Merdeka Usai Ramadhan

Merdeka Usai Ramadhan
A A A

oleh Zarkasyi Yusuf  [ASN di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh]

Banda Aceh, acehtoday.com  -  Goenawan Mohammad menulis dalam “Catatan Pinggir” tentang “merdeka”. Menurutnya, orang ingin merdeka karena tahu apa artinya tidak merdeka. Tidak merdeka berarti; tiap saat siap ditempeleng, dilucuti, dibentak-bentak, diusir, dihina, diserobot, didiskriminasi, dilempar ke dalam sel, dan atau dibunuh.

“Merdeka” dengan “tidak merdeka” memperlihatkan dua kondisi yang saling berbeda dan bertolak belakang, satu dipahami positif dan satunya lagi dipahami negatif. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa merdeka adalah bebas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu (leluasa).

Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perintah untuk “merdeka” adalah dalam surat At-Tahrim ayat 6, dalam ayat tersebut Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”.

Itulah seruan Allah kepada manusia untuk memerdekakan diri dan keluarga dari api Neraka, seruan ini menjadi kewajiban yang harus dijalankan untuk mewujudkan kehidupan yang merdeka, terutama kehidupan di akhirat kelak.

Pentingnya “Merdeka”

Allah menyediakan dua tempat balasan amal perbuatan manusia, yaitu surga dan neraka. Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, disediakan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

Sedangkan neraka adalah tempat yang penuh dengan azab dan siksa, diperuntukkan bagi orang yang melakukan pelanggaran (maksiat). Dalam sabdanya, Rasulullah mengingatkan bahwa surga itu untuk orang taat walaupun ia seorang hamba Habsyi (negro), neraka bagi yang maksiat walau ia pemuka Quraisy.

Jangan beranggapan bahwa neraka dan surga adalah urusan akhirat, serta ogah dan tidak mau ambil pusing memikirkan kedua tempat tersebut selama di dunia, anggapan ini adalah salah besar. Tempat kembali nanti sangat tergantung dari usaha kita di dunia sebagai tempat mengumpulkan amalan (mazra’ah akhirat).

Ramadhan menjadi salah satu media bagi manusia untuk menggapai kemerdekaan dari neraka. Ramadhan merupakan kesempatan emas, apalagi dengan malam lailatul qadar yang dijanjikan Allah, malam yang kelebihannya alfu syahr (seribu bulan). Salah satu doa Malaikat Jibril yang diaminkan Rasulullah adalah “Celakalah seorang yang memasuki Ramadhan namun dia tidak diampuni” (HR. Hakim dan Thabrani)”.

Tantangan Usai Ramadhan

“Mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibandingkan saat meraihnya”, pesan ini bermakna bahwa mempertahankan sebuah keberhasilan jauh lebih sulit dibandingkan perjuangan untuk meraih keberhasilan itu sendiri”.

Ramadhan berlalu dengan sukses, tibalah Idul Fitri sebagai hari “proklamasi” bagi orang-orang yang telah menggapai kemerdekaan saat Ramadhan, hari dimana Allah mengampuni dosa-dosa hamba yang telah beribadat dalam Ramadhan, semua manusia berbahagia ketika menyambut datangnya Idul Fitri.

Sisi lain, Idul Fitri merupakan star awal dalam menghadapi tantangan dan rintangan yang lebih berat, Iblis kembali melancarkan manuver-manuver baru untuk memperdaya manusia, sebab iblis tidak akan pernah senang jika manusia diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Dari Wahab bin Munabbih (34-131 H) ra, Rasulullah bersabda “sesungguhnya Iblis (Raja) memekik histeris pada setiap hari raya Idul Fitri, lalu tentara Iblis berkumpul mengerumuninya dan bertanya : Hai Tuan kami, apakah yang menyebabkan kemarahan anda?

