Dorong Pemuda Masuk ke Startup, Kemenristek Luncurkan Milenial Basecamp

Dorong Pemuda Masuk ke Startup, Kemenristek Luncurkan Milenial Basecamp
A A A

"Anak-anak muda itu kita dorong untuk bisa menjadi startup-startup yang memberikan nilai bangsa ke bangsa. Walaupun menambah nilai ekonominya kecil tapi setidaknya dia mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Retno.

Jakarta, acehtoday.com - Yayasan Bina Insan Gemilang Indonesia atau BIG Indonesia meluncurkan program Millenial Basecamp atau Sentra Pemberdayaan Pemuda. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pemuda-pemuda Indonesia dalam bidang startup.



Program ini berkolaborasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), BPPOM, Forum Rektor Indonesia, Asosiasi Dosen Indonesia, Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Moderen Indonesia (AP3MI), Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO), PT Kinanti Utama Karya, Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), Alphabet Incubator dan beberapa komunitas pemuda lainnya.


"Nah kita itu mengembangkan, nanti di sini nih di basecamp itu mulai anak yang punya ide mau belajar jadi startup sampai dia sudah jadi startup seperti ini kan dia tidak bisa berhenti di sini, omset dia harus bertambah, dia harus naik kelas istilah saya," kata Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristek, Retno Sumekar, di Kantor Big Indonesia Foundation, di Jalan Epicentrum Tengah, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (8/12/2019).


Retno menjelaskan singkat cara kerja program ini. Nantinya para pemuda yang tertarik ke dunia startup akan ditampung idenya dan dikembangkan, sehingga dapat masuk ke dunia ritel.


"Jadi ada yang mulai ide, kita tampung di sini, kemudian diinkubasi. Diinkubasi tuh kayak bayi gitu tuh, kalau ditaruh tabung diajarin ganti popoknya, diajarin bisnis. nah itu setelah itu di-akselerate supaya dia naik kelas. Nah untuk naik kelasnya di mana, dia bisa masuk pasar ritel dan sebagainya itu," jelas Retno.

Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristek, Retno Sumekar (Foto: Rahel Narda/detikcom)

Menurutnya target yang dituju dari adanya program ini adalah para pemuda Indonesia mulai usia 18 sampai 40 tahun. Khususnya mereka yang ingin masuk ke dunia startup.


"Pokoknya pemuda, ada mahasiswa, dia lulusan SMK, anak-anak yang tidak lulus sekolah tapi dia punya ide punya keinginan unthk menjadi startup, silakan monggo bergabung," ujar Retno.

Retno juga mengatakan secara spesifik program ini berfokus pada jenis start-up non-digital. Misalnya seperti startup yang berbasis dengan keanekaragaman hayati.



"Tujuan dari program Milenial Basecamp ini kita pengen mengangkat, sekarang ini kan orang hanya konsentrasi ke startup digital tidak memperhatikan bahwa startup itu tidak semuanya digital. Ada startup yang non digital. Ada startup yang tidak berbasis dengan prodak keragaman hayati yang ada di indonesia. Kita tuh kayak akan apa namanya sumber daya alam kan. Itu yang kita dorong startup-startup itu," terang Retno.


Menurut Retno, saat ini sudah banyak startup yang berkembang di bidang digital, namun masih sedikit startup di bidang non-digital. Dia berharap BIG Indonesia bisa menjadi wadah untuk mengembangkan startup non-digital.



"Jadi yang kali digital banyak. Tapi kalau yang nondigital seperti ini sangat sulit. Makanya saya mengharapkan BIG Indonesia menjadi salah satu akselerator untuk produk (startup) nondigital," ucap Retno.

Retno berharap adanya program ini dapat mendorong anak muda untuk masuk ke dunia startup. Menurutnya hal ini akan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi bangsa.



"Anak-anak muda itu kita dorong untuk bisa menjadi startup-startup yang memberikan nilai bangsa ke bangsa. Walaupun menambah nilai ekonominya kecil tapi setidaknya dia mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Retno.



Berikut merupakan program yang ada dalam Milenial Basecamp:



1. Sebagai sentra pelatihan, pendampingan, peningkatan kompetensi bagi para pemuda untuk mengembangkan potensi diri, produk dan inovasi serta kreativitas.


2. Sarana ekosistem dan akselerasi potensi pemuda.


3. Sebagai sarana networking dan sinergi pemuda, komunitas dan institut terkait lainnya.


4. Co-working space.


5. Sarana mentoring dalam pengembangan program secara berkelanjutan.[]

Sumber:DETIK
Hotline Covid-19

Komentar

Loading...