IMF: Resesi akan lebih dalam. IHSG Merah padam

IMF: Resesi akan lebih dalam. IHSG Merah padam
A A A

Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap perekonomian dunia akibat pandemi Covid-19 dan memproyeksikan resesi yang lebih dalam daripada yang sebelumnya.

Jakarta, acehtoday.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu kemarin (24/6/20) ditutup terbang 1,75% ke level 4.964,73.

Data perdagangan mencatat, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 11 miliar di pasar reguler. Tercatat nilai transaksi menyentuh Rp 9,7 triliun.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut sentimen negatif datang dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap perekonomian dunia akibat pandemi Covid-19 dan memproyeksikan resesi yang lebih dalam daripada yang sebelumnya.

Lembaga ini mengatakan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami penurunan pada tahun ini menjadi 4,9%, di mana angka tersebut lebih rendah 3% dari yang diproyeksikan pada bulan April lalu.

Untuk tahun 2021, IMF melihat pertumbuhan hanya akan berkisar 5,4% turun dari sebelumnya yaitu 5,8%.

Dalam outlook atau ramalan dengan judul A Crisis Like No Other, An Uncertain Recovery, IMF memangkas perkiraan ekonominya pada Rabu (24/6/2020). Ekonomi global diproyeksi akan -4,9%. Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase dibanding outlook IMF pada April 2020, yakni -3%.

"Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang negatif pada paruh pertama 2020 daripada yang diperkirakan," tulis lembaga itu, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2020).

Secara terperinci, negara maju akan mengalami kontraksi 8% di 2020, meski tumbuh 4,8% di 2021. Amerika Serikat akan berkontraksi 8% sedangkan Zona Eropa kontraksi 10,2%.

Ekonomi negara berkembang secara general akan minus 3%, dan akan positif kembali 5,9% di 2021. Di mana China di 2020, tetap tumbuh 1%. Namun kawasan Asia lain mencatat kontraksi, seperti India -4,5% dan ASEAN-5 -2%. Khusus di RI, ekonomi di 2020 -0,3%.

Sementara itu, sentimen lain datang ketika Amerika Serikat tengah mempertimbangkan tarif baru sebesar US$ 3,1 miliar terhadap ekspor yang berasal dari Perancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris.

Presiden AS Doland Trump ingin mengenakan tarif baru terhadap barang barang yang diekspor dari Eropa seperti zaitun, bir, gin, dan truk sembari meningkatkan bea masuk terhadap produk produk pesawat terbang, keju, dan yoghurt.

Sekuritas ini menilai dengan adanya perang perdagangan antara Amerika dan Uni Eropa dan Inggris, ditambah lagi dengan adanya ramalan yang kurang baik dari IMF, hal ini tentu akan memberikan impact kepada pasar hari ini.

Meski demikian, Artha Sekuritas menyebutkan sentimen positif dari adanya suntikan dana Rp 30 triliun untuk bank pemerintah sebagai bantuan untuk menjaga likuiditas perbankan.

Kemarin, Kementerian Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 70/PMK.05/2020 tentang Penempatan Uang Negara pada Bank Umum Dalam Rangka Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Melalui aturan ini, empat Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himbara resmi mendapatkan kepercayaan penempatan dana dari pemerintah sebesar Rp 30 triliun sejalan dengan terbitnya aturan baru dari Menteri Keuangan Sri Mulyani berkaitan dengan bantuan likuiditas perbankan.

Dari segi teknikal, Panin Sekuritas menyebut HSG belum merubah indikasi melemah yang terlihat dari indikator MACD, penguatan kemarin masih dengan net sell asing namun dengan jumlah yang kecil.

Berarti optimisme pasar masih akan terjaga dan IHSG berpotensi menguji resistance (batas atas) 5.000. Hari ini IHSG berpotensi bergerak mixed cenderung melemah dalam kisaran support (batas bawah) 4.884 dan resisten di 5.026.[]

Komentar

Loading...