Kisah Luhut & Kapal Selam Alugoro

kapal selam dibangun sepenuhnya di Korea Selatan

Kisah Luhut & Kapal Selam Alugoro
A A A

Surabaya, acehtoday.com -   Luhut mempunyai hubungan kerja sedikit emosional dengan pembuatan kapal selam KRI Alugoro kelas 209 yang dibuat sepenuhnya di pabrik kapal PT PAL.

Beberapa tahun sebelumnya telah ditandatangani kontrak PT PAL dengan perusahaan galangan kapal dari Korea Selatan untuk membuat tiga kapal selam kelas Changbogo yang merupakan hasil pengembangan kapal selam U-209 buatan Thyssenkrupp Marine Systems, Jerman.

Dalam kontrak dijanjikan bahwa satu kapal selam dibangun sepenuhnya di Korea Selatan. Kapal selam kedua separuh bagian dibangun oleh teknisi PT PAL di Korea Selatan, dan kapal selam ketiga sepenuhnya dibangun oleh pakar-pakar dari Indonesia di Surabaya.

Dalam perjalanan waktu, program tersebut tidak semulus seperti diharapkan. Banyak kendala menimpa sebagian besar justru terjadi di pihak kita, sampai-sampai muncul opsi untuk membatalkan pembuatan kapal selam tersebut dan diganti kapal jenis lain.

Ada juga dorongan kuat untuk membeli kapal selam yang sudah jadi dari negara lain, Rusia diantaranya. Ketika saya menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Direksi PT PAL menuturkan berbagai kesulitan dalam pembuatan kapal selam di Indonesia.

Ketika tahu bahwa ujung dari kerjasama tersebut adalah melatih kemampuan bangsa kita untuk membuat kapal selam sendiri, maka saya total mendukung rencana mereka. Saya waktu itu percaya bahwa esok Indonesia mempunyai alutsista yang canggih tetapi buatan dalam negeri. Karya asli anak bangsa dan bukan hanya impor melulu.

 Sejumlah industri strategis lain juga saya semangati untuk berani membuat alat atau senjata di dalam negeri. Saya tanya kepada Direksi PT Pindad apakah berani membuat sendiri? Mereka menyanggupinya.  

Saya perintahkan mereka mengembangkan senapan untuk “sniper” yang handal. Harus sama hebatnya seperti senapan serbu SS-2 yang sudah dikenal di mancanegara. Dan ternyata bisa. Demikian pula PT Dirgantara Indonesia saya beri semangat agar pesawat jenis drone yang sudah masuk tahap uji coba dengan hasil memuaskan, bisa kita manfaatkan kita sendiri nantinya.

Bila saya ke Surabaya, saya selalu mampir ke PT PAL. Meskipun perlahan, tetapi program pembuatan kapal selam itu berjalan lancar. Dok dan galangan khusus telah terbangun. Kunjungan berikutnya, saya lihat tubuh kapal selam "Made in Indonesia" itu sudah terbentuk.

Saya teliti dari dekat sambil mengelus tubuh bajanya, dan Dirut PT PAL dengan bangga mengatakan kepada saya,

“Pak Luhut, menurut para ahli Korea, las-lasan anak-anak kita ini zero-defect, alias tanpa cacat sedikit pun!”

Saya turut bangga karena di tempat asalnya, las-lasan demikian terkadang banyak yang harus diulang karena ada kesalahan atau kurang rata. Saat itu saya katakan dalam hati, saya bangga melihat "bayi" saya.

Saya ingat ketika beberapa tahun lalu saya tantang Direksi PT INKA (Industri Kereta Api Indonesia) di Madiun, Jatim untuk membuat gerbong LRT (Light Railway Train) Jabodebek. Awalnya mereka ragu karena belum punya pengalaman dalam membuat gerbong LRT. Saya sampaikan kepada mereka:

“Buatlah, kalau ada kurang-kurang sedikit tidak apa-apa. perlahan kita perbaiki nanti.” Hanya dalam waktu 3 tahun saja, mereka sudah menghasilkan set-gerbong untuk LRT Jabodebek yang sangat bagus, betul-betul canggih. Teknologi yang diusungnya konon lebih canggih dibanding gerbong MRT Jakarta yang diimpor dari Jepang dan jauh lebih murah. Siapa yang tidak bangga?

Pelajaran dari pengalaman saya menghadapi industri strategis itu sederhana. Kita punya banyak ahli hebat, orang kita punya kemampuan canggih. Tapi terkadang kita sendiri sering meremehkan kemampuan anak bangsa untuk berbuat yang terbaik.

Saya sampaikan pula kepada Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, bahwa nanti lebih dari 60 persen alutsista yang digunakan TNI adalah hasil industri dalam negeri dan bukan impor. Kita mandiri dan tidak bergantung pada negara asing.

Lalu, beberapa hari sebelum saya ke Davos, Swiss, saya mendapat laporan bahwa KRI Alugoro sudah berhasil menyelam sampai kedalaman 251 meter di selatan pulau Jawa. Sebelumnya, semua ujicoba kelayakan berhasil dilalui dengan baik dan memenuhi standar tinggi yang disyaratkan oleh TNI-AL. Diharapkan akhir tahun 2020 ini kapal selam buatan dalam negeri KRI Alugoro bisa diserahkan kepada TNI-AL.

Semoga ke depannya kita bisa mengembangkan teknologi alutsista Indonesia lebih maju lagi dan membuat kapal selam yang lebih canggih lagi.

Predikat sebagai negara Asia keempat yang bisa membuat kapal selam sendiri, selain Tongkok. Korsel, serta Jepang pasti akan diperhitungkan oleh para negara tetangga kita. Demikian narasi in dikutip dari medsos Luhut.[]

Hotline Covid-19

Komentar

Loading...