Khilafah di Sana, Khilafah di Sini (2/2)

Khilafah di Sana, Khilafah di Sini (2/2)
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com - Setelah dinasti Mameluk (daulah yang dipimpin keturunan budak) bubar tertelan bumi, di atas puingnya tumbuhlah sebuah dinasti baru di Anatolia, yang kemudian dikenal Kesultanan Turki Usmani.

Karena minim legitimasi khilafah, maka para sultan keturunan Usman Gazi  (w. 1324) ini pekerjaan sehari-harinya selain berperang adalah mencari simbol-simbol  agar bisa diterima berkuasa dengan tenang atas dunia Islam. Hari ini menyebut dirinya sultan, besoknya khilafah, esoknya lagi penguasa atas dua tempat suci.

Karena diketahui semua alasan fiqih dan sunnah telah ditumpahkan sampai habis untuk mendukung teori-teori khilafah sebelumnya, Khilafah Usmani ini merasa lebih cocok bila dijelaskan dari perspektif sufistik.

Maka muncullah para sarjana muslim musim sufi tersebut, seperti Idris al-Bidlisi (w. 1520) untuk menjustifikasi kesultanan yang semula dikenal sebagai nama Usmanly Baylik (Emirat Usmani) ini.

Dalam kitab berbahasa Persia Qanun-i Shahanshahi (Prinsip Imperium), al-Bidlisi menyatakan, kepemimpinan negara adalah berkah Tuhan.

Apapun manfaat yang diperoleh manusia adalah anugerah Tuhan. Shahanshahi adalah sejenis manfaat suci (mavhibat, ni'mat) yang diletakkan pada seseorang yang dapat berkah. Dalam model Shanhanshahi ini, khalifahnya pasif saja. Maka, mengikuti argumentasi al-Bidlisi, kebetulan pada kurun tersebut yang dapat berkah jadi khalifah adalah kaum Turki, bukan Arab Quraisy. Maka jangan banyak cakap, terima saja.

Belakangan setelah Khilafah Turki Usmani bubar total pada 1924,  muncullah pemikir-pemikir musim bubar khilafah Turki. Bubarnya khilafah Islam ini, ditaksir, karena sejumlah pengaruh buruk. Pengaruh buruk itu karena filsafat Yunani, Persia, Kristen, Hindu dan Eropa. Juga pengabaian bahasa Arab oleh orang-orang Turki -- yang mungkin mereka tidak suka bahasa yang penuh fi'il dan isim yang ribet itu. Paling hebat adalah pembelahan dunia Islam oleh Barat.

Maka tampillah ke depan Rasyid Ridha (w. 1935) keturunan Asyraf (Quraisy) yang lahir di suatu tempat di Libanon sekarang, dan Taqiuddin al-Nabhani (w. 1977), tokoh politik Palestina pendiri sebuah parpol, Hizbut Tahrir (HT).

Keduanya memiliki kesamaan yaitu sama  menggebu-gebunya mengurus hal-hal muskil soal khilafah. Bedanya, Ridha pemikir khilafah yang pro-Nasionalisme Arab, al-Nabhani pendukung khilafah yang anti-Nasionalisme. Ridha adalah pemikir dengan bejibun karyanya, dan saking banyaknya, orang bingung melihat konsistensinya soal konsep khilafah. Tapi, mungkin sebagai keturunan Quraisy, setelah berpikir panjang, Ridha memutuskan khilafah itu cocoknya di tangan orang Arab Quraisy. "Khilafah di tangan Turki Usmani tidak ideal karena didasarkan atas asyabiyyah,  bukan agama".

Lebih penting lagi, jika khilafah Turki tertelan bumi, maka yang patut dihidupkan adalah sejenis khilafat di atas bumi Arab yang bertaburan umat Islam itu. Khilafah jenis ini akan menjamin pelaksanaan ibadah dan penerapan syariat Islam di muka bumi. Maka Ridha mengusulkan, orang Arab harus berteman dengan Inggris. Kenapa Inggris? Inggris, menurut Ridha, adalah sejenis penjajah yang ramah.

