Kini Rupiah Number One!

Kini Rupiah Number One!
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS (CNBC Indonesia)
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot pagi ini. Sepertinya pelaku pasar hanyut dalam euforia damai dagang AS-China.



Pada Selasa (14/1/2020), US$ 1 dihargai Rp 13.650 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.



Seiring perjalanan pasar, rupiah malah tambah kuat. Pada pukul 08:08 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 13.645 di mana rupiah menguat 0,15%.

Mengawali 2020, perjalanan rupiah begitu indah. Sejak akhir 2019 hingga kemarin, rupiah menguat tajam 1,55% di hadapan dolar AS.



Penguatan rupiah lebih baik ketimbang mata uang utama Asia lainnya. Dalam periode yang sama, yuan China menguat 1%, yen Jepang melemah 1,22%, dolar Hong Kong terapresiasi 0,25%, won Korea Selatan menguat tipis hampir flat di 0,01%, rupee India menguat 0,91%, dolar Singapura terkoreksi 0,14%, ringgit Malaysia menguat 0,68%, dan baht Thailand anjlok 1,41%.



Jadi boleh dibilang rupiah adalah mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sampai saat ini. Rupiah number one!

 

Investor Nyaman Pegang Rupiah Ketimbang Dolar AS

Dari dalam negeri, terlihat pelaku pasar memang lebih nyaman memegang mata uang Tanah Air. Reuters menggelar jajak pendapat bulanan untuk mengetahui posisi jual (short) atau beli (long) terhadap mata uang utama Asia.



Hasilnya dicerminkan dalam angka -3 sampai 3, semakin tinggi maka dolar AS kian berada di posisi long sehingga menggambarkan tekanan terhadap mata uang Benua Kuning.


Dalam survei yang dihelat pada 9 Januari 2020, posisi rupiah berada di -0.49. Membaik dibandingkan survei 5 Desember 2020 yaitu -0,35. Angka -0,49 adalah yang terbaik sejak November 2019.

Ada beberapa faktor yang membuat investor pede memegang rupiah. Pertama, pekan lalu Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa sebesar US$ 129,18 miliar. Ini adalah posisi tertinggi sejak Januari 2018.

Cadangan devisa yang gemuk membuat BI leluasa jika harus melakukan intervensi di pasar. Nilai tukar rupiah akan lebih stabil karena BI siap 'mengawal' dengan bekal amunisi yang memadai.

Kedua, berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah (terutama obligasi pemerintah) masih sangat menarik. Saat ini, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di 6,869%. Meski dalam tren turun, tetapi masih lebih tinggi ketimbang yang diberikan oleh instrumen serupa di sejumlah negara tetangga seperti Filipina (4,718%), Thailand (1,385%), Malaysia (3,283%), sampai India (6,592%).



Didorong oleh pencarian cuan di pasar obligasi pemerintah, investor jadi rajin mengoleksi rupiah agar bisa ikut dalam lelang Surat Berharga Negara. Dalam lelang terakhir pada 7 Januari lalu, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 81,54 triliun dan pemerintah mengambil Rp 20 triliun.

Aura Damai Dagang AS-China Kian Terasa

Sementara dari sisi eksternal, mood pelaku pasar memang sedang bagus. Malah sangat bagus.


Pada 15 Januari, AS-China masih terjadwal untuk melakukan penandatanganan perjanjian damai damai Fase I. Seremoni ini akan digelar di Gedung Putih.

Jelang penandatanganan, hubungan Washington-Beijing terlihat semakin harmonis saja. Kementerian Keuangan AS akhirnya mencabut tuduhan bahwa China adalah manipulator kurs.

Dalam laporan semi-tahunan, kementerian yang dipimpin oleh Steven Mnuchin itu menyampaikan, China telah membuat langkah dan komitmen untuk menghindari devaluasi mata uang secara kompetitif. China juga disebut setuju untuk menyampaikan data kurs dan keseimbangan eksternal secara transparan.



"Dengan konteks ini, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa China tidak lagi disebut sebagai manipulator kurs," sebut laporan itu.



Oleh karena itu, sepertinya jalan menuju penandatanganan perjanjian bakal semakin mulus. Pena bakal menari dengan lebih ringan dan tanda tangan bisa dibubuhkan dengan hati yang senang.



Perang dagang AS-China telah membuat perekonomian global hampir lumpuh, bahkan ada beberapa negara yang masuk ke zona resesi. Maklum, kala dua kekuatan ekonomi terbesar di planet Bumi saling hambat di bidang perdagangan, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh negara.

Damai dagang akan membuat satu risiko besar di perekonomian dunia bisa dihapus dari daftar. Arus perdagangan dan investasi diharapkan kembali lancar dan membuat pertumbuhan ekonomi global membaik.

Melihat potensi ini, investor mana yang tidak happy? Hasilnya, arus modal mengalir deras ke instrumen berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Tidak ada istilah bermain aman.[]

Sumber:CNBC
acehtiket1

Komentar

Loading...