Doni Monardo  & Usia di Bawah 45 Tahun

Doni Monardo  & Usia di Bawah 45 Tahun
A A A

Jakarta, acehtoday.com –Di bawah usia 45 tahun boleh bekerja di luar rumah. Kelompok usia di bawah 45 tahun atau anak muda akan dibebaskan beraktivitas di tengah pandemi Covid-19. Begitulah kira-kira pemahaman warga. tak perlu  menunggu hitungan harian, Kepala Gugus Tugas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo yang menjelaskan secara rinci itu diserang oleh netizen.  Berikut ini penjelasan Egy Massadiah anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Selasa (12/5/2020).

Statemen Doni Monardo itu ternyata sangat sederhana, dan tidak semestinya menimbulkan mispersepsi. Bahwa statemen kelompok usia 45 tahun ke bawah dipersilakan bekerja itu benar, tetapi --ini yang penting-- tetap dalam konteks PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Persis seperti kontroversi keputusan Menteri Perhubungan yang melonggarkan operasional transportasi umum. Tidak sedikit masyarakat yang langsung bereaksi negatif. Padahal, ada syarat-syarat tertentu, jenis penumpang seperti apa yang diperbolehkan bepergian menggunakan transportasi umum.

Artinya, kelompok usia di bawah 45 tahun, yang bekerja di sektor logistik, teknisi, transportasi, perlistrikan, kesehatan, dan bidang-bidang lain yang diatur dalam PSBB, memang diberi kelonggaran untuk bekerja. Artinya, tetap dalam konteks PSBB dan mematuhi ketentuan-ketentuan paling mendasar seperti rajin cuci tangan, tetap jaga jarak, dan melaksanakan prosedur sepulang dari bepergian atau bekerja.

Ihwal bentang usia, Doni juga bicara berdasar statistik. Data Gugus Tugas Covid-19 menyebutkan, risiko kematian pasien usia 60 tahun ke atas mencapai 45 persen. Angka ini diikuti kelompok usia 46-59 tahun yang risiko kematiannya 40 persen.

Kelompok usia yang rentan karena memiliki penyakit penyerta atau komorbit, antara lain hipertensi, diabetes, jantung, serta penyakit paru obstrasi kronis (PPOK) akibat merokok. Adapun kelompok muda berusia di bawah 45 tahun, lebih kuat menghadapi virus corona.

Sekilas pertanyaan itu logis. Meski kalau dicantelkan ke dalam konteks statemen Doni Monardo, justru menjadi mentah. Sebab, selama PSBB, sudah ada aturan-aturan yang harus ditaati. Lebih dari segalanya, prosedur cuci tangan, mengenakan masker, bahkan prosedur apa yang harus dilakukan sepulang kerja, harus tetap dilaksanakan. Sebab, sekali lagi, konteks kalimat Doni Monardo adalah tetap dalam konteks PSBB.

Ada pula netizen yang menyanggah dengan menyajikan data, bahwa angka korban yang terserang Covid-19 terbesar justru di kisaran usia 45 tahun. Sanggahan itu sekilas menjadi kontradiksi dengan statemen “kelompok usia di bawah 45 tahun diberi kelonggaran beraktivitas”.

Akan tetapi, setelah meneliti data Gugus Tugas Covid-19, tidak seperti itu cara membacanya. Benar, bahwa angka yang terpapar di usia produktif tadi adalah yang terbesar. Akan tetapi, data valid menyebutkan jumlah korban meninggal yang terbesar adalah di atas usia 45 tahun. Seperti yang disebutkan Doni di atas.

Sangat panjang jika harus menuang seluruh data Gugus Tugas Covid-19. Sebab, data itu memang sangat rinci. Bahkan termasuk, persentase terbesar yang meninggal, urutan pertama adalah karena sakit bawaan berupa ginjal. Urutan kedua, jantung. Dan seterusnya. Sekali lagi, persentase terbesar adalah usia di atas 45 tahun.

Sedangkan usia produktif (45 tahun ke bawah), sangat sedikit yang meninggal. Artinya, mereka kemudian menjadi sembuh. Bahkan, tanpa disadari, tidak sedikit kelompok usia muda yang terpapar, tetapi kemudian sembuh dengan sendirinya. Artinya, tidak melewati fase perawatan di rumah sakit.

Dalam ilmu psikologi, perasaan tertekan akibat wabah covid, atau stres, berpengaruh terhadap diri seseorang. Secara fisik, menjadi rentan. Secara emosional, menjadi labil. “Cenderung ‘sumbu pendek’. Belum jelas duduk soal sudah langsung nyolot.

Sementara, tidak sedikit masyarakat yang cenderung membaca berita hanya dengan membaca judul. Paling banter sampai lead. Tidak sampai selesai, apalagi sampai harus membandingkan dengan informasi sejenis di media lain. Itu di sisi pembaca media.

Komentar

Loading...