Kopi Wine dan Bir Pala di Kota Seribu Rasa Kopi [2/2]

Kopi Wine dan Bir Pala di Kota Seribu Rasa Kopi [2/2]Ist
kopi wine
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Banda Aceh, acehtoday.com -Saya meminta kopi wine dan setelah itu baru  campuran kopi wine dan kopi luwak. Pertama saya menyeruput kopi wine, yang saya pikir disajikan dalam keadaan panas. Tapi ketika menyentuh bibir, yang saya rasakan sebaliknya: dingin. Saya dekati sedikit ke hidung, dan saya rasa  aroma alkohol yang mengambang.

Dari mana alkohol ini? Kopi wine dibuat melalui proses fermentasi juga. Usuluddin menceritakan, pertama ia harus memilih biji kopi berwarna merah yang terbaik. Dengan kulit-kulitnya, biji kopi ini dibungkus dalam plastik pro green. Kemudian dimasukkan ke dalam goni, dan disimpan di tempat dingin  selama dua minggu. Setelah mencapai masa tersebut, ia dibuka dan diproses mesin menjadi bubuk. Baru disuguh menjadi kopi wine,

Setelah menikmati kopi wine, saya pindah ke kopi wine yang dicampur dengan kopi luwak. Minuman yang terakhir ini, telah berubah menjadi rasa kopi biasa tapi rasanya masih sangat nikmat.

 Menjelang keberangkat kembali ke Jakarta, seorang teman yang menemani saya ke Bandara, mengajukan pendapat untuk singgah di sebuah cafe di bilangan Beurawe, namanya Moderner, jika tidak salah.

"Kita coba minuman jenis baru, namanya kopi nira," ungkap teman tersebut, seraya menyebut sejenis minuman yang sangat menggugah hati saya,

Sesampai di cafe itu, kami segera menyebut "kopi nira", dan pramusaji bersetelan hitam-hitam dan necis, mengangguk dan langsung menghilang ke belakang. Tak lama, ia muncul lagi dengan dua gelas dalam tatakan. Cairan dalam gelas itu, hitam-putih.

Inilah, pikir saya,  "kopi nira" yang cukup terkenal itu: yang hitam dibagian atas adalah kopi, yang putih di bagian bawah air nira. Jika diaduk, warnanya berubah menjadi kecoklatan. Saya tidak mengaduk, tapi langsung meminumnya. Setelah menghabiskan separuh, maka kini saya siap-siap menikmati sisa di bagian bawah yang putih. Jika yang hitam rasanya jelas yaitu sejenis kopi arabika yang nikmat, yang putih adalah air nira yang biasa saya teguk kala kecil di kampung. Air ini diambil dari pohon nira atau pohon ijuk yang kian langka. Hampir mirip dengan legen yang diambil dari pohon kelapa. Air nira dan legen yang disimpan lebih dari empat hari akan berubah menjadi tuak.

"Apakah mungkin kopi dicampur dengan air nira yang berusia enam hari," tanya saya kepada Donny, pramusaji yang necis tadi. Ia berpikir sejenak, kemudian tersenyum.

"Bisa saja," jawabnya.

"Kalau begitu, saya dibuatkan satu lagi yang niranya telah berusia enam hari," aju saya. Ia tidak segera menjawab, dan juga tidak segera pergi.

"Kami tidak menyediakan di sini," akhirnya ia menjawab, sambil berbalik ke belakang. Tak lama ia muncul lagi dengan minuman "sanger".

Komentar

Loading...