AcehTiket2

Mimpi Indonesia Mengembalikan Kejayaan Minyak Bumi

SKK Migas Mematok Target Produksi 1 juta Barel per Hari Pada 2030.

Mimpi Indonesia Mengembalikan Kejayaan Minyak Bumi
Ilustrasi ladang minyak Foto: Pixabay
A A A

Jakarta, acehtoday.com -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), mematok target produksi minyak menyentuh angka 1 juta barel per hari pada 2030.

Pada era 1970-an, produksi minyak Indonesia memang pernah melampaui 1 juta barel per hari, tapi setelah itu terus menurun dan sekarang tinggal 750 ribu barel per hari.

Target tersebut dinilai tak realistis oleh Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Sebab, eksplorasi migas membutuhkan waktu panjang, kira-kira 6 tahun.

Ditambah dengan berbagai proses perizinan, faktor teknis serta nonteknis, sebuah ladang minyak baru bisa berproduksi dalam waktu di atas 10 tahun sejak ditemukan.

Sebagai gambaran, cadangan minyak Blok Cepu yang ditemukan pada tahun 2000 baru mulai berproduksi pada 2015. Blok Masela yang cadangannya ditemukan melalui eksplorasi pada 2001, baru akan memulai produksi pada 2026.

Artinya, kalaupun ada cadangan minyak baru yang ditemukan sekarang, belum tentu sudah mulai produksi pada 2030.

Ditambah lagi berdasarkan data historis, produksi minyak nasional terus menurun sejak akhir 1990-an. Target produksi minyak yang ditetapkan dalam APBN kerap gagal dicapai.

Seorang perajin mendaur ulang besi bekas untuk dijadikan miniatur pompa angguk minyak di Kota Pekanbaru, Riau. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro

"Saya enggak yakin 1 juta barel per hari itu bisa tercapai. Berdasarkan historical data, saya pesimistis. Produksi turun terus beberapa tahun ini, enggak pernah naik," kata Fahmy saat dihubungi kumparan, Senin (2/12).

Ia menambahkan, untuk menggenjot produksi minyak nasional, Indonesia harus cukup atraktif bagi investor. Masalahnya, negara-negara produsen minyak lain sudah melakukan banyak reformasi supaya iklim investasinya lebih bagus.

Vietnam dan Kamboja misalnya, kata Fahmy, sekarang sudah menjadi saingan Indonesia di bisnis hulu migas berkat reformasi kebijakan yang dilakukan kedua negara tersebut.

Ia mendukung rencana perizinan satu atap di SKK Migas supaya Indonesia tak tertinggal dari negara-negara kompetitor. Selain itu, kontrak bagi hasil harus lebih fleksibel, tidak harus menggunakan gross split maupun cost recovery. Sehingga, proyek hulu migas menjadi lebih menarik secara keekonomian.

"Pesaing kita sekarang Vietnam dan Kamboja. Investor akan lebih banyak ke sana. Tapi kalau rezim kontrak bisa lebih fleksibel, perizinan satu atap di SKK Migas, ini (Indonesia) jadi cukup atraktif," ujarnya.

Kepala Divisi Komunikasi dan Program SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher, mengatakan sudah menyiapkan langkah-langkah mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030.

Birokrasi akan dipangkas dengan kebijakan perizinan satu pintu. Sehingga cadangan-cadangan minyak baru bisa memasuki tahap produksi dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Menurut Wisnu, ini bukan hal mustahil. Pada 1980-an, sumber-sumber minyak baru bisa berproduksi hanya dalam waktu 5 tahun sejak ditemukan.

Lapangan Jangkrik dan Merakes di Selat Makassar juga bisa menjadi contoh bahwa eksplorasi dan produksi migas bisa dikebut.

"Sekarang kita lagi finalisasi bagaimana perizinan hulu migas bisa 1 pintu di SKK Migas. Kami bicara lintas kementerian agar ini tidak hanya menyediakan desk di SKK Migas, tapi all permits diurus. Pada saatnya akan kita luncurkan. Organisasi SKK Migas juga akan berubah," tegasnya.

Ilustrasi SKK Migas. Foto: Dok. SKK Migas

Di samping eksplorasi untuk menemukan cadangan-cadangan baru, SKK Migas juga berupaya mengatasi laju penurunan produksi minyak dengan penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). "EOR salah satu cara kita menembus target produksi minyak," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto optimistis produksi minyak nasional bisa kembali menyentuh 1 juta barel per hari. Sebab, Indonesia mempunyai 128 cekungan migas, baru 54 cekungan saja yang sudah dieksplorasi, sisanya 74 cekungan belum tersentuh.

Dwi mengakui tak mudah mewujudkan mimpi produksi minyak 1 juta barel per hari. Industri hulu migas adalah bisnis yang berisiko tinggi dan butuh kekuatan finansial besar, keuntungan baru bisa dinikmati dalam jangka panjang.[]

Sumber:Kumparan
acehtiket1

Komentar

Loading...