Kopi Wine dan Bir Pala di Kota Seribu Rasa Kopi [1/2]

Kopi Wine dan Bir Pala di Kota Seribu Rasa Kopi [1/2]Ist
T. Taufiqulhadi 
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi 

Banda Aceh, acehtoday.com - Tatkala saya sedang santai di sebuah "caffee" di bilangan Pangoe, Banda Aceh, seorang anak muda bercelemek  mendatangi saya dan dengan ramah meminta saya untuk meminum satu sloki minuman asing, "bir pala". Saya menerima dan setelah mendekatkan ke hidung untuk membaui aroma sejenak, langsung saya teguk "bir pala" itu. 

Bir pala melewati tenggorokan dan menerobos dada dan langsung bersarang di perut. Sejenak merasakan sensasi yang berbeda: badan  lebih hangat di tengah gerimis senja. Saya meminta satu sloki lagi, bukan tester, tapi meminta dalam hubungan transaksi biasa.

Pemuda bercelemek ini, pemilik kedai sekaligus bertindak sebagai pramusaji, mengangguk dan menyajikan kepada saya dalam teko kecil, plus  sloki.  Saya tawarkan kepada teman  di sebelah, dan teman dari Jakarta tersebut meminum lebih banyak daripada saya. 

Adanya imbuhan "bir" terhadap minuman itu tentu saja ada kesengajaan dan sekaligus diharapkan ada nilai sensasi dalam upaya menggaet pelanggan. Dan, sesungguhnya, menjelang larut malam, para pengunjung pun kian banyak mengisi "caffee" tersebut. 

Setelah meneguk dua sloki, badan lebih hangat tapi bukan karena pengaruh alkohol. Saya menduga itu  karena sifat ekstrak buah pala yang menimbulkan rasa hangat bagi tubuh. Lebih-lebih bir pala ini, selain menimbulkan efek hangat dan  memang mengandung alkohol juga, tapi tidak menimbulkan pengaruh memabukkan. Adanya kandungan alkohol itu karena pembuatannya melalui proses fermentasi. Sebagaimana proses pembuatan tape yang juga mengandul alkohol. Tapi  ketajaman manis air tape berbeda  dengan bir pala. Jika air tape terlampau manis, bir pala yang kita teguk sedikit demi sedikit dalam sloki itu, manisnya ringan saja, dan itu pun telah ditutup dengan testa dan aroma pala yang khas.

Setelah mengalami pengalaman mendadak dengan bir pala, kami mencoba lebih jauh lagi soal berbagai minuman "temuan baru" di Aceh, dan akhirnya kami mendapatkan nama jenis minuman lain yang tak kalah "heboh"-nya: kopi wine.

Kopi wine bisa kita temukan di beberapa tempat di Banda Aceh, yaitu sekitar Jln Ali Hasjmy, Blangpadang dan lainnya. Tapi saya memutuskan ke Jln Syiah Kuala di Cafe "Donya Drop Daruet". Pemiliknya mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesisnya di Taiwan. Namanya Usuluddin (tidak hubungan apa pun dengan salah satu bidang studi di UIN).

"Donya Drop Daruet" ini ramai pengunjungnya, dan Usuluddin ini bukan hanya penjual kopi wine. Anak muda ini juga eksportir kopi pemula. Ia pengekspor kopi Gayo, dan sekaligus membuka cafe yang di kafenya menyediakan semua jenis kopi Arabika Gayo. Misalnya: Gayo Arabica Luwak, Gayo Arabica Honey, Gayo Arabica Longberry, Gayo Arabica Wine, Gayo Arabica Peaberry, Gayo Arabica Natural, dan entah apa lagi.

Komentar

Loading...