India Boikot Sawit Malaysia, RI Dapat Berkahnya?

India Boikot Sawit Malaysia, RI Dapat Berkahnya?
CNBC Indonesia/Aristya Rahadian Krisabella
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Hubungan India dan Malaysia yang memanas diwarnai dengan aksi boikot produk minyak sawit Negeri Jiran oleh Negeri Bollywood. Kala minyak sawit negeri tetangga dilarang masuk ke India, ini bisa menjadi berkah buat Indonesia.



Hubungan India dan Malaysia sedang memanas. India tak senang dengan kritikan yang dilontarkan oleh Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad pada Oktober dan Desember lalu.



Pada Oktober, PM Negeri Jiran mengatakan India telah menginvasi dan menduduki Kashmir. Sementara pada Desember lalu, PM Mahathir embali mengkritisi UU Kewarganegaraan India yang dinilai anti-Islam.

Sumber : Refinitiv


Kritikan itu berbuntut panjang dan berujung pada aksi boikot minyak sawit Malaysia. Minggu lalu pemerintah India memutuskan untuk melarang impor minyak sawit olahan (refined) dan secara informal pemerintah juga melarang impor CPO dari Malaysia.


PM Malaysia tak gentar aksi boikot tersebut. Ia bahkan mengatakan akan terus menyuarakan kebenaran dan melawan hal yang dianggapnya salah walau membawa konsekuensi negatif untuk Malaysia, melansir Reuters.


Sejak kritik dilayangkan oleh PM Malaysia, ekspor minyak sawit Malaysia ke India langsung anjlok signifikan. Pada Oktober 2019 ekspor minyak sawit Malaysia ke India di bawah 200.000 ton dan merupakan yang terendah sejak Januari. Bulan-bulan selanjutnya ekspor minyak sawit Malaysia tak beranjak dari kisaran tersebut dan masih di bawah 200.000 ton.

Sumber : Refinitiv

Kalau dicermati sebenarnya saat ekspor minyak sawit Malaysia ke India turun, tampak bahwa ekspor Indonesia ke India naik. Artinya India beralih membeli minyak sawit dari Indonesia. Boikot minyak sawit Malaysia oleh India tentu jadi berkah untuk Indonesia, mengapa?



Pertama, India dengan populasi lebih dari 1,3 miliar jiwa membuat kebutuhan minyak nabati terutama untuk konsumsi sangatlah besar. Negara terpadat kedua di dunia ini merupakan pembeli terbesar minyak sawit.


Tiap tahunnya impor minyak sawit India mencapai dua per tiga dari total impor minyak nabati negara itu. Kalau dikalkulasi, India mengimpor minyak sawit sebanyak 9 juta ton tiap tahunnya dari pemasok terbesar di dunia yaitu Indonesia dan Malaysia.


Artinya, ukuran pasar minyak nabati terutama di India tergolong sangat besar. Apalagi dengan terus bertumbuhnya populasi India, kebutuhan akan minyak nabati negara itu diperkirakan tumbuh 3-3,5% tiap tahunnya. Ukuran yang besar dan pertumbuhan itu membuat pasar India sangatlah menarik.



Kedua, India tak punya pilihan lain untuk mencukupi kebutuhan minyak nabati domestiknya kecuali membeli dari Indonesia. Alasannya ada dua. Pertama minyak sawit memiliki harga yang lebih miring dibanding jenis minyak nabati jenis lain.

Menurut data Indexmundi, harga CPO per metrik ton dipatok di US$ 683,4 pada November 2019. Sementara minyak nabati substitusinya yaitu minyak kedelai dihargai di US$ 774,9/metrik ton. Kala India sedang dirundung kesusahan ekonominya seperti saat ini, harga CPO yang lebih murah menjadi lebih menarik untuk dibeli.

Alasan kedua apalagi kalau bukan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama Malaysia, RI menyumbang kurang lebih 80% total produksi minyak sawit global.



Menurut riset Refinitiv, untuk periode 2018/2019 saja Indonesia memproduksi 46,3 juta ton minyak sawit. Tetangganya yaitu Malaysia di saat yang sama memproduksi 20,9 juta ton. Sementara Thailand di posisi ketiga hanya memproduksi 3,1 juta ton saja pada periode tersebut.



Dua alasan tadi menunjukkan bahwa RI akan ketiban berkah dari aksi boikot ini. Pada 2018 saja total ekspor minyak sawit RI ke India mencapai US$ 3,6 miliar. Sementara total ekspor minyak sawit RI ke pasar gloval mencapai US$ 16,5 miliar. Artinya pangsa ekspor minyak sawit RI ke India menyumbang 22% dari total pangsa ekspor global RI. Dengan aksi boikot sawit Malaysia yang dilakukan India, ekspor minyak sawit RI ke India berpotensi naik.[]

Sumber:CNBC

Komentar

Loading...