Legenda Pasar Terapung Bandarmasih (3/3)

Legenda Pasar Terapung Bandarmasih (3/3)
A A A

[Catatan ringan perjalanan T. Taufiqulhadi penulis buku Satu Kota Tiga Tuhan]

 Acehtoday.com  -  Ibu-ibu yang bersemangat dan cekatan ini, begitu melihat perahu besar bertenaga disel kami mendekati pasar terapung, mereka segera menyerbu  dengan sampan itu. Dengan ramainya, mereka menawarkan dagangannya kepada kami.

Caranya macam-macam ada yang berusaha menjelaskan batapa langka ikan asin yang ia bawa itu, dan tidak akan ditemukan di Jakarta. "Ikan ini hanya ada di rawa dan sungai barito dan istri bapak akan senang sekali kepada ikan asin baung ini," katanya. Kami hanya menatap dengan tidak kurang gembira. Tapi membawa ikan asin ke Jakarta sedikit perlu kesungguhan hati. Ibu sebelahnya menawarkan udang goreng yang ditusuk seperti sate.

"Biar bapak beli, saya akan berpantun," teriak seorang nenek yang  tangkas dan bersemangat.

"Pergi ke pasar membeli batik, dengan sampan bawa kesini; Adinda penjual  muda dan cantik; Abang yang tampan tolong  beli yang ini," mengakhiri pantun seraya menunjuk ke ikan seluang goreng dalam sampannya. "Siap Adinda yang cantik," jawab saya. Kami tertawa semua, dan seorang teman memborong ikan seluang, rambutan, dan buah jeruk. Sebanyak itu, harganya tidak lebih dari 100 ribu rupiah.

Di pasar terapung yang dimulai sejak subuh dan berakhir pukul 08.00 pagi itu, pendapatan ibu-ibu itu kecil saja. Ibu Hasnah yang mengajak saya masuk ke sampan mungilnya untuk diambil foto seraya memakai topi bercaping khas Banjar, mengaku hasil dagangannya yang berupa buah-buahan dari kebun sendiri dan tetangganya itu, saban hari  Sabtu dan Minggu bisa dapat  200 ribu rupiah. Tapi di hari biasa, pendapatannya di pasar terapung jsuh lebih,  sekitar 20.000 rupiah per hari.

Pukul 08.00, kami balik ke hotel, dengan menyusuri Sungai Martapura kembali. Kini kiri kanan-kanan sungai sudah padat aktivitas, seperti orang mandi, mencuci, dan tentu saja buang hajat. Semua di depan rumah tapi dalam kali.

Saya pikir, alangkah menariknya sungai ini di tahun-tahun 1970-an ketika belum hadir diterjen dan plastik yang memassal. Meski banyak aktivitas, tapi mungkin saat itu pasti semua menarik dan aman. Kini di mana-mana orang mencuci dengan diterjen, sementara di semua tiang rumah  yang menjorok atau berada di atas ke sungai, tersangkut plastik-plastik yang demikian banyak dan merusak pemandangan. Di tempat yang sama orang mandi dan mengosok gigi.

Belum selesai tercenung, salah seorang rekan menunjuk ke pinggir sungai, yang ramai oleh orang dan kendaraan yang diparkir.

"Soto Banjar paling enak di Banjar,masin" ungkap teman saya.

Semua mengangguk. Kami pun menepi sejenak. Maka sepagi itu, saya tetap bersemangat untuk ketiga kalinya: nasi kuning dengan lauk ikan aruan, sate ayam  Ibu Rahmah di sampan kecil tadi, dan terakhir soto banjar. Tapi semua tetap ueenak.

Hotline Covid-19

Komentar

Loading...