Merawat Psikologis di Pusaran Covid-19

Merawat Psikologis di Pusaran Covid-19
A A A

Oleh Intan Dewi Kumala, S.Psi., M.Si  (Dosen Prodi Psikologi FK Unsyiah, Peneliti TDMRC Unsyiah, Anggota HIMPSI Wilayah Aceh, dan Pengurus FPRB Kota Banda Aceh).

 Banda Aceh, acehtoday.com - Data kasus positif virus corona (Covid-19) terbaru di Indonesia terus menunjukkan peningkatan jumlahnya. Sejak diumumkan kasus terkonfirmasi positif pertama oleh Presiden RI, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai angka 2.000. Di sisi lain, angka kematian akibat Covid-19 juga masih meningkat.

Case fatality rate (CFR) atau rasio kematian pasien Covid-19 di Indonesia berkisar 9%. Saat tulisan ini dibuat, kasus terkonfirmasi positif sudah menyebar di 32 provinsi, dengan penambahan angka kasus di sejumlah wilayah.

Kecepatan penularan ini dimungkinkan dari riwayat kontak, baik dari orang yang kemungkinan positif secara langsung, maupun tidak langsung. Mengingat hal ini, akankah sikap santai, abai, dan meremehkan pada sebagian orang tetap mengemuka?

Slovic, ilmuwan psikologi yang banyak menelaah tentang risiko mengatakan bahwa cara orang memandang risiko bersifat subyektif. Risiko juga tidak terlepas dari pikiran dan konteks budaya, karena konsep risiko membantu orang untuk memahami dan mengatasi bahaya dan ketidakpastian dalam hidup. Jadi meskipun bahaya-bahaya itu nyata, tidak ada yang namanya risiko nyata atau risiko objektif.

Untuk menghadapi krisis kesehatan ini kita butuh persepsi yang sama terhadap risiko. Pandemi Covid-19 sulit ditanggulangi jika masih ada sebagian besar orang yang memandang remeh bahayanya sehingga masih saja melakukan aktivitas yang justru menambah laju pendemi.

Jika melihat grafik pertambahan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), dan yang terinfeksi positif, jangankan mereka yang dikenakan ‘status’ atau label tersebut, kita yang saat ini Insha Allah dalam keadaan sehat wal’afiat ini saja bisa ‘lemas’ karena jumlah tersebut tidak berbanding lurus dengan yang dinyatakan sembuh.

Hampir setiap hari berita yang dirilis di lini media massa berisikan kabar buruk tentang Corona. Hanya segelintir saja yang mengulas keberhasilan penanggulangannya, konon lagi menyoroti cerita dari mereka-mereka yang berhasil sembuh dari Corona. Banyak yang merana karena corona, energi dan mental load kita terkuras karenanya.

Keterpaparan yang tinggi terhadap informasi atau berita, baik itu dari media massa seperti televisi, surat kabar, atau media berita online serta jaring media sosial seperti WhatsApp, Telegram, Instagram, dan twitter dapat berdampak pada munculnya fikiran dan emosi negatif pada sebagian besar orang dan menimbulkan perasaan takut, cemas, dan khawatir berlebihan yang berujung pada kondisi pikiran tidak tenang, hati tidak damai, dan sulit tidur.

Belakangan banyak orang yang mengeluhkan mengalami sakit kepala, tegang bahu, sulit tidur, mual, sakit perut, bahkan merasakan mengalami gejala serupa dengan Covid-19 seperti demam, flu, batuk kering, tenggorokan sakit, dan susah bernafas.

Psikosomatis dan Coronaphobia

Selain terpapar virus, kuman atau bakteri, faktor genetik, kurangnya waktu istirahat dan tidur yang berkualitas, tekanan psikologis dapat menurunkan daya tubuh yang pada akhirnya menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah sakit.

Kondisi psikologis juga dapat menyebabkan psikosomatis atau adanya gangguan atau penyakit fisik yang disebabkan oleh beban psikologis dan emosi negatif yang banyak dan berulang serta rendahnya kemampuan menyelesaikan masalah (coping mechanism) sehingga termanifestasi dalam bentuk fisik serta keluhan yang lebih bermakna seperti mengalami kelelahan padahal tidak mengalami hal yang berat.

Secara sederhananya psikosomatis adalah problem yang ada di pikiran dan batin yang manifestasinya timbul di badan, dalam bentuk keluhan fisik umumnya di bagian perut, dada, dan kepala (sakit kepala, sesak nafas, tegang bahu, sulit tidur, mood mudah berubah, dan lain-lain).

Gangguan psikosomatis tidak muncul sama pada setiap individu dan dapat dialami pada semua usia. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kondisi ini lebih rentan dialami pada usia produktif dengan beban psikososial lebih tinggi (pekerjaan, finansial, dan sebagainya).

Masalah mental emosional yang tidak terdeteksi dan tertangani secara baik dapat mengakibatkan ketidakseimbangan (susunan saraf pusat, syaraf otonom, serta sistem hormonal) dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga dapat menyebabkan gangguan fisik/penyakit.

