Jadi Guru Dadakan di Covid-19, Mengapa Takut?

Jadi Guru Dadakan di Covid-19, Mengapa Takut?
A A A

Oleh Zarkasyi Yusuf [ASN di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh]

banda Aceh, acehtoday.com - Kondisi Lock down mengantarkan saya berbagi kisah menjalani hari-hari di rumah menemani dua aneuk dara (gadis) yang belajar di rumah karena pembelajaran di sekolah diliburkan sebagai dampak dari Covid-19.

Anak  belajar di rumah, pasti orangtuanya dituntut untuk dapat berkreasi mencari metode pembelajaran yang cocok. Itulah yang harus saya dan istri jalani di rumah menemani belajar mereka. Kami “berijtihad” mencari metode tepat mendukung pembelajaran mereka. Saya masih ingat kaidah penting dalam pendidikan at thariqah ahammu min al maddah”, bahwa metode pembelajaran itu lebih penting daripada pelajaran itu sendiri.

Metode pembelajaran untuk anak-anak beragama, apalagi didukung dengan kecanggihan dan perkembangan zaman. Perbedaan dalam metode pendidikan disebabkan karena perbedaan karakter anak-anak, demikian dijelaskan Ibnu Khaldun (732-808 H) di kitab Mukaddimah.

Ibnu Khaldun lebih rinci memberikan pemetaan tentang penerapan metode pendidikan anak yang diterpakan oleh masyarakat Islam dipelbagai wilayah. Menurutnya, masyarakat Magribi dan Barbar lebih suka mengajarkan al-Quran, ditambah selingan pelajaran menulis tanpa mencampurkan dengan pelajaran yang lain.  

Masyarakat Andalusia mengajarkan al-Quran dan kitab kepada anak-anak.  Mereka memberikan perhatian pada semua pelajaran. Orang Afrika mengajarkan al-Quran kepada anak-anak disertai hadist dan kaidah kaidah ilmu serta permasalahannya.

Mereka lebih fokus memberikan perhatian kepada belajar al-Quran dan ragam perbedaan bacaannya dibandingkan dengan belajar ilmu-ilmu lainnya.

Lain halnya dengan orang Timur yang mencampuradukkan pendidikan, perhatian dalam mempelajari al-Quran, keilmuan dan dasar-dasarnya dilakukan pada saat dewasa.

Proses pembelajaran di sekolah diliburkan, saya menjalani peran sebagai guru untuk dua anak yang berbeda usia, 8 tahun dan 6 tahun, satu murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas dua dan satunya lagi warga belajar pada Raudhatul Athfal (RA).

Meskipun punya pengalaman mengajar di dayah dan madrasah, mengajarkan anak sendiri dengan materi pelajaran yang baru tentu memiliki kesulitan tersendiri, apalagi menghadapi dua gadis kecil berbeda usia dan  berbeda karakter.  

Bermain, itulah salah satu kesukaan mereka. Itulah salah satu kesulitan yang kami rasakan, kami harus mengendalikan setiap permainan mereka menjadi metode untuk belajar, mengubah bermain menjadi belajar.

Anak saya di RA lebih suka memasak, sebab central cooking menjadi metode yang menarik baginya, hampir saban hari setiap jam 10.00 pagi pasti ada agenda masak-memasak.

Suatu hari kami memasak apam (serabi), makanan khas yang dimasak oleh sebahagian masyarakat Aceh pada Rajab atau dikenal dengan buleun apam. lahir dan dibesarkan di Pidie, saya paham membuat apam, paling tidak hapal bahan-bahan untuk memasaknya. Ketika menyiapkan apam, aneuk dara yang pertama bertanya dari mana asal mula khanduri apam pada bulan Rajab.

Saya jelaskan dengan bekal pengetahuan yang sama miliki. Kesulitan lain yang kami hadapi adalah rasa bosan mereka, rasa bosan pada anak-anak adalah sesuatu yang lumrah.

Kami harus mampu menjembatani rasa bosan dengan sesuatu yang lebih menarik bagi mereka sehingga mereka tetap fokus untuk belajar, apalagi saat belajar menghafal.

Inilah pengalaman kami, saya yakin masih banyak kisah menarik dari para orang tua lain yang menunjukkan beragamanya karakter anak-anak kita, sehingga membuat kita harus menggunakan metode pembelajaran yang beragam pula.

Mungkin inilah salah satu hikmahnya, orangtua harus merasakan sensasi menjadi guru sekolah, apalagi dengan berbagai bahan pekerjaan rumah yang dibebankan oleh guru yang dikendalikan dengan sistem pembelajaran dalam jaringan baik menggunakan fasilitas sosial media maupun aplikasi lain yang mendukung pembelajaran.

Ada tiga pendidikan penting dan utama yang harus diajarkan oleh orangtua kepada anak-anak.

Pertama, pendidikan tentang shalat lima waktu. Tugas berat orangtua memberikan keteladanan kepada anak-anaknya untuk melaksanakan dan menjaga shalat sehari semalam lima waktu. Tidak bisa dibayangkan andai masih ada orangtua yang mengabaikan shalat, bagaimana dengan anak-anaknya?

Kedua, pendidikan adab. Ada terasa begitu sangat penting di zaman hedonisme dengan sikap individualisme yang sering ditonjolkan. Dulu, orangtua memperkenalkan kepada sanak saudaranya, diajarkan anak-anak sebutan yang layak, diajarkan siapa yang berhak dipanggil abua, miwan, apa, polem, cuda, abusyik dan sebutan lainnya yang menujukkan pengajaran adab bagi seorang anak.

Habib Umar bin Hafidh dalam ceramahnya menyebutkan bahwa jika orang tua mengabaikan pendidikan shalat dan adab bagi anaknya, maka petaka besar akan melanda kehidupan ini.

 Ketiga, mengajarkan mereka untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. Metode sederhana dalam mendekatkan mereka dengan Nabi adalah dengan mengisi waktu luang mereka dengan bercerita kisah kisah Nabi, terutama bagaimana tingginya akhlak mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.

Terkait pendidikan anak, orangtua tidak hanya dituntut untuk mampu mentransfer pengetahuan yang dimilikinya kepada anak-anaknya, tetapi orang dituntut untuk menjadi tauladan kebaikan bagi anak-anaknya.

Pepatah bijak berpesan “buah pasti jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Dalam hadih maja diingatkan “meunyoe tatuoh peulaku, boh labu jeut keu asoe kaya. Meunyoe hana tatuoh peulaku, aneuk Teungku jeut keu beulaga” (jika kita mampu mengolahnya labu menjadi sri kaya. Jika tidak mampu mendidik, anak orang baik baik pun akan menjadi jahat).

Mengakhiri catatan sederhana ini, mari selipkan setiap doa agar wabah yang sedang terjadi segera dicabut oleh Allah. Tidak hanya itu, sebagai orang tua kita harus mampu memberikan edukasi dan teladan kepada anak-anak kita bagaimana hidup sehat, mencuci tangan dengan benar dan menggunakan masker saat keluar rumah.

Jangan lupa bahwa anak adalah amanah Allah yang titipkan kepada kita, orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Sudah barang pasti, tanggung jawab tersebut akan diaudit oleh Allah di akhirat kelak. Kita semua punya keinginan yang sama, keinginan agar anak-anak kita sukses menatap masa depan mereka, berjaya menjalani kehidupan dunia serta menjadi penghuni syurga di hari akhirat kelak.  Amiin.[]

Komentar

Loading...