Mengamalkan Al-Qur’an dalam Aktivitas

Mengamalkan Al-Qur’an dalam Aktivitas
A A A

Oleh Zarkasyi Yusuf (ASN Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh)

“Wahai kaum kami! Kita sudah mendengarkan sebuah kitab yang diturunkan sesudah Musa, memperkuat apa yang datang sebelumnya, membimbing manusia kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, penuhilah seruan Allah dan berimanlah kepada-Nya. Dia (Allah) akan mengampuni dosa kalian dan menyelamatkan kalian dari azab yang keras” (Surat al-Ahqaf, ayat 29 – 31).

Banda Aceh, acehtoda.com - Asbabun nuzul ayat di atas ketika sekelompok Jin mendengarkan Rasulullah membaca al-Qur’an di sebuah kebun kurma. Salah seorang dari jin itu bernama Zauba’ah, ketika mendengar bacaan Nabi, mereka berkata “perhatikanlah!”. Selesai mendengarkan bacaan Nabi, mereka kembali kepada kaum mereka dan menceritakan kabar gembira. Imam Bukhari dan al-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa asbabun nuzul ayat di atas adalah pada saat Rasulullah bersama para sahabat pergi ke pasar Ukaz. Tiba di Tuhamah, mereka mendirikan shalat subuh. Sekelompok Jin mendengarkan bacaan al-Qur’an dan memperhatikannya dengan seksama. Mereka pulang dan menceritakan kepada kaumnya. Jin tersebut mengagumi al-Qur’an, mereka pun menyatakan beriman. Turunlah ayat di atas mengabarkan kepada Nabi bahwa sekelompok Jin mendengarkan bacaanya. Kisah ini menunjukkan bahwa Jin begitu terpesona dengan mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, yaitu al-Qur’an. 

Al-Qur’an diturunkan pada masa puncak kejayaan sastra Arab. Saat itu, kaum Quraisy bangga dengan bait bait syair sampai mereka menggantungkannya di dinding Ka’bah. Menariknya, al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang hidup sebagai seorang ummi (tidak bisa baca tulis). Tatkala Rasulullah menyeru kaum Quraisy untuk beriman kepada Allah, serta memberi pemahaman kepada mereka bahwa al-Qur’an adalah firman Allah, mereka berkomentar bahwa al-Qur’an adalah ucapan seorang penyair. Tuduhan ini dibantah oleh Allah dalam surat Yasin ayat 36 “Kami tidak mengajarkan syair kepada (Muhammad), dan bersyair itu tidak layak baginya. Al-Qur’an tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Mereka juga menuduh al-Qur’an sebagai mitos orang orang terdahulu, tuduhan ini pun dibantah oleh Allah dalam surat al-Haqqah ayat 43, “Ia (al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta Alam”.

Orang Arab paling fasih bahasanya dan paling tinggi sastranya, tetapi mereka tidak mampu menandingi keindahan dan ketinggian bahasa dan sastra al-Qur’an, argumentasi ini diperkuat oleh firman Allah dalam surat al-Israa ayat 88, “Katakanlah, “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lain”. Tidak hanya sisi bahasa saja, mukjizat al-Qur’an juga termasuk kaidah kaidah tentang ibadah dan muamalah. Seandainya seluruh ulama dan pakar sejak diturunkan al-Qur’an sampai sekarang berkumpul, mereka tidak akan pernah sanggup membuat kaidah kaidah tersebut, sangat universal dan mencakup semua aspek.

Dalam kitab hikmatut tasyri wa falsafatuh yang ditulis oleh syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi (1905-1956), diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Nabhani Idris dengan judul Indahnya Syariat Islam, beliau menukilkan pendapat para ilmuwan dunia tentang kehebatan al-Qur’an. Diantaranya adalah pendapat filusuf Perancis yang terkenal yaitu Mourice Buccelle (1920-1998), ia berkomentar bahwa “al-Qur’an adalah kitab paling utama yang telah diturunkan oleh kepedulian azali untuk ummat manusia”.

Orientalis Edwar Gibbon (1737-1794) berpendapat “Al-Qur’an diterima dari wilayah Samudera Atlantik sampai sungai Lijan (Malaysia). Ia adalah UUD (dustur) yang bukan saja berisi pokok pokok agama semata, melainkan juga merupakan seperangkat hukum sipil bagi kehidupan manusia. Syariat Muhammad meliputi ummat seluruhnya, dari penguasa tertinggi sampai rakyat jelata, syariat yang paling adil dan paling sarat dengan ilmu yang tidak ada tandingannya di semesta ini”. Tentu masih banyak lagi argument dari para pakar dan ilmuwan dunia.

