Pak Erwe pun Terjepit Covid-19

Pak Erwe pun Terjepit Covid-19
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

 Jakarta, acehtoday.com -  Mulai kemarin saya menggunakan nama covid-19 untuk meggantikan virus corona ketika berbicara kepada istri, tetangga, bahkan kepada  pembantu saya yang selalu gagal menulis "kacangpanjang"  di kertas  leceknya ketika hendak ke pasar.

Toh, meski sudah berganti menjadi Covid-19, sang virus tersebut tidak juga menghentikan kiprahnya di kolong langit ini. Tabiat mautnya makin menjadi-jadi. Kini 199.000 orang dari 152 negara telah digerogoti virus ini. Dari jumlah itu, 79.000 orang dinyatakan sembuh,  tapi 7.138 orang lainnya  tanpa ada alasan yang jelas harus pindah ke alam baka.  Untuk makhluk yang demikian ganas ini, nama Covid-19 berlebihan.  Saya khawatir, Ahmad Dhani  keberatan dengan perubahan nama virus ini.

Tapi, ya, sudahlah. Soal nama, saya sudah memantapkan hati memilih covid-19. Saya tidak akan membiarkan diri untuk ragu-ragu, apalagi membelah hati seperti terbelahnya warga RT saya tentang boleh atau tidaknya shalat berjamaah di masjid di musim Covid-19 ini.

Sebetulnya kalau sekadar menyerang tubuh-tubuh molek dan tampan orang di mal-mal, masih masuk akal. Kenapa mereka kumpul di mal? Tapi  virus asing ini, dikabarkan berani  menyerang jamaah yang sedang mendekatkan diri kepada sang kholiqnya di masjid. Ini sungguh tak masuk akal.

Tapi virus ya virus. Mana paham antara manusia di mal dan orang  di masjid. Jika ada kesempatan, pasti mereka akan menyerbu. Orang yang berdiri tanpa jarak, paling rentan menjadi penerima dan kemudian menjadi pembawa virus ini kepada anak-bininya di rumah.

Itu alasan pemerintah berikap tegas dengan melarang semua bentuk kerumunan manusia. MUI mengeluarkan fatwa yang membenarkan sementara waktu menggantikan shalat jumat dengan shalat dzuhur di rumah masing-masing. Maka tidak peduli itu acara  perayaan menyambut bulan ramadhan, turnamen bola volley putri tingkat kecamatan, pasar keget untuk menyambut hari ulang tahun desa saya, semua dibatalkan.  

Dari semua orang di kampung saya, Pak camatlah yang paling terpukul. Pak camat yang rumahnya di bilangan RT sebelah RT saya ini,  berencana  mengadakan acara resepsi perkawinan putri semata wayangnya secara besar-besaran. Hasil perundingan dengan istrinya setengah tahun lalu, ia akan  mengundang 500 tamu, terutama warga yang se-RW dengannya, dan memotong empat ekor kambing dan belasan ekar ayam.      

Resepsi pernikahan itu harus terlaksana segera dan tidak boleh gagal. Gagal berisiko calon menantunya yang bertubuh atletis dan bekerja pada sebuah PT terkenal urusan makanan  ternak itu, bisa digondol gadis lain.  Tapi karena serbuan covid-19,  sang camat yang selalu siap memberi penerangan kepada semua golongan masyarakat,  harus taat. Di rumahnya pun tidak ada  keramaian.

Keputusan berat,  memang. Karena keputusan ini