Legenda Pasar Terapung Bandarmasih (2/3)

Legenda Pasar Terapung Bandarmasih (2/3)
A A A

[Catatan ringan perjalanan T. Taufiqulhadi penulis buku Satu Kota Tiga Tuhan]

 Acehtoday.com  -  Legenda tidak selalu harus menjelaskan fakta. Tetapi legenda itu biasanya akan menjadi spirit bagi suatu masyarakat untuk menegaskan identitasnya guna membangun kebersamaan.

Tidak salah, di atas kegenda itu, Banjar kemudian berkembanga menjadi kerajaan cukup besar dan tangguh. Sementara diketahui pula, di nusantara mungkin  masyarakat Banjarlah yang memiliki keunikan seperti ini: pasar terapung. Menurut para antropolog,  pasar terapung itu terjadi karena kondisi khusus, yakni kondisi alam sekitar Sungai Barito yang dihuni etnik Melayu yang suka berdagang itu.

Karena faktor inilah maka kemungkinan pasar terapung di Kalimanatn Selatan itu telah muncul jauh sebelum terbentuk Kerajaan Bandarmasih (Banjar). Kondisi alam Kalimantan dan karakter orang banjar yang suka berdagang,menjadi alasan terbentuk pasar terapung.  Kondisi alam dimaksud, di antaranya, daratan Kalimantan tidak mudah dijelajahi karena tanah gambut dan rawa yang sangat luas.

Maka penghuninya berbalik menggunakan insfrastruktur alam yang melimpah: sungai. Tanpa perlu repot dengan rute  darat, mereka tetap lancar berkomunikasi dan berhubungan melalui jalur air yang tak pernah lapuk dimakan masa ini. Di Kalimantan tidak relevan disebut banjir, selain karena jarang banjir, juga banjir tidak menghalangi mereka untuk bertransportaasi-ria ke seluruh pelosok.

Justru masalah muncul jika terjadi kemarau panjang yang sangat kering. Akibatnya semua sungai jadi dangkal. Maka pada saat itu banyak wilayah di Kalimantan yang terisolasi dan banyak warga yang kekurangan sumber makanan.

Para pedagang Melayu di awal terbentuk Banjar hingga akhir tahun 1970-an nyaris tidak pernah naik ke darat. Mereka hilir-mudik melalui jalur air yang melimpah, apakah melalui sungai-sungai  raksasa seperti Kapuas dan Barito, juga melalui sungai-sungai yang lebih kecil seperti Sungai Martapura dan lainnya.

Di Sepanjang Sungai Martapura terlihat jejak kuat komunitas pedagang jenis ini. Di sisi kiri-kanan sungai itu, berdiri rumah-rumah warga yang menjorok ke sungai atau menghadap sungai. Toko-toko sembako tidak menghadap ke jalur darat, tapi menghadap ke jalur air. Maka sudah dapat diduga, pembelinya semua menggunakan sampan untuk sampai ke toko sembako tersebut.

Jadi menjadi pemandangan biasa di Sungai Martapura dan sungai-sungai lain  yang berhulu ke Sungai Barito, Kapuas atau ke laut,  terlihat orang-orang hilir mudik dengan sampan mungil. Kebanyakannya adalah  perempuan baik yang berusia muda mau pun yang berusia lanjut. Mereka membawa barang dagangan atau hendak ke toko sembako. Ada juga yang berkunjung ke rumah tetangganya atau ke rumah saudara di kampung lain. Semua dengan sampan kecil.

Maka demikian juga di pasar terapung yang cukup banyak di sekitar Banjarmasin itu. Setiba di lokasi, kita segera akan diserbu oleh sampan-sampan mini yang dikayuh seorang perempuan dengan muatan penuh.

Dagangan ibu-ibu dalam perahu kecil itu beragam. Ada nasi kuning bungkus dengan ikan seluang atau aruan, ada bauh-buahan, mulai dari mangga, jeruk, rambutan, pepaya, manggis, sirsak hingga lai Banjar yang seperti durian. Buah lai  sama seperti durian tapi lebih kecil dan isinya berwarna merah jambu atau oranye. Meski pun tetap enak tapi tidak setajam durian baik rasa maupun aromanya. Orang bilang, lai banjar tidak mengandung kolesterol. Karena itu, orang jadi lebih lahap mencicipinya.

acehtiket1

Komentar

Loading...