CPO Meroket, Harga TBS Sawit Terdongkrak ke Rp 1.400/Kg

CPO Meroket, Harga TBS Sawit Terdongkrak ke Rp 1.400/Kg
Kenaikan harga CPO di pasar internasional turut mendongkrak harga TBS petani ke Rp 1.300 hingga Rp 1.400/kg dari sebelumnya sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.250/kg. (elvidaris simamora/dok)
A A A

Medan, acehtoday.com -- Meroketnya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional ke level RM 2.562/metrik ton, turut mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani.

Saat ini, harga sawit di tingkat petani berkisar Rp 1.300 hingga Rp 1.400/kg. Harga ini naik dibandingkan sebelumnya sekitar Rp 1.000 hingga Rp 1.250/kg. Bahkan jauh lebih tinggi lagi dibandingkan dua pekan lalu yang masih dikisaran Rp 1.000 hingga Rp 1.090/kg.

Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut, Gus Dalhari Harahap, mengatakan, kenaikan harga CPO di pasar internasional memang memberi berkah bagi petani.

"Bisa mendapatkan harga di atas Rp 1.000/kg sudah sangat bagus. Apalagi saat ini hampir mendekati Rp 1.500/kg, petani sangat gembira," katanya, Senin (11/11/2019).

Gus mengatakan, petani berharap harganya bisa terus naik hingga akhir tahun. Meski petani tidak mematok kenaikannya di level berapa, namun harga TBS diharapkan terus berada di tren positif.

Harga CPO di pasar internasional memang terus mencatatkan kenaikan yang sangat tajam. Bahkan harga CPO saat ini di level RM 2.562/metrik ton merupakan level tertinggi di tahun 2019.

Harga CPO meroket sejak pidato Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, di majelis umum PBB pada September lalu yang menyatakan bahwa India telah "menyerbu dan menduduki" Kashmir.

Pernyataan tersebut mendapatkan reaksi keras dari India yang kemudian memboikot produk CPO dari Malaysia. Tapi boikot itu justru berbuah manis terhadap harga CPO yang terus meroket.

"Aksi boikot India memang menjadi pemicu meroketnya harga CPO belakangan ini. Kenaikan harga CPO tersebut tentunya akan dinikmati oleh para petani sawit di tanah air maupun di Sumut," kata pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin.[]

Sumber:MEDANBISNIS

Komentar

Loading...