Karena Monotheis, Yazidi Sembah Setan (2/2)

Karena Monotheis, Yazidi Sembah Setan (2/2)
A A A

kepala Nabi Muhammad tersayat dan berdarah. Khawatir darah tersebut jatuh ke tanah, Muawiyah menjilatnya,

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com  -  Kaum Yazidi percaya kepada tuhan yang esa, Xwede, Tuhan abadi yang menciptakan alam semesta beserta makhluk- makhluknya. Menurut sistem kepercayaan Yazidi, Xwede memperlihatkan diri sebagai tritunggal (trinitas) suci dalam bentuk berbeda: Tawusi Malik, Sultan Ezi, dan Syeikh 'Adi (w. 1162).

Soal Tawusi Malik atau Malaikat Burung Merak ini, ada perkara lain yang lebih penting. Allah telah mendelagasikan semua kekuasaan dunia kepada tujuh malaikat. Malaikat Burung Merak inilah yang memimpin para malaikat tersebut.  Mereka diserahi tanggung jawab untuk masalah-masalah kemanusiaan dan keduniawian.

Dalam keyakinan kaum Yazidi, malaikat ini menjadi mediator antara Allah dan rakyat Yazidi. Dia berhubungan langsung dengan Allah dan itu bukan dalam bentuk oposisi tapi sebagai suatu entitas independen. Pada saat bersamaan, Tawusi Malik ini menjadi alter ego Xwede yang menjadi sama, bersatu tak dipisahkan. Ia merupakan manifestasi dari maha pencipta, tapi bukan maha pencipta itu sendiri.

Xwede pernah hadir dalam bentuk Syeikh 'Adi dan Sultan Ezi. Siapa mereka? Syeikh 'Adi (w. 1162) adalah ulama besar yang berkencenderungan sufisitik kuat.  Ia lahir di Bait Far, Baalbek, Libanon, keturunan suku Qauraisy.

Nama lengkapnya Adi bin Musafir bin Ismail bin Mawan bin al Hakim.  Selama  belajar di Baghdad, ia banyak berhubungan dan mengetahui sufi dari wilayah Kurdi,  seperti Uqail al-Manbiji dan Abu'l Wafa al-Hulwani.  Pemikirannya sangat dipengaruhi gagasan-gagasan para sufi seperti al-Ghazali, al-Jalani, Hasan Basri, al-Hallaj, Qadib al-Ban dan Fakhruddin Tabaristani al-Gaydi.

Sebagaimana diketahui, Khalifah dinasti Umayyah terakhir Marwan II, yang memerintah pada tahun 744-50, adalah separuhnya berdarah Kurdi. Setelah tumbang, keturunannya menetap di pegunungan Kurdi, dan dihormati dan dilindungi oleh kaum Kurdi. Empat abad kemudian, di antara mereka mendirikan gerakan mistis seperti Uqail dan Abu'l Wafa itu,  yang pengikutnya ini menarik perhatian Syeikh 'Adi.

Ketika Syeikh 'Adi tiba di sana, ia mendapatkan sekelompok orang mempraktekkan mistisisme Adawiyah, yang bercampur dengan Zoroaster. Adawiyah-Zoroaster ini dicangkokkan pada Islam.

Sehingga akhirnya, yang terlihat adalah sebentuk kepercayaan sinkretisme. Sinkretisme, yang menurut dugaan, campuran antara Zoroaster, Kristen, dan Islam. Mungkin inilah yang  menjelaskan kenapa ada burung merak  dalam keyakinan kaum Yazidi ini. Burung Merak adalah simbol tahta Persia kuno, Acheamenid, dan Zoroaster sebagai agama resmi negara.

Syeikh 'Adi yang sangat toleran ini, tidak menyerang langsung praktek keagamaan model ini. Tapi justru ia membentuk  zawiya (kumpulan darwis) sendiri. Sikap Syeikh 'Adi segera memikat hati komunitas ini. Sebenarnya, Syeikh 'Adi, yang dekat dengan aliran sufiistik Adawiyah ini, tidak mengajarkan praktek Islam yang menyimpang.

Dengan cara sangat toleran, ia juga memperkenalkan ortodoksi dalam Islam. Tetapi sebagai Syeikh yang memimpin Dawis, ia menciptakan khasidah yang syair-syairnya sangat dipengaruhi al-Halaj.  Para pengikutnya di gunung terpencil itu akhir mengeser makna syair itu dengan menganggap "Syeikh 'Adi al-Haq".  Setelah ulama sufi ini meninggal, para pengikutnya mengkeramatkan dan menyembah kuburan  Syeikh 'Adi, dan kemudian ia sendiri didebut sebagai jelmaan Xwede.

Sementara dalam narasi Yazidi,  Sultan Ezi, yang merupakan  tokoh ketiga paling penting, justru sangat tersamar dan tidak jelas asal-usulnya. Padahal, Sultan Ezi ini adalah salah satu dari Trinitas Suci Yazidi. Dia kadang kala diidentifikasi dengan Tawusi Malik.

Tradisi Yadizi tentang Sultan Ezi, lebih bersandarkan kepada legenda.  Misalnya disebutkan, Ezi atau Ezda adalah anak Shahib bin Jerr. Tawusi Maliklah yang merencanakan perkawaninannya dan kaum Yazidi ini adalah keturunan anaknya.

Sejumlah sarjana menemukan hubungan antara Ezi dan Yazid bin Muawiyah. Hubungan ini justru dikemukan oleh para ulama abad pertengahan seperti Abdul Karim al-Samani (w. 1162) dan Ibnu Taymiyah (d. 1328). Mereka menyebutkan, ada sekelompok orang yang hidup di Irak bagian utara yang percaya Yazid bin Muawiyah sebagai manusia penuh kebajikan.

Kini dalam keseharian orang Yazidi ini adalah  menyanggah mati-matian tentang adanya hubungan tertentu antara Islam dan Yazidi atau  Sultan Ezi dan Yazid bin Muawilayah. Seorang penulis Kurdi, Birgul Acikyildiz menceritakan tentang malaikat Ezi dalam legenda Yazidi, yang justru legenda itu membenarkan ada kaitan  Yazidi dengan Islam dan Yazid.

Legenda itu menyebutkan, Muawiyah (khalifah bani Umayyah pertama) merupakan pembantu Nabi Muhmmad. Suatu ketika Nabi Muhammad meminta Muawiyah mencukur rambutnya. Karena terburu-buru, kepala Nabi Muhammad tersayat dan berdarah. Khawatir darah tersebut jatuh ke tanah, Muawiyah menjilatnya, karena ia percaya kesakralannya. Nabi menjadi marah dan menegurnya:

 “Apa yang kamu lakukan?  Kamu akan mendirikan bangsa yang akan menentang bangsaku”

 Maka Muawiyah bersumpah tidak akan kawin, karena khawatir akan lahir keturunan yang akan menentang bangsa Nabi Muhammad.

Tapi selang beberapa lama, Muawiyah disengat kalajengking, yang membuat muka dan seluruh tubuhnya beracun. Ia dinasihatkan untuk kawin menyembuhkan racun akibat sengatan kalajengkeing tersebut. Maka dia memutuskan untuk kawin perempuan tua yang tidak bisa melahirkan. Sekaligus mengawini anak perempuan berusia delapan tahun, Mahusa. Ajaib, Mahusa berubah menjadi gadis muda setelah malam perkawinannya dan kelak melahirkan seorang anak:  Ezi.[]

Pejaten Barat, 26 April 2020

Komentar

Loading...