Dengan alasan itu, ia bertemu dengan Sykes, manusia degil di atas. Di depan Sykes yang belum ketahuan belangnya itu, Ridha menyodorkan usulnya yang brilian: membentuk suatu negara Arabia yang merdeka di bawah Syarif dari Mekkah. Negara merdeka itu luasnya dari Laut Tengah hingga Teluk Pesia.

"Masuk di dalamnya, Palestina, Suriah, Mesopotamia, dan wilayah-wilayah pebatasan Persia, Anatolia, dan Laut Tengah." Sykes menyimak dan membawa berkas itu ke meja kerjanya dekat kutub utara di sana, dan akhirnya memutuskan: Arabia harus dicabik-cabik.

Lain lagi polah al-Nabhani. Ia tidak sepaham dengan Rasyid Ridha, pemikir soliter. Seharusnya, paparnya, bentuklah partai politik.

"Berjuang tanpa parpol, itu kalau bukan kelakuan sufi maka pasti tabiat preman."  Kira-kira seperti itulah pikirannya. Kendati ia gigih memperjuang khilafah, ia sempat bersentuhan dengan realitas naionalisme, khususnya ketika dalam pemerintahan Mandatory yang lepas dari Khilafah Turki.

Tapi karena  dua upaya politiknya yang gagal yaitu gagal terpilih jadi anggota parlemen Yordania pada 1954, dan gagal mengudeta  Raja Abdullah I dari Yordania pada 1959, penulis buku Inqadzu Filistin (Penyelematan Palestina)  berbalik jadi sangat pro-Islam dan sangat anti-Nasionalisme. 

Hizbur Tahrir, yang kemungkinan awal,  jadi kendaraan politik di tingkat negara nasional, berubah haluan menjadi partai politik untuk seluruh dunia. Tapi al-Nabhani sendiri tidak pernah tegas menyatakan apakah pembentukan khalifah itu fardu kifayah (kewajiban kolektif)  atau fardu 'ain (kewajiban individual).

Kebingungan al-Nabhani dan para pemikir lain di atas dapat dipahami karena di dalam al-Quran sendiri tidak secara tegas menyebutkan perkara ini: apakah khalifah itu perlu dikaitkan dengan urusan kekuasaan politik sehari-hari atau tidak?

Khilafah itu bentuk kata sumber (masdar) dari kata kerja masa lalu 'Khalafa', dan kata kerja masa kini dan mendatang 'Yakhlufu', yang berarti 'menggantikan'.  Khalifah adalah orang yang melakukannya dari kata kerja 'Khalafa'. Allah menyebut "khalifah" dua kali, di tempat yang populer disebut surat Adam da surat Daud. Dalam bentuk jamak, Khala-if, disebutnya tujuh kali.

Di tiga tempat lain, Allah menyebut Khulafa. Kemudian ada istilah lain yang berdekatan dengan itu seperti Istakhlafu/yastakhlafu,  ukhluf, dan yakhlufun.

Tapi aneh bin ajaib, Allah  sama sekali  tidak menyebut langsung istilah "Khilafah" dalam al-Quran. Juga, dari banyak istilah yang berdekatan dengan arti khalifah,  tak sepotong ayat pun menerangkan, kata khalifah tersebut bisa dijadikan sumber legitimasi sebuah kekuasaan politik.  

Maka jika ada sanak saudara saya bisa menjawab dengan tegas bahwa khilafah itu wajib ditegakkan walau bagaimana pun keadaan cuaca dan musim, pasti kehebatan sanak saya tersebut melampaui intelektualitas para pemikir Islam terkenal di atas. Patut diduga sumber ilmu mereka di atas tidak berasal dari khasanah intelektual Islam. Tapi sumbernya pasti dari dunia alam gaib.

 Pejaten Barat, 4 Maret 2020

Komentar

Loading...