AcehTiket2

OPEC+ Curang, Arab Saudi Geram & Kehilangan Kesabaran  

OPEC+ Curang, Arab Saudi Geram & Kehilangan Kesabaran  
Foto: Reuters
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Arab Saudi tampaknya sudah kehabisan kesabaran dengan adanya dugaan kecurangan di tubuh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), plus Rusia dan produsen lain, atau aliansi yang dikenal sebagai OPEC+, terkait dengan kebijakan memangkas produksi minyak.



Komitmen pemangkasan produksi minyak itu sebetulnya dilakukan guna mengimbangi kelebihan produksi dari negara-negara produsen minyak lainbya seperti Irak dan bahkan Rusia.



Namun pemerintahan di Riyadh, tampaknya sudah merasa cukup dan kehabisan kesabaran soal pemangkasan produksi ini karena faktanya negara-negara anggota justru memproduksi dengan jumlah di atas kesepakatan.

Foto: File foto; Pangeran Arab Saudi Abdulaziz bin Salman menghadiri Forum Energi Internasional di Cancun, Meksiko. Raja Arab Saudi Raja Salman menggantikan menteri energi negara itu dengan salah satu putranya sendiri Minggu, 8 September 2019, menunjuk Pangeran Abdulaziz bin Salman ke salah satu posisi paling penting di negara itu karena harga minyak tetap keras kepala di bawah apa yang diperlukan untuk mengimbangi dengan pengeluaran pemerintah. (Foto AP / Israel Leal, File)

Menurut beberapa sumber di kerajaan Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, yang mengambilalih jabatan Menteri Perminyakan Saudi dari Khalid Al-Falih pada September lalu, kemungkinan akan memanfaatkan momentum pertemuan OPEC pertamanya sebagai Menteri Perminyakan Saudi pada minggu depan.

Pada kesempatan itu, dia mengisyaratkan posisi Arab Saudi sebagai produsen dominan di OPEC dengan tidak lagi bersedia mengkompensasi ketidakpatuhan para anggota lainnya.

OPEC akan menggelar pertemuan di Wina, Austria, pada 5 Desember mendatang yang diikuti oleh aliansi OPEC + termasuk Rusia. Tanggal ini juga bersamaan dengan waktu pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) perusahaan minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco, milik Saudi.


"Arab Saudi mengambil langkah yang lebih sulit dari keputusan sebelumnya," kata Amrita Sen, Kepala Analis Minyak di konsultan Energy Aspects Ltd. di London.


"Riyadh memberi keputusan sangat jelas bahwa mereka tidak ingin memikul semua luka sendirian," katanya dikutip Bloomberg, Minggu (1/12/12019).


Menteri Perminyakan Saudi sebelumnya yakni Al-Falih sebetulnya masih bisa mentolerir kecurangan dan mencoba membujuk negara-negara OPEC+ untuk memotong produksinya sebanyak yang mereka janjikan. Tapi ketika peringatannya gagal dan harga minyak jatuh, ini membahayakan proses IPO Aramco.

Foto: CNBC

Mengacu data perdagangan Nymex, harga minyak jenis WTI terkoreksi minus 5,06% di level US$ 55,17/barel pada Jumat lalu (29/11/2019), sementara minyak Brent minus 4,39% di level US$ 60,49/barel. Setahun terakhir, harga minyak Brent paling tinggi US$ 74,51/barel terjadi pada 23 April 2019 dan terendah US$ 50,47/barel pada 24 Desember 2018.

Awal tahun ini, dalam perubahan kebijakan minyak Saudi selama beberapa dekade, Riyadh memangkas produksi jauh di bawah target yang disepakati.

Pejabat Saudi mengatakan Pangeran Abdulaziz hanya akan mengulangi strategi Saudi selama puluhan tahun, yakni semua pihak perlu berkontribusi untuk memangkas produksi, dan berhasil. Selama masa jabatan Ali Al-Naimi, menteri perminyakan dari 1995 hingga 2016, Riyadh dengan tegas menolak pemangkasan produksi lebih dalam dari yang telah disepakati dalam pertemuan OPEC.

Sang pangeran sudah mensinyalkan komitmen Saudi ini ketika ia menghadiri pertemuan komite OPEC + di Abu Dhabi pada September lalu.

"Setiap negara dihitung tidak dari ukurannya [produksinya]," katanya pada sesi pembukaan pertemuan.


Namun kecurangan meluas. Irak, misalnya, harusnya memproduksi tidak lebih dari 4,51 juta barel per hari, tetapi dalam beberapa bulan ini menghasilkan hampir 4,8 juta barel per hari.


Kazakhstan memiliki batas produksi 1,86 juta barel per hari, namun telah menghasilkan angka mendekati 1,95 juta barel. Nigeria menyetujui kuota 1,68 juta barel per hari, tetapi secara teratur memompa lebih dari 1,8 juta barel per hari.


Rusia telah memompa lebih banyak minyak dari jumlah yang diizinkan OPEC + dalam 8 bulan tahun ini dan sudah memenuhi level produksi dalam perjanjian hanya dalam 3 bulan tahun ini: Mei, Juni dan Juli, ketika gangguan pada pipa minyak utama di sumur Druzhba mendorong produksi di bawah target OPEC +.


Kebijakan mentolerir kecurangan ini sudah mahal bagi kerajaan. Riyadh terpaksa mengurangi produksinya sendiri sebanyak 700.000 barel per hari di bawah kuota OPEC + sendiri untuk mencegah jatuhnya harga minyak.


Pada Desember 2018, Arab Saudi menyetujui batas produksi 10,31 juta barel per hari sepanjang tahun ini. Tapi itu mengurangi produksi secara sepihak awal tahun ini, mencapai level terendah 9,58 juta barel per hari pada Juli.


Lantaran Saudi harus memangkas produksi lebih dalam dari yang lain, maka Arab Saudi mendapat lebih sedikit keuntungan dari pemulihan harga minyak.


Badan Energi Internasional mencatat Rusia, misalnya, menghasilkan sekitar US$ 170 juta sehari lebih banyak dibandingkan dengan kuartal terakhir 2016 ketika pemotongan produksi OPEC + pertama kali disetujui. Arab Saudi hanya menghasilkan hanya $ 125 juta lebih.


Saudi sebelumnya memang mendesak anggota OPEC untuk memangkas produksi demi menjaga kestabilan pasar. Negara OPEC ditambah Rusia atau sering disebut OPEC+ sebelumnya pada Maret telah menyetujui untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020.[]

Sumber:CNBC
acehtiket1

Komentar

Loading...