Mahasiswa Aceh:  Cabut Jam Malam

Mahasiswa Aceh:  Cabut Jam MalamInternet
Jam malam di Aceh
A A A

Yogyakarta, acehtoday - Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN) meminta Forkopimda Aceh untuk segera meninjau ulang kebijakan jam malam dengan mencabut maklumat tersebut.

Penerapan jam malam dari pukul 20.30-05.30 WIB selama sepekan tidak efektif, malah berdampak negatif bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Jam malam justru mengingatkan trauma masa konflik, apalagi saat ini beredar wacana Darurat Sipil dari pemerintah pusat. Pelarangan harusnya mengarah kepada acara yang menimbulkan keramaian dan mengumpulkan banyak orang bukan melarang keluar malam secara total. Banyak orang yang harus mencari rezeki untuk keberlangsungan hidupnya di waktu tersebut akan dirugikan, apalagi dibatasi hanya sampai pukul 20.30 WIB,” kata Fadhli Espece  Sekretaris Jenderal KMPAN, Yogyakarta, Kamis 2 April 2020.

Fadhli menyatakan j ika ingin melarang karena khawatir penyebaran wabah seharusnya tidak hanya melarang keluar di malam hari, tapi pagi, siang, sore, hingga malam dengan catatan pemerintah menjamin kebutuhan hidup masyarakat. Melarang masyarakat keluar di malam justru cacat secara logika.

Secara tidak langsung pemerintah sedang mensosialisasikan seolah-olah virus corona hanya bekerja di malam hari, yang perlu disadari bahwa virus itu tidak bekerja dengan sistem shift pagi dan shift malam.

“Pemerintah tidak melibatkan ulama dalam merumuskan maklumat tersebut. Seharusnya pemerintah mengajak ulama, dalam hal ini MPU Aceh yang persuasif mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya social distancing. Secara sosiologis, peran ulama lebih efektif bagi masyarakat Aceh mengingat ulama dalam kehidupan sosial di Aceh memiliki otoritas unik, kharismanya lebih dipatuhi dengan kesadaran daripada pendekatan keamanan yang dilakukan aparat,” jelasnya panjang lebar.

Di samping itu, perlu disadari corona yang menyebar di Aceh merupakan impor dari luar daerah dan luar negeri.

Karena itu, jika pemerintah serius menghentikan penyebaran wabah ini seharusnya pemerintah segera melakukan penutupan total semua jalur darat, laut, dan udara yang merupakan pintu masuk ke provinsi Aceh, bukan dengan cara penerapan jam malam. Namun apa yang terjadi justru kegamangan yang terus berulang.

“Setelah blunder menyiapkan kuburan massal, kini pemerintah mengurung rakyatnya sendiri, tapi di saat yang sama arus dari luar Aceh justru dibiarkan masuk bebas seperti TKA Asing yang ditolak di Nagan Raya beberapa waktu yang lalu,” pungkasnya.[]

Komentar

Loading...