Iblis berkata : sesungguhnya Allah benar-benar telah mengampuni dosa ummat Muhammad saw pada hari ini. Maka kamu sekalian harus berusaha keras menggoda mereka dengan segala macam kelezatan, kesenangan nafsu dan bermabuk-mabukan”. Iblis akan kembali menebar pasukannya untuk memperdaya manusia dan mengotori keampunan yang telah diraih ketika Ramadhan.

Iblis tidak akan pernah membiarkan manusia berlalu begitu saja, dia berjanji akan memperdaya manusia dari segala penjuru, ini merupakan permohonan Iblis yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-‘Araf ayat 16-17 “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, maka saya benar-benar akan menghalangi mereka di Jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka (merayu) dari depan dan belakang, kanan  dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”.

Sufi besar Al-Muhasibi (165-242 H)  menjelaskan  bahwa Iblis amat pandai menyesuaikan bisikannya dengan kondisi manusia yang dirayunya. Orang-orang durhaka digodanya dengan   mendorong yang bersangkutan  meninggalkan ketaatan kepada Allah dan dibisikan kepadanya bahwa perbuatannya (yang buruk)  adalah  baik.

Upaya setan itu biasanya langsung mendapat sambutan mangsanya. Adapun terhadap  orang  yang taat kepada Allah, bisikan setan dilakukan dengan cara mendorong agar meninggalkan amalan-amalan sunah dengan berbagai dalih, misalnya letih atau mengganggu  konsentrasi  saat   mengamalkannya, bahkan menimbulkan  pikiran-pikiran yang dapat mengurangi nilai amal ibadah. 

Kenyataannya, kita menyaksikan bagaimana suksesnya manuver iblis dalam menggoda manusia, banyak kegiatan bermunculan dalam rangka menyambut hari kemenangan (Idul Fitri), pantai dan tempat-tempat wisata dipenuhi pengunjung, muda-mudi bersenang-senang dengan dalih silaturrahmi, serta perkara-perkara lain yang dapat merusak dan mengotori kefitrahan yang telah dicapai dalam Ramadhan. Ketahuilah, setiap kegiatan meski berkedok syiar, namun dihiasi oleh perbuatan yang dapat merusak kefitrahan yang telah diperoleh maka itu adalah skenario Iblis.

Menghindari godaan iblis dengan berbagai skenarionya, kita dianjurkan untuk selalu beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Kegemaran beribadah usai Ramadhan merupakan salah satu indikator bahwa ibadah kita diterima oleh Allah dalam bulan Ramadhan, sungguh sebuah keberuntungan yang luar biasa. Ulama berpesan “betapa malangnya orang yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan lain Allah dilupainya”.

Salah satu amalan yang dianjurkan dalam bulan syawwal adalah puasa selama enam hari atau sering disebut orang Aceh dengan puasa nam, puasa syawwal bagaikan pelengkap puasa Ramadhan, Rasulullah bersabda “Barang siapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan, lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan syawwal, maka seperti ia berpuasa selama setahun” (HR. Muslim).

Manusia dituntut untuk berjihad melawan godaan iblis, membentengi diri dengan amalan-amalan yang menjadi “rompi” anti godaan Iblis, “Dan jika kamu ditimpa godaan setan, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa waswas setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A'raf: 200-201).

Merujuk surah At-Tahrim ayat 6, sebagai pemimpin diri dan keluarga maka kita harus melakukan tindakan preventif membentengi diri dan keluarga dari godaan Iblis untuk mengotori “kemerdekaan” yang telah diraih.Selamat Idul Fitri, Kullu ‘aamin wa nahnu bi khair” (Semoga sepanjang tahun kita baik-baik saja). Semoga kita mendapat keampunan dari Allah, diberikan kekuatan untuk melawan setiap godaan yang mampu mengotori dan menghancurkan kefitrahan yang telah diraih di hari nan-fitri. Ya Allah, selamatkanlah kami dari tipu daya setan.[]

Komentar

Loading...