Ibnu Salman di Negeri Ibnu Saud (2/2)

Ibnu Salman di Negeri Ibnu Saud (2/2)
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

 Jakarta, acehtoday.com -  Di Kuwait inilah segala sesuatu berubah. Anak Abdurahman, Abdul Aziz mulai besar. Berpostur tinggi besar, gagah dan cerdas, Abdul Aziz ini mulai melakukan konsolidasi kekuatan dengan mengumpulkan semua  pengikut ayahnya. Pada tahun 1902, dalam usianya 27 tahun, Abdul Aziz bin Abdurrahman ini melancarkan serangan mendadak  ke Riyadh, dan dalam beberapa hari Riyadh lepas dari tangan banu Rashidi. Banu Saud kembali memimpin Keemiran Nejad, dengan emirnya tidak lain anak muda berusia 27 tahun itu.  Sejak saat itu ia dikenal sebagai "Ibnu Saud", meski di dunia Arab tetap dipanggil "Abdul Aziz".

Kredo Wahabi digalakkan kembali semasa Ibnu Saud jilid ketiga ini. Karena kredo, selain menghadapi kaum Rashidi di Na'il, Ibnu Saud ini juga membuka front dengan Syarif Hussein bin Ali keturunan banu Hasyim dari Mekkah. Bagi Ibnu Saud yang wahabi, Syarif Husein ini tidak lebih dari manusia antik penjaga bid'ah, bukan penjaga Mekkah. Di bawah Syarif ini, Mekkah menjadi tempat kotor dari berbagai mazhab. Baginya,  seperti diajarkan Abdul Wahab, mazhab-mazhab itu tidak penting, kecuali Hanbali.

Dengan bersekutu dengan Inggris, al Saud menghancurkan kekuatan  Rashidi untuk selamanya pada 1921, berlanjut dengan menyerbu Hijaz dengan menyingkirkan Syarif Hussein pada 1926. Dengan demikian  ketururan al Saud Dir'iyah ini, menjadi penguasa satu-satunya yang taktertandingi di Arabia tengah. Pada tahun 1932, Ibnu Saud mengumumkan Nejad dan Hijaz bersatu dalam sebuah kerajaan: Arab Saudi.

Abdul Aziz inilah yang meletakkan prinsip-prinsip bernegara a la Al-Saud.  Dia juga yang menggagas suksesi model  al-Saud yang sederhana. Jika ia meninggal, penggantinya adalah anaknya yang satu kepada anaknya yang lain.  Menyusul meninggal Abdul Aziz, yang naik tahta adalah anaknya yang sulung, Saud bin Abdul Aziz.

Seperti ayahnya, ia juga mempunyai banyak sekali anak dari banyak isteri. Tapi Raja Saud ini tidak bisa melanjutkan tahtanya karena dijatuhkan di tengah jalan melalui suatu intrik keluarga yang canggih. Saud ini gemar memberikan posisi penting kepada-anaknya yang sepasukan tersebut. Tindakan Saud ini membuat adik-adiknya tidak puas.

Faisal, pangeran terlihai di antara pengeran-pangeran lain, menjadi otaknya.  Karena ibunya dari banu al Ash Syeikh keturunan pendiri wahabi, Faisal sukses bersekutu dengan para ulama untuk urusan  politik al Saud. Gabungan para pangeran  dan  para ulama, Saud terjungkal dari tahta. Faisal dengan mulus dilantik jadi raja Arab Saudi yang ketiga pada 1963.

Raja Faisal tewas terbunuh di tangan keponakan sendiri pada  1975. Ia digantikan adiknya, Khalid bin Abdul Aziz, yang meninggal karena serangan jantung pada 1982. Raja Khalid digantikan oleh Fahd, putra tertua dari "Tujuh Sudairi" yang terkenal. Ibnu Fahd, Hassa, berasal dari banu al-Sudairi yang sangat berpengaruh.  Raja Fahd terkena serangan jantung pada 1995. Karena masalah fisik ini, tugas sehari-hari dilaksanakan oleh adiknya, Putra Mahkota Abdullah, yang ibunya berasal dari banu Rashidi, musuh al Saud di masa Keemiran Nejad dulu.

