Melawan Corona (Mulai) dari Pikiran

Melawan Corona (Mulai) dari Pikiran
A A A

Oleh: Khairul Munadi  (Dosen Unsyiah)

Banda Aceh, acehtoday.com - Sejak isu Covid-19 mengemuka, ada dinamika sosial yang menarik. Dinamika ini muncul di semua tataran: individu, kelompok atau masyarakat, hingga ke pemerintahan. Menariknya begini. Hampir semua kita memiliki panca indera dan instrumen berpikir yang sama. Tapi di hadapan virus Corona, sikap kita berbeda. Ada yang sejak awal bersikap waspada. Ada yang sebaliknya, remeh.

 Sikap ini mewujud dalam aksi. Yang waspada, mudah saja mengikuti anjuran seperti berdiam diri di rumah. Yang remeh, bergeming dengan imbauan apapun. Tentu saja ada yang di antara dua ujung: remeh dan waspada. Di pemerintahan juga begitu. Ada negara atau daerah yang responnya sigap. Ada yang ragu-ragu, bahkan lamban.

 Tapi untuk bahaya yang lain, anehnya kita nyaris sama. Bila melihat binatang buas, kita serta-merta menghindar. Bila mendengar suara tembakan (seperti di masa konflik), kita segera merumahkan diri. Bila gempa besar, kita segera keluar rumah. Bila terjadi kebakaran, pemerintah segera kirim brigade pemadam. Dan aksi-aksi tersebut kita lakukan secara otomatis.

 Mengapa begitu?

Semalaman saya coba cari jawabannya. Sampailah pada beberapa bacaan bertema sains perilaku. Yang menjelaskan relasi antara pikiran, sikap, dan tindakan atau aksi.

 Jawabannya mungkin tidak lengkap. Tapi (untuk sementara) cukup membuat saya memaklumi beragam respon di tengah masyarakat terkait isu Corona.

 Begini pemahaman saya. Ranah pikiran manusia ada dua: bawah sadar (unconscious mind) dan sadar (conscious mind). Ranah bawah sadar bekerja otomatis. Polanya dapat terbentuk dari akumulasi perasaan, kepercayaan, pengetahuan, atau pengalaman sebelumnya. Sedangkan ranah sadar adalah pikiran rasional yang bertumpu pada logika. Sikap kita terhadap suatu keadaan dipengaruhi oleh interaksi dua ranah pikiran ini. Perlu dicatat, pikiran bawah sadar lebih sering mendominasi dalam banyak hal.

 Sikap, yang terbangun dari pikiran, lalu menggerakkan pilihan tindakan. Karena virus Corona masih asing dalam ranah pikiran, bahayanya kurang tergambarkan. Kita umumnya belum punya rujukan pola tindakan yang lahir dari pikiran. Sehingga, beragamlah sikap dan aksi kita.

Yang pertama sebut saja kelompok pasif. Bagi kelompok ini, informasi dan situasi yang ada tidak memantik visualisasi bahaya dalam pikiran. Kecenderungannya berprilaku seperti kondisi normal. Sehingga, anjuran melakukan pencegahan Covid-19 tidak disahuti.

Dalam kelompok kedua, ada sebagian orang yang terhubung dengan pikiran bawah sadarnya, walau berbeda konteks. Barangkali mereka pernah mengalami atau mengetahui kasus lain yang diasosiasikan dengan konteks sekarang. Kelompok ini mendasarkan sikapnya pada pengalaman dan pemahaman tersebut. Begitu juga pilihan aksinya. Seperti mengkonsumsi sesuatu, serta melakukan praktik atau ritual tertentu dalam menghadapi bahaya Corona.

Kelompok berikutnya adalah kelompok yang mendasari proses berpikir pada sumber pengetahuan kontekstual, termasuk dari kitab suci dan sains. Kelompok ini aktif mencari tahu perkembangan kekinian. Karenanya, mereka cenderung aktif pula dalam mengikuti anjuran-anjuran untuk pencegahan.

Kelompok terakhir adalah kelompok abu-abu. Sikap mereka dipengaruhi oleh salah satu kelompok di atas. Tergantung dengan kelompok mana interaksi intensif terbangun. Bisa jadi ineteraksi itu terbentuk karena hubungan keluarga, pertemanan, ikatan sosial atau ikatan keagamaan.

 Kembali ke ilustrasi di awal, mengapa pula empat bahaya  —binatang buas, suara tembakan, gempa, dan kebakaran—, dapat menggerakkan pilihan tindakan kita yang hampir serupa? Jawabannya, (mungkin) karena rekaman bahaya tersebut ada di bawah sadar, lebih nyata, mudah diterima pikiran, dan keberadaannya dirasakan seketika.

 Ikhtiar dari Pikiran

Karena itu, tak perlu lagi saling heran, geram, dan menyalahkan. Tindakan setiap orang dipengaruhi oleh sikap yang terbangun dari interaksi pikiran bawah sadar dan rasio. Ranah bawah sadar sendiri terbangun dari pengetahuan dan pengalaman yang telah terakumulasi lama. Proses mendapatkannya pun berbeda-beda: melalui pendidikan, cerita, bahkan doktrin. Riset membuktikan, pikiran bawah sadar sering lebih mendominasi rasio.

Membangun kepatuhan sosial terhadap sesuatu yang baru membutuhkan waktu yang cukup. Perlu proses panjang yang dimulai dari membahani pikiran, membangun sikap, hingga mengerakkan aksi. Masalahnya, waktu kita sangat terbatas. Kita berkejaran dengan keganasan penyebaran virus Covid-19.

Yang dapat dilakukan barangkali menghadirkan bahaya Corona dalam bentuk lebih nyata dalam pikiran kolektif kita. Dalam waktu dekat memang sulit dilakukan. Perlu intervensi yang masif dan sistematis. Dan peran pemerintah dalam hal ini sungguhlah sentral.

Dalam konteks individu, saya hanya mampu menghimbau. Mari ikhtiar melawan virus Corana mulai dari pikiran! Visualisasikan saja virus itu bagai seratusan anjing gila yang mematikan. Mereka sedang mengitari rumah untuk sementara waktu. Agar selamat, kita berdiam diri dan waspada. Bila sangat terpaksa keluar, proteksi diri dengan perlengkapan dan "senjata" yang cukup. 

Terakhir, mari lambungkan doa ke pangkuan Ilahi. Mohon ampuni dan selamatkan kami ya Rabbi.[]

Komentar

Loading...