Ibnu Salman di Negeri Ibnu Saud (1/2)

Ibnu Salman di Negeri Ibnu Saud (1/2)Internet
Ibnu Salman  
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com -  Ibnu Salman  jika tidak tertimpa nasib sangat jelek, misalnya ketiban bom Iran di atas kepalanya, dipastikan bakal segera jadi raja di negaranya, Arab Saudi. Hanya yang membingungkan orang,  otaknya yang ada secercah pembaruan itu kenapa harus diisi pula dengan hobi menyekap paman-pamannya dan membunuh wartawan?

Ratusan anggota keluarganya sendiri, yang semuanya bertitel pangeran, ditangkap dan  disekap tanpa ampun. Kebanyakan, walau saat itu belum ada covid-19, sudah di-lockdown di hotel mewah Ritz-Carlton, atau ada juga yang dijebloskan ke penjara. Sebagian ada yang sudah dibebaskan, sebagian lagi masih merintih-rintih minta diampuni. Sepupunya,  Putri Basmah, menangis siang dan malam minta dibebaskan. Selain disekap sudah berbulan-bulan, ia juga dalam kondisi sakit. 

Penangkapan demi penangkapan tersebut, bagian kontroversi pangeran muda ini. Kontroversi lain, ia ogah menghentikan perang untuk memburu orang Syiah di Yaman. Petualangan sang pangeran di Yaman berkahir setelah Taheran mengirim sebuah rudal yang ditembakkan dari Irak ke sebuah lokasi sumur minyak dekat Riyadh. Ibnu Salman terkejut bukan kepalang, yang artinya, jika Taheran mau maka ibu kota Arab Saudi pun bisa rata dengan tanah hanya dengan mengirim jenis rudal yang lebih besar dan lebih banyak sedikit. Ia buru-buru menyetop perang Yaman. Penyetopan yang terlambat setelah negeri asal-muasal para habaib di nusantara ini hancur berantakan akibat ulahnya.

Kelakuan sang pangeran yang  berbau politik   padang pasir ini, bertolak belakang dengan sejumlah pembaruan di bidang lain. Sang pangeran yang mengecap pendidikan di Amerika dan Eropa ini, telah melonggarkan sedikit ortodoksi Wahabisme yang mencekik itu. Pangeran yang memerintah Arab Saudi atas nama ayahnya yang sakit-sakitan karena uzur itu, menyetujui para perempuan untuk tampil di depan umum dengan mengendarai mobil sendiri. Hiburan seperti pagelaran musik terbuka serta bioskop sudah mulai diperkenankan. 

Secara historis, apa yang disebut al-Saud itu mengacu kepada dua tokoh ternama di pasang pasir itu: ada Muhammad bin Saud (w. 1765), dan ada Abdul Aziz bin Abadurrahma al Saud (w. 1953). Yang pertama pendiri sebuah keemiran dengan pusat di Dir'iyah, Emirat Nejad; dan yang terakhir pendiri kerajaan hasil gabungan keemiran Nejad dan Hejaz  di tanah Arabia tengah yang luas bukan kepalang itu. Orang kedua itu keturunan yang pertama.

Al-Saud awal itu adalah seorang pemimpin kabilah yang berpengaruh dan kemudian mendirikan sebuah keemiran  di Dir'iyah.  Semasa Ibnu Saud inilah ia didatangi Syiekh Muhammad bin Abdul Wahab yang meminta perlindungannya.  Hasilnya, dalam berpolitik al Saud akan menggunakan Islam dengan tabiat seperti yang diajarkan Syeikh Abdul Wahab ini.  Sementara Abdul Wahab dan cicit-cicitnya kelak, akan terus mendukung keluarga al Saud untuk memerintah. 

Sepeninggal Ibnu Saud ini, kepemimpin di Dir'iyah jatuh ketangan anaknya, Abdulaziz. Abdulaziz ini adalah tipe pemimpin yang kuat dan berapi-api.  Semasanya, pada 1802, ia memimpin 10.000 bala tentaranya menyerbu Karbala. Di kota kecil ini, ia membatai 2000 orang. Perempuan dan anak-anak yang tidak tahu perang, juga tidak paham  Wahabi, dibasmi semua  bersama kambing-kambing mereka. 

Perilaku ganas pasukan Wahabi yang dipimpin Abdul Aziz ini membuat khawatir Turki Usmani di Istanbul dan menganggapnya sebagai ancaman. Pada 1814, putra pendiri Keemiran Dir'iyah ini  disergab sekelompok anggota kabilah lain di suatu tempat, kepalanya di kemplang hingga  terjungkal dari kudanya. Tak lama, ia pun pun pamit  menyusul perempaun dan anak-anak Karbala ke  alam baka.

Abdulaziz digantikan anaknya, Saud yang meninggal tidak beberapa lama, dan Saud digantikan oleh Abdullah bin Saud. Abdullah ini nyaris tidk bisa bernafas akibat ulah kakeknya semasa hidup. Khilafah Usmani yang khawatir kepada keemiran model Wahabi ini, mengirimkan pasukan gabungan:  Mesir sebelah Barat, Istambul sebelah timur. Abdullah dan tentaranya dihancurkan tentara Usmani ini dalam perang Usmani-Wahabi tersebut. Abdullah ditangkap dibawa ke Istanbul dan dipancung di sana.  Dir'iyah, sebagai ibukota Saudi jilid pertama dibumihanguskan pada 1818. Dan, ekspansi Wahabi pun terhenti.

 Beberapa tahun kemudian,  Keemiran  Nejad jilid kedua muncul lagi. Cucu Abdullah, Faisal bin Turki berhasil membangun kembali Keemiran Nejad ini, yang kini berpusat di Riyadh. Tapi manakala anaknya, Abdurrahman berkuasa, ia harus menghadapi otoritas lain yang kuat  di Na'il,  Abdul Rasyid. Dalam perang Mulayda, Abdurrhaman kalah dan ia dan keluarganya melarikan  ke padang pasir tak bertepi.  Hingga suatu ketika, Abdurrahman ditampung oleh temannya Mubarak al-Sabah,  Emir Kuwait.

Pejaten Barat, 17 Mei 202

Komentar

Loading...