Dilema Mahasiswa Unsyiah Dalam Sistem Lockdown

Dilema Mahasiswa Unsyiah Dalam Sistem Lockdown
Ilustrasi #jagajarak
A A A

Oleh: Silvy Amelia Siregar, (Mahasiswa Semester 2 Jurusan Statistika, Fakultas MIPA Universitas Syahkuala Banda Aceh)         

30 HARI sudah Indonesia berada dalam situasi yang dilematis, dimana pandemic global Corona Virus Disease 2019 atau disebut COVID-19 menjelma menjadi hantu yang ada di negeri ini.

Sejak diumumkannya, dua orang yang terjangkit Covid-19 di wilayah Depok pada 02 Maret 2020 lalu, Covid-19 yang aneh itu langsung menyebar dan terus berkembang pesat ke wilayah-wilayah lain. Dan masyarakat semakin terteror.

Virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok ini semakin banyak menyerang korban di seluruh dunia, bahkan negara-negara maju sekalipun. Hingga banyak cara yang diterapkan guna mengurangi penyebaran virus ini.

Hal ini juga berimbas pada lini - lini lain, bukan hanya kesehatan dan ekonomi nasional saja, juga berimbas pada system belajar mengajar, tidak terkecuali para mahasiswa di Indonesia, banyak pihak universitas yang mengumumkan untuk menghentikan sejenak proses belajar di kampus, dan menutup kampus atau sudah menerapkan sistem “Lockdown” dan menggunakan sistem belajar “Daring” atau online.

Terkhususnya didaerah Aceh, sejak dikeluarkannya surat edaran rector Universitas Syiah Kuala pada 16 Maret 2020, seluruh mahasiswa diperbolehkan untuk kembali kedaerahnya masing-masing, mengisolasi diri masing-masing, tetapi tetap mengikuti proses belajar mengajar online dan situs-situs tertentu yang diberikan pihak dosen.

Sudah 23 hari para mahasiswa menjalani kuliah dengan metode online, tidak sedikit dari mereka yang menjerit dan berteriak dengan segala kekesalan, karena metode pembelajaran yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan, tenaga pengajar yang lebih fokus memberi tugas yang terus menerus bertumpuksetiap harinya.

Bahkan dosen lupa untuk memikirkan kekacauan yang terjadi, memberikan tugas ini dan itu serta cara pengiriman ini dan itu.

Sistem online ini seharusnya mengajarkan agar mahasiswa belajar “santai” atau porsi yang mungkin

lebih ringan dari biasanya, selain dirasa mampu untuk mengurangi keresahan dari Covid-19 mahasiswa pun dapat menjaga kesehatan mereka dengan berkumpul dengan keluarga untuk melupakan keadaan diluar yang semakin darurat.

Terlihat dari data dan berita tertanggal 01 April 2020 sekitar kurang lebih 1.528 kasus terkonfirmasi positif Covid-19, diantaranya 81 sembuh dan 136 meninggal.

“Di Aceh sendiri jumlah pasien yang dikonfirmasi positif Covid-19 sampai hari Rabu (8/4/2020) pukul 15.00 WIB, tidak bertambah, masih tetap 5 orang” tutur Juru Bicara Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani.

Kemudian beliau menambahkan, “Dari 5 kasus positif Covid-19 Aceh, 3 orang sudah sehat dan istirahat di rumahnya, 1 orang dalam perawatan RSUDZA Banda Aceh, dan 1 kasus lainnya meninggal dunia”. Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 1.304 kasus. Sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 58 kasus.

Berdasarkan data ini sudah seharusnya jadi pertimbangan bagi masyarakat bahwa virus ini mampu ditangani secara bersama.

Maka dari itu sudah semestinya sebagai tenaga pengajar memberikan masukan atau dorongan kepada mahasiswa, setidaknya aktivitas mereka dirumah dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

Bukankah dengan daya tahan tubuh yang kuat maka tubuh dapat menangkal penyakit-penyakit dari luar?


Lalu, kenapa tugas menjadi pilihan yang diberikan kepada mahasiswa? mahasiswa diberi tugas, makalah, artikel, dan ujian tanpa sempat untuk olahraga sekalipun, lupa makan, bahkan waktu istirahat tersita.

Seharusnya dari tenaga pengajar pun turut mengerti bahwa mereka pun perlu istirahat cukup, atau sekadar bercengkrama dengan keluarga, bukan dengan kuliah online yang semakin memberatkan mahasiswa dengan semua itu.

Pemerintah mengimbau untuk dirumah saja, tetapi mahasiswa menjawab “dirumah saja memang tidak terinfeksi Covid-19, tetapi jika terus begini mungkin kami bisa sakit jiwa”.

Bapak ibu dosen ketahuilah, 23 hari sudah mereka membatasi aktivitas dengan hanya dirumah bahkan akan berlanjut entah sampai kapan, seharusnya mereka juga diberi edukasi ataupun informasi lebih mengenai sistem “Daring”, jangan ajari mereka akan artinya “bunuh diri”.

Bahkan para orang tua sangat prihatin melihat keseharian mereka yang hanya bergelut dengan kertas-kertas bertinta dan laptop yang ditarik kesana kemari.

Sebenarnya mereka sudah sangat bosan tetapi enggan mengeluh karena sudah kewajiban mereka sebagai mahasiswa.

Ketahuilah sejak terjadinya pendemic ini pasti doa mereka hanya satu dan sudah pasti sama yaitu “semoga tidak akan pernah lagi diberlakukan system daring”, psikis dan psikologi mereka pun turut terganggu bahkan enggan menolak lupa dengan kejadian ini.

Mungkin mereka merasa seperti masuk rumah sakit jiwa jika yang dijalani seperti ini.

Semoga Indonesia terutama daerah Aceh bisa dengan cepat memutus rantai penyebaran Covid-19, sehingga segala bentuk aktivitas diluar rumah bisa kembali normal seperti semula/ karena mahasiswa memang seharusnya melakukan pembelajaran dikampus, bertatap muka dengan dosen, serta dapat berkumpul di lingkungan kampus.

Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir dari system terkutuk ini. Pesan untuk seluruh mahasiswa:

”Sehatkan jiwamu, jangan panik badai pasti ‘kan berlalu”.[]

Komentar

Loading...