Duh! Rupiah Dekati Rp 14.200/US$ Lagi, Ada Apa Ini?

Duh! Rupiah Dekati Rp 14.200/US$ Lagi, Ada Apa Ini?
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan perdagangan Jumat (26/6/2020), hingga mendekati Rp 14.200/US$. Pelemahan rupiah bahkan terjadi saat sentimen pelaku pasar sedang bagus.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.100/US$. Tetapi tak lama, rupiah masuk ke zona merah dan terus terdepresiasi hingga ke Rp 14.175/US$, melemah 0,53% di pasar spot.

Dibandingkan mata uang utama Asia lainnya, selain rupiah hanya ringgit Malaysia yang juga melemah, sisanya sedang menguat.

Sentimen pelaku pasar yang membaik terlihat dari penguatan bursa saham global. Di mulai dari bursa Eropa, dan AS (Wall Street) kemarin. Penguatan Wall Street, yang merupakan kiblat bursa saham dunia, berdampak positif ke pasar Asia hari ini.

Rupiah yang biasanya menguat ketika sentimen pelaku pasar membaik, kali ini tidak menunjukkan reaksi yang sama. Mata Uang Garuda justru melemah sejak awal perdagangan.

Hasil survei 2 mingguan Reuters bisa menjadi jawaban kenapa rupiah melemah pada hari ini. Survei tersebut menunjukkan para pelaku pasar mulai "membuang" rupiah dengan mengurangi posisi beli (long) dalam 2 pekan terakhir.

Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar AS dan jual (short) terhadap rupiah, begitu juga sebaliknya.

 Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (25/6/2020) kemarin menunjukkan angka -0,05, memburuk dari rilis dua pekan sebelumnya -0,69.

Dengan angka minus yang semakin menipis menjadi -0,05, berarti investor mulai melepas posisi beli (long) rupiah setelah terus meningkat dalam satu bulan terakhir. Sehingga tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

 Menurut survei tersebut, adanya risiko penyebaran pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) menjadi penyebab investor kembali melepas aset-aset negara emerging market, termasuk Indonesia. Apalagi, menurut Reuters pelaku pasar melihat Bank Indonesia (BI) akan kembali memangkas suku bunga acuannya.

Di tahun ini, BI sudah memangkas suku bunga sebanyak 3 kali masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25%. Jika suku bunga kembali dipangkas, yield obligasi juga akan menurun, sehingga menurunkan daya tarik investasi di Indonesia.

Komentar

Loading...