Pakar dan ilmuwan dunia telah mengakui al-Qur’an sebagai mukjizat besar bagi Nabi Muhammad SAW, sebagai seorang mukmin kita harus mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pandangan hidup, serta mampu melanggengkan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Kaum Muslimin terdahulu berada dalam puncak kejayaannya saat mereka memegang teguh al-Qur’an.

Untuk itu, suatu keniscayaan dan menjadi kewajiban bagi kita untuk tetap menjaga dan mempertahankan nilai nilai Al-Qur’an masuk dalam setiap ucapan, tingkah dan perilaku dalam kehidupan sehari hari. Tidak hanya membacanya yang selalu di-musabaqah-kan tetapi juga harus ada perlombaan menerjemahkan al-Qur’an dalam pengamalan sehari hari, serta mewariskannya kepada anak cucu.

Terkait upaya mewariskan al-Qur’an, perlu mendapat perhatian bersama adalah menjadikan membaca al-Qur’an sebagai tradisi. Setiap pekerjaan jika sudah menjadi tradisi, maka tidak akan ada beban untuk melakukannya, termasuk membaca al-Qur’an. Banyak hadist terkait dengan keutamaan membaca al-Qur’an setiap hari, diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud yang menjelaskan bahwa salah satu obat penyembuh hati yang sakit adalah dengan membaca al-Qur’an, “hendaknya kamu menggunakan kedua obat obat; madu dan al-Qur’an”.

Membaca al-Qur’an tidak sama seperti membaca koran, ada adab dan ketentuan yang harus dijaga serta dibaca berdasarkan ketentuan ketentuan yang diajarkan dalam ilmu tajwid. Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah, tetapi membaca al-Qur’an yang benar sesuai ketentuan tajwid adalah fardhu ‘ain. Untuk itu, mari membudayakan belajar dan mengajarkan al-Qur’an, perbaiki bacaan al-Qur’an agar kualitas bacaan dalam shalat menjadi lebih sempurna. Dalam sabdanya Rasulullah mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.

Menjadikan membaca al-Qur’an sebagai tradisi harus dimulai dari pribadi dan keluarga. Rumah seorang muslim pasti di dalamnya terdengar bacaan al-Qur’an, sekurang kurangnya usai shalat Maghrib. Pastikan bahwa rumah kita dihiasi oleh bacaan al-Qur’an, bukan sinetron dan film Korea yang berjilid dan berepisode. Sudah saatnya mengganti kebiasaan kita yang telaten dan teratur membaca koran setiap pagi dengan menjadikan bacaan al-Qur’an sebagai sebuah tradisi, hati akan sehat pikiran akan tenang. Mentradisikan membaca al-Qur’an harus menjadi memori kolektif dan diterapkan oleh setiap orang, tidak hanya di rumah, kantor dan juga tempat tempat lainnya.

Untuk mendukung tradisi membaca al-Qur’an perlu penguatan regulasi dan aturan resmi, apalagi aturan ini diberlakukan di nanggroe  yang telah memproklamirkan pemberlakukan syariat Islam dengan al-Qur’an sebagai sumber utamanya. Dalam dunia pendidikan, kemampuan baca tulis al-Qur’an sejatinya menjadi salah satu syarat kelulusan. Peserta didik diwajibkan untuk terampil baca tulis al-Qur’an sesuai dengan standar ilmu baca tulis al-Qur’an. Andai ada pelajar di Aceh yang kualitas baca al-Qur’annya rendah, apalagi ada yang buta baca tulis al-Qur’an, ini adalah aib nanggroe syariat Islam.  

Al-Qur’an tidak hanya hiasan pajangan, lebih dari itu hendaknya al-Qur’an mampu mewarnai kehidupan, mulai dari bangun pagi sampai tidur kembali, mulai dari persoalan kecil hingga persoalan persoalan besar. Mari bertanya dan temukan sendiri jawabannya. Sudah benarkan cara kita membaca al-Qur’an sesuai kaidah kaidah ilmu tajwid? Apakah al-Qur’an adalah bacaan kita setiap hari? Sudah benarkah kita memposisikan al-Qur’an sebagai way of live dalam hidup kita. Sudah sesuaikah pikir, tutur, sikap dan tindakan kita dengan al-Qur’an sebagai pedoman? Jika jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut adalah “belum”, belum terlambat untuk segera memperbaikinya. Allahumma irhamna bil al-Qur’an.

Komentar

Loading...