Konflik Gajah Jadi Inspirasi Nicholas Filmkan Kisah Warga Pameu di Pedalaman Aceh

Tayang di Bioskop Akhir Januari 2020

Konflik Gajah Jadi Inspirasi Nicholas Filmkan Kisah Warga Pameu di Pedalaman Aceh
A A A

acehtoday.com - Kisah kehidupan warga Gampong Pameu, Kecamatan Rusip, Aceh Tengah, yang hidup berdampingan dengan hutan diangkat ke layar lebar.

Kisah warga Pameu ini menjadi salah satu dari tujuh kisah yang akan diceritakan dalam Film ‘Semesta’ yang dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada 30 Januari 2020.


Masuknya kisah kehidupan warga Gampong Pameu dalam Film Semesta ini diungkapkan Nicholas Saputra melalui akun Instagramnya (IG), pada Sabtu 18 Januari 2020, lalu.

Film dokumenter "Semesta" yang mengangkat usaha menjaga lingkungan dari berbagai perspektif seperti agama dan budaya, akan digunakan sebagai bagian kampanye meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim.



"Film Semesta menggambarkan kearifan lokal, nilai-nilai sosial dan budaya serta religi dari berbagai wilayah di Indonesia. Yang memberi contoh bagaimana seharusnya perilaku kita dalam mengelola hidup agar harmonis dengan alam," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ruandha Agung Sugadirman dalam konferensi pers di Jakarta beberapa waktu lalu.


KLHK telah bekerja sama dengan PT Talamedia untuk menayangkan film "Semesta" dalam rangka kampanye meningkatkan kesadaran terhadap dampak perubahan iklim.

Dirjen PPI KLHK Ruandha Agung Sugadirman (tengah) dan aktor Nicholas Saputra (kanan) dalam konferensi pers di Jakarta. ANTARA/Prisca Triferna

Di bawah postingan foto gajah yang hanya menampilkan bagian mata, Nicholas awalnya menulis bahwa ia mulai jatuh cinta kepada gajah sejak melihat mata gajah dari jarak dekat.

“Saya selalu ingat pertama kali melihat dari dekat mata seekor gajah. Ini yang membuat saya akhirnya jatuh cinta kepada ciptaan Tuhan yang sangat istimewa ini,” tulis aktor yang terkenal setelah membintangi film ‘Ada Apa Dengan Cinta? (AADC)’ ini.

Sayangnya, lanjut dia, populasi gajah sumatera di alam liar terus menurun akibat perburuan dan hilangnya habitat mereka.

“Belum lagi seringnya terjadi konflik antara manusia dan gajah yang biasanya berakhir dengan gajah mati diracun atau ditembak,” tulis aktor berdarah Jawa-Jerman ini.

Pada bagian ini lah Nicholas memuji warga Gampong Pameu yang menurutnya memiliki cara tersendiri dalam menjaga hutan.

“Namun di Desa Pameu, di pedalaman Aceh, masyarakat di sana memiliki cara tersendiri untuk hidup berdampingan dengan hutan yang merupakan habitat gajah sumatera,” tulis Nicholas.


Kisah warga Pameu ini akan diceritakan dalam Film ‘Semesta’ sebagai salah satu dari tujuh kisah yang akan diceritakan.

“Kisah mereka diceritakan di dalam #FilmSemesta sebagai bagian dari 7 kisah lain dari berbagai tempat di Indonesia tentang mereka yang merawat alam ciptaan-Nya, merawat Indonesia,” tulis Nicholas.

“Saksikan #FilmSemesta di bioskop mulai tanggal 30 Januari 2020.” tambahnya lagi.

Film ‘Semesta’ adalah film dokumenter yang berkisah tentang tujuh sosok di tujuh provinsi Indonesia yang bergerak memelankan dampak perubahan iklim dengan merawat alam Indonesia atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing.

Aktor Nicholas Saputra berperan sebagai produser di film ini. Bersama dengan Mandy Marahimin mereka mendirikan Tanakhir Film pada 2013 lalu.

Mandy Marahimin sendiri bukan nama baru di dunia perfilman. Tahun ini Mandy menjadi eksekutif produser di dua film yakni Keluarga Cemara dan Bebas. Serta film Kulari ke Pantai pada 2018 lalu.

Selain Mandy Marahim dan Nicholas Saputra, nama lain yang terlibat dalam film ini adalah Aditya Ahmad, yang berperan sebagai sinematografer pada film ini.

Penataan musik film Semesta digarap oleh Indra Perkasa. Sedangkan penataan suara oleh Satrio Budiono, Indrasetno Vyatranta dan Hasanudin Bugo.

Dikutip dari kanal Youtube Tanakhir film Semesta akan berkisah tentang 7 sosok berbeda.

Mereka datang dari 7 provinsi berbeda di Indonesia yang bergerak karena iman. Untuk menjaga alam ciptaanNya dengan segala isinya.

Ini kisah tentang mereka yang punya sikap terhadap perubahan iklim. Untuk menggapai masa depan bersama yang lebih hijau. Mulai dari ujung barat Aceh hingga ujung timur Papua.

Ini kisah tentang mereka yang merawat Indonesia.

Dilansir dari Kompas.com, Nicholas Saputra mengatakan, film ini menyajikan kisah-kisah inspiratif dari penjuru Indonesia.

Nico berharap film dokumenter ini dapat membuka wawasan dan memberikan inspirasi.

"Sebab apa pun latar belakang agama, budaya, profesi, dan tempat tinggal mu, kita tetap bisa berbuat sesuatu untuk alam Indonesia dan dunia yang sekarang tengah mengalami krisis," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Sebelumnya Semesta berhasil menjadi nomine dalam kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2018.

Film ini juga terseleksi untuk diputar di Suncine International Environmental Film Festival (SIEFF).

SIEFF berlangsung di Barcelona, Spanyol, pada 6-14 November 2019 lalu. SIEFF merupakan sebuah festival film di Barcelona yang khusus untuk film dokumenter bertema lingkungan.[]

Komentar

Loading...