Selain itu, kondisi ini dapat memperparah mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah seperti lansia, mereka dengan kondisi penyakit kronis (diabetes, jantung, penyakit autoimun, atau kondisi pernafasan tidak prima, riwayat tumor/cancer, dan sejenisnya) atau penyakit yang menyebabkan rasa tidak berdaya.

Banyak orang mengalami keluhan somatik setelah mengalami situasi yang sangat buruk seperti kehilangan orang yang dicintai, mengalami kekerasan, menghadapi bencana alam atau berada pada situasi krisis seperti menghadapi pandemi covid-19.

Keluhan somatik dapat muncul dari membaca, mendengar, menonton tayangan atau informasi yang negatif. Informasi serupa bila terus diulang, dilihat, dibaca, dibicarakan, diingat, dibayangkan, atau didengarkan maka, akan terekam dalam memori bawah sadar dan baru akan hilang setelah dilakukan upaya secara sadar untuk mengganti informasi ini dengan informasi lain.

Mengatasi Keluhan Psikosomatis Covid-19

Beberapa hal berikut ini dapat kita lakukan agar tidak dilingkupi perasaan merana dan gangguan psikosomatis yang bersumber dari luapan gelombang informasi negatif :

1.    Utamakan mencari informasi yang menambah pengetahuan untuk menjaga diri dan lingkungan dari potensi terpapar wabah penyakit. Mengetahui sudah berapa banyak orang yang terinfeksi, berapa yang meninggal, dan berapa yang sembuh secara terus menerus dapat membuat psikis anda terganggu.

Semakin seseorang membaca dan mengingat gejala-gejala Covid-19, semakin sering informasi ini diulang dan dimunculkan dalam pikiran, maka semakin kuat informasi tersebut. Carilah informasi berkualitas baik hanya dari sumber yang terpercaya, akurat, dan terukur. Sebisa mungkin batasi akses ke media sosial (whatsapp/IG distancing) untuk memberikan ruang terhadap mental load, lalu rasakan perbedaannya setelah itu.

2.    Jaga rutinitas harian Anda atau buat rutinitas baru di masa penerapan physical/social distancing ini. Gunakan banyak waktu dengan membaca buku-buku positif, berolahraga ringan, bercengkrama tentang hal yang menyenangkan bersama keluarga, nonton film atau video komedi, mendengarkan musik sambil bernyanyi, melakukan eksperimen sains semisal 5-minute crafts, relaksasi, berdoa, berzikir dan mengaji, atau hal positif lainnya yang  dapat membuat pikiran dan perasaan kita lebih tenang dan bahagia.

3.    Bekali diri dengan informasi praktis untuk mengakses bantuan bilamana diperlukan. Bila merasa tidak enak badan dan mengalami gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, dan seterusnya, segera periksakan kesehatan di puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. Mengetahui keadaan kesehatan jauh lebih baik untuk melindungi diri dan keluarga dari kemungkinan tertular penyakit. Ingat Covid-19 dapat disembuhkan!

4.    Adalah normal bila Anda merasa takut, cemas, khawatir, serta mengalami emosi negatif lainnya pada situasi krisis kesehatan ini. Namun, mengalami emosi negatif secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi fisik dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Rubah mindset kita. Virus corona belum tentu mengenai semua orang. Saatnya kita memerangi wabah ini dengan olah fikir dan olah rasa.

Sebarkan vibrasi positif untuk diri sendiri dan lingkungan, serta informasi yang sifatnya membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang banyak. Buat rencana praktis untuk melindungi diri Anda dan orang-orang terdekat.

5.    Berikan dukungan emosional dan sosial kepada keluarga, saudara, teman, tetangga, dan  kolega. Temukan peluang untuk memperkuat cerita positif dan penuh harapan mengenai mereka-mereka yang berhasil sembuh dari infeksi virus corona.

Anda juga dapat mengakses layanan konsultasi psikologis (online) secara bebas biaya yang disediakan oleh Asosiasi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan atau/ layanan konseling online yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia apabila kekhawatiran, kecemasan, dan kegelisahan yang diakibatkan wabah korona dirasakan semakin menggangu dan belum dapat teratasi.

 6.    Tunjukkan empati Anda dengan tidak mendiskriminasi mereka yang memiliki Covid-19 atau yang sedang berada dalam perawatan maupun pemantauan (ODP, PDP, orang terkonfirmasi Positif). Ini bukanlah aib. Mereka yang terdampak pantas mendapatkan dukungan, belas kasih, dan kebaikan kita. Hal ini dapat mengakselerasi penyembuhan dan kesehatan mental.

Kondisi krisis kesehatan ini menuntut kita melakukan berbagai penyesuaian. Proses ini tentu menantang dan tidak mudah.

Namun penting diingat untuk tetap mengupayakan yang terbaik dari diri kita, mengelola fikiran dan emosi positif, serta menanamkan harapan bahwa pandemi ini akan berakhir dan memberikan banyak hikmah dalam kehidupan personal kita. Jangan Lengah, Tetap Waspada, Bersama kita bisa lalui masa sulit ini.[]

Komentar

Loading...