram" menyaksikan perusahaan yang beroperasi di kampungku.

Mengapa geram? Masak, perusahaan itu sudah berpuluh-puluh tahun beroperasi dan mengeksplotasi hutan di wilayah Singkil, tapi tidak sedikit pun berperan dan berpartisipasi mengurangi endemik kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat.

Mengapa perusahaan itu, tidak menyalurkan dana CSR berupa beasiswa pada anak-anak putra daerah yang melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

Padahal dengan adanya beasiswa, pendidikan anak-anak itu akan lancar. Kemudian akan membuat kualitas mereka meningkat.

Jika kualitas sumber daya manusia hebat, akan bisa membuka dunia usaha, mengisi formasi pegawai negeri dan menjadi pengusaha. Ujung-ujungnya hidup warga akan sejahtera.

Tetapi itu yang tidak dilakukan oleh perusahaan sehingga yang bersekolah waktu itu di kampungku kebanyakkan orang berpunya. Padahal omset yang diterima perusahaan, setiap tahunnya dari penjualan kayu glondongan yang ditebang setiap hari dari hutan, mencapai miliaran.

Kemana uang itu? Mengapa tak sedikit pun menetes dan mengalir pada masyarakat sehingga bisa membuat mereka sedikit sejahtera.

Bisa diduga, uang tadi, hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu di luar daerah sana. Sementara warga menjadi penonton. Menggigit jari dan hanya mereguk angan belaka.

Bahkan, uang sosial kemasyarakatan yang seharusnya diberikan perusahaan secara berkala setiap tahun, tidak pernah dirasakan dan dinikmati masyarakat Gosong Telaga.

Secara faktual lokasi operasional perusahaan ini begitu dekat dengan pemukiman penduduk.

Sepanjang hari, deru suara alat-alat berat perusahaan yang bekerja mengguling, membelah, memotong, dan lainnya terdengar nyaring di telinga warga.

Beribu-ribu kubik kayu glondongan yang telah terakit terhampar di tepian tempat pemandian mereka.

Kalau aku dan kawan-kawan sedang mandi di tepian, kami acap bekejar-kejaran dari satu balok ke balok lain.

Lantas menyelam dan menghilangkan diri ke bawah balok dengan cara menahan nafas sebisanya. Kemudian muncul pada sisi balok lainnya dengan nafas terengah-engah.

Begitu asyiknya permainan kejar-kejaran (istilah setempat main nenek-nenek) dipanjangnya rakit balok yang menghampar.

Kalaulah kayu balok itu dirakit teratur, panjangnya sampai ke Jepang. Dengan demikian, orang kampung saya akan bisa dan mudah berangkat ke Jepang dengan berjalan kaki menapaki kayu-kayu glondongan yang dirakit tadi.

Begitu perumpamaan banyaknya kayu balok yang terhampar di pemukiman kami.

Kala itu, aku sering merenung: Hutan yang digarap perusahan kayu ini sudah berpuluh tahun. Hasilnya sudah bertrilyunan. Hasil hutan itu milik siapa? Kok kami masyarakat sekelilingnya hidup melarat dan hanya menjadi penonoton belaka.

Yang dapat atau dampaknya yang dirasakan masyarakat kampungku sekarang: "Jika musim kemarau, panas terik memanggang. Bila musim penghujan, rumah warga dimasuki air dan dikepung banjir. Pemukiman pun, menjadi terendam." Ironis memang.

Bukankah segala kekayaan alam Indonesia, diperuntukan demi kesejahteraan dan hajat hidup orang banyak sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dan negara harus selalu "hadir" di tengah rakyatnya.[]

*Penulis adalah pengamat sosial dan budaya

Komentar

Loading...