Abdullah segera mendeklarasi dirinya sebagai raja ketika Raja Fahd meninggal pada 2005. Ia segera megangkat adiknya sesama Rashidi, Pangeran Nayef sebagai putra mahkota yang baru. Tapi Nayef meninggal pada 2011, dan Pangeran Salman diajukan oleh Komite Para Pengeran al Saud menjadi putra mahkota.  Abdullah meninggal pada 23 Januari 2015, dan putra mahkota yang terakhir itu segera jadi raja Arab Saudi sekarang

Menurut konstitusi Arab Saudi, yang menjadi pimpinan banu al-Saud, akan menjadi kepala negara dan raja kerajaan tersebut. Raja Arab Saudi yang teokratis ini bersifat  absolut. Kementerian kunci seperti kementerian dalam negeri, luar negeri dan pertahanan akan dijabat oleh keluarga al Saud. Demikian juga posisi sebagai Panglima Pengawal Nasional, dan 13 gubernur utama. Kementerian-kementerian lain seperti keuangan, perencanaan, perminyakan akan diberikan kepada orang biasa. Tapi para wakilnya umumnya adalah al-Saud al-Saud yunior yang sedang belajar.

Ada beberapa raja yang tetap memegang jabatan semula meski telah menjadi raja atau putra mahkota. Raja Faisal, yang sebelum jadi raja adalah menlu, dan tetap menjadi menlu hingga mangkat pada 1975. Raja Abdullah yang telah menjadi panglima keamanan nasional dari awal, tetap menjadi panglima urusan itu hingga meninggal sebagai raja. Demikian juga juga Pangeran Sultan  tetap memegang posisi Menhan setelah menjadi putra mahkota hingga meninggal pada 2011.

Dengan tetap memegang posisi itu, mereka dapat mengangakat anaknya sebagai asisten, yang berarti itu jabatan sangat senior. Misalnya, Raja Abdullah mengangkat anaknya sebagai asisten panglima kemanan nasiobal. Pangeran Sultan megangkat anaknya, Khalid, sebagai asisten menhan. Sementara pengeran Nayef mengangkat anaknya sebagai asisten mendagri.

Posisi-posisi senior ini sangat powerful dan memiliki akses yang tak terbatas kepada anggaran. Jadi jangan heran, keturanan Abdullah dan Sultan sangat kaya. Keturunan mereka ini selain secara pribadi sangat kaya, secara keluarga juga -- karena membentuk yayasan --  menguasai uang sangat besar.  Saudara-saudara Rashidi, termasuk Putri Basma di atas, memimpin  yayasan dengan penguasaan  uang hingga ratusan miliaran dolar. Hingga tidak heran jika keluarga Abdullah bersaudara, dan Sultan bersaudara sangat powerful karena kekayaan mereka.

Ibnu Salman, yang lihai setelah bergaul dengan menantu Trump, Jared Kushner yang Yahudi, menyadari ancaman ini. Maka anggota-anggota keluarga inilah yang jadi sasaran utama  "lockdown" atas. Setelah disekap, Ibnu Salman  memeras semua isi kantong mereka hingga tak tersisa. Keturunan-keturunan Abdullah  dan Sultan,  kini tak ubah seperti  cacing karena lemah tak bertulang lagi. Dalam Komite Para Pangeran, yang menentukan terpilihnya raja, keluarga Abdullah hilang sama sekali.

Pertarungan belum usai karena raja belum terpilih. Selain itu Ibnu Salman juga butuh banyak uang, lantaran pemasukan di sektor minyak dan haji musnah karena covid-19.  Satu-satunya cara, para pengeran yang menyimpan uang di mana-mana dan bejibun itu, pasti menjadi sasaran Ibnu Salman terus-menerus.

Pejaten Barat, 17 Mei 202

           

             

             

             

           

           

           

             

Komentar

Loading...