Epos Mahabharata Berkulit Hitam & Putih

Epos Mahabharata Berkulit Hitam & Putih
A A A

Catatan Ringan Akhir pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com -  Epos itu cerita kepahlawanan. Epos paling dahsyat dan paling terkenal adalah kisah Mahabharata, perang yang  terjadi antara sesama wangsa Bharata, dan  berakhir justru tanpa ada pahlawan: semua pecundang.

Epos ini semestinya menjadikan Pandawa, artinya putra Pandu, sebagai pahlawan. Sementara banditnya  adalah putra-putra Kuru atau Kurawa, yang disimbolkan dengan  Duryudana dan 99 adik-adiknya.

Pandawa dan Kurawa berasal dari satu  kakek, Wicitrawirya, tapi karena  nafsu berkuasa, permusuhan mereka sampai mengarah kepada perang besar di Kurusetra. Karena perang itu,   bangsa Kuru  musnah total. Sementara wangsa Bharata yang tersisa, Pandawa, karena menyesal, memutuskan naik ke puncak Himalaya untuk moksa.

Hanya perlu diingat, ini wiracarita jadi tidak terlalu penting untuk dipastikan apakah kisah Mahabharata ini fakta sejarah atau legenda. Namun yang pasti, epos Mahabharata memang sarat dengan nilai dan ajaran agama Hindu. Sehingga bagi masyakat tertentu, kisah ini adalah sakral.

Sejauh ini, epos Mahabharata tidak tunggal.  Orang India yang senang berkelana dengan riang menafsirkan Mahabharata ke mana-mana  hingga sekarang ada 1.260 versi Mahabharatai sesuai dengan warna kulit atau wilayah tempat tinggal penafsir itu sendiri.

Secara historis, epos Mahabharata   merupakan kristalisasi tradisi lisan para pendatang belakangan  ke lembah Sindu. Pendatang yang kemudian ini, yang dikenal orang Arya, walau cekatan mengendari kuda dan sangat menghargai ternak, tapi mereka tidak segera membangun peradaban kota. orang Arya ini tinggal di pedesaan.

Justru yang memiliki tradisi kehidupan kota adalah penduduk asli yang berkulit hitam (Dravida). Penduduk asli ini dengan dukungan air Sungai Sindu, leluasa menciptakan kesuburan, membangun karya seni dan rekayasa.  Puncaknya, mereka mendirikan lebih seribu kota terpencar yang terbentang di daerah seluas sejuta kilometer persegi di lembah Sindu. Dua di antaranya diketahui secara arkeologis  sebagai  Kota Harappa dan Mohenjo Daro.

Ketika peradaban Harappa sedang merosot, sekitar sekitar 35 ribu tahun lalu, saat itulah  gelombang migrasi besar orang Arya membanjiri lembah Sindu tersebut. Pendatang baru ini rupanya telah memiliki pandangan dunia tersendiri. Pandangan dunia mereka terbentuk di bentang padang rumput yang luas dan terbuka. Tiba di lembah Sindu,  pendatang yang juga dikenal orang  Weda  ini, cepat menyesuaikan diri dengan dunia yang penuh air.

Walau orang Harappa berperadanan tinggi, tapi pendatang baru ini memonopoli teknik peleburan besi. Mereka piawai mengubah besi menjadi alat dan senjata, menunggang kuda, serta mengemudi kereta. Karena tidak punya tempat asal yang ditetapkan dalam kenangan mitos, mereka terus maju dan menyebar. Mereka bergerak ke timur, membangun desa-desa, dan bergerak lagi dan membangun desa-desa baru lagi. Hingga mereka mencapai Sungai Gangga. Di Sungai Gangga ini mereka memutuskan untuk menciptakan identitas: “kami adalah  putra ibu Gangga”.

Pendatang baru ini membawa serta  kitab suci, Weda. Para pendeta yang disebut Brahmana menhafal isi Weda dan meneruskan secara lisan. Dasar keyakinan kultur Weda ini adalah penyembahan mereka terhadap dewa-dewa nomadik: dewa angin, Guntur, matahari dan api.

Dewa-dewa pendatang baru ini semua berkulit putih karena pendatang ini  umumnya berkulit terang. Walau tradisi Weda ini memang  kemudian diterima oleh orang asli, yang mulai terdesak ke selatan, tapi penetrasinya sangat lambat. Terseok ini karena kultur Weda pada saat itu tidak mengenal ras lain, kecuali ras Arya, yang putih.

Epos Mahabrata ini dibangun untuk mendorong penetrasi Wedaisme lebih kuat. Maka dalam epos ini, perasaan orang asli perlu diakomodir, yaitu dengan menambah satu dewa baru yang berkulit hitam:  Kresna. Hanya saja, meski berkulit hitam, dewa ini agak paradoks karena ia justru menjadi pendukung sistem kasta habis-habisan.

Dalam Mahabrata, posisi Kresna  walau sangat penting, tapi  ketokohannya juga  aneh. Dianggap titisan Wisnu, sebenarnya Kresna yang menjadi prabu negara Dwakara, memiliki kesempatan untuk menghentikan perang. Tapi ia tidak melakukannya. Berlindung di balik dharma, ia justru  mendorong Pandawa  untuk maju terus memerangi para sepupunya, Kurawa.

Maka jangan heran, meski dimaksudkan untuk mengakomodir orang asli yang kini terkonsetrasi di selatan India, tapi justru Kresna tidak begitu di hormati di wilayah ini. Ia dimusuhi.

Kita ketahui, dari ribuan versi Mahabharata di atas, orang bisa memilah  Mahabharata dalam dua arus utama yaitu Mahabharata perspektif India selatan (kulit hitam) dan Mahabharata India utara (berkulit putih).

Dalam perspektik  India utara, Kresna sangat dipuja dan Pandawa benar-benar pahlawan. Tapi dalam versi selatan, Kresna cenderung dikritik dan Pandawa adalah tokoh-tokoh membingungkan.  Bahkan, ada versi India selatan yang memuja Kurawa sebagai pahlawan karena Duryudana berani mendobrak kemapanan dengan menolak sistem kasta.

Orang selatan tidak melihat Kurawa sebagai penyulut perang. Tapi penyebab perang jatuh di bahu  dua tokoh itu: Arjuna dan Kresna. Arjuna adalah ahli taktik dan strategi, yang memiliki kemampuan berpikir detail. Hingga para saudaranya, Yudistira, Bhima, Sakula dan Sadewa, menyerahkan soal perang ini sepenuhnya kepadanya. Kresna, yang terikat sumpah tidak akan memegang senjata di medan perang Kurusetra, pemompa semangat perang perang kepada Arjuna.

Pada suatu momen di Kurusetra, Arjuna sempat melorot semangatnya tatkala melihat dua orang yang sangat menyintainya, kakeknya Bisma dan gurunya Dorna. Kurawa juga saudaranya.  Ia mengeluh, dan mempertanyakan gerangan dosanya. “Mereka semua adalah keluargaku”, katanya, terduduk lesu, seraya melempar busur.

Kresna yang waswas, berbalik. “Arjuna!,” ia berteriak. “Engkau jangan bertingkah layaknya perempuan! Kau tertipu oleh rasa welas asih palsu. Kau mengundang kehinaan dalam hidupmu. Keturunan mendatang akan menyebutmu sebagai pengecut karena lari dari medan perang!”. Ketika Arjuna masih ragu, Kresna mem-by pass dengan pengakuan  yang menggelegar  bahwa ia adalah awal dan akhir kala. “Aku adalah hakekat ilahi yang tertinggi. Lakukan semua tindakanmu sebagai wujud penyembahan kepadaku.”  Antara yakin dan tidak, akhirnya  Arjuna meraih sangkala kerang, dan meniupnya, menandai awal perang.

Perang itu berlanagsung sangat dahsyat selama 18 hari. Walau pun perang itu pertikaian antara dua keluarga dalam satu wangsa, tapi juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Di akhir perang, menurut Kakawin Bharata Yudha, karya Empu Sendah dan Empu Panuluh, 9.539.050 jiwa meregang nyawa. Itu belum termasuk panglima perang, dan korban yang berwujud binatang seperti kuda, gajah dan sebagainya.

Memang semua anggota Pandawa selamat. Tapi semua putra-putra mereka tewas di medan perang. Sementara dari pihak Kurawa semua musnah. Destarata yang sangat sedih dengan kematian semua putra-putranya, pamit masuk hitan Bersama istrinya, Madrim, dan diiikuti ibu Pandawa, Kunti. Nasip naas terjadi, hutan terbakar dan ketiganya ikut terbakar.

 Abangnya, Balarama adalah pengecam pedas Kresna juga karena posisinya yang  pro perang dan pro kasta. Kecaman Balarama itu sempat membuat Kresna sedikit terganggu. “Perang itu menjadi kebutuhan. Karena kalau kita biarkan  Duryudana berkuasa, kasta-kasta akan bercampur baur.”

“Apakah itu salah?” sergah Balarama.

Dua kakak beradik ini sering sekali berdebat baik secara terbuka atau hanya ketika berdua. Kresna sangat membela Pandawa, sementara Balarama menjadi pendukung Kurawa. Karena sikap abangnya ini, bangsa Yadawa  terbagi dua dalam  perang besar itu. Separuh mendukung Kresna, separuh lagi yang dipimpin Kritawarna memihak Kurawa. Kresna tidak bisa protes karena Kritawarna mendapat restu Balarama.

Kendati perang di Kurusetra  selesai, permusuhan internal bangsa Yadawa tidak padam. Permusuhan ini  mencuat kembali dengan dahsyat beberapa tahun kemudian, yang berakhir dengan peristiwa saling bunuh sesama bangsa Yadawa sendiri hingga mereka tumpas semua.   Balarama yang sedih karena peristiwa saling bunuh ini, pergi menyepi ke hutan, dan meninggal di sana karena tidak mau makan dan minum.

Sementara Kresna yang juga sangat terpukul, akhirnya mengasingkan diri  ke hutan pula. Dalam kondisi sedih dan putus asa, titisan Wisnu ini merebahkan diri di bawah sebatang pohon. Saat itu pula datang seorang pemburu, Jaras namanya, yang mengira Kresna itu adalah seekor kijang. Ia membidik, dan anak panah dengan tepat mengenai badan dan leher Kresna. Kresna pun menghembuskan napasnya yang terakhir.

Tiga hari kemudian, gelombang laut naik menerpa negera kaum Yadawa, Dwaraka. Setelah diamuk air dahsyat selama satu hari satu malam, Dwaraka hilang tertelan samudera. Itulah nasib tragis penentu dharma ini, bukan hanya ia yang mati tapi bangsa dan negaranya pun musnah tanpa bekas ditelan samudera.

Pejaten Barat, 7 Juni 2020

Komentar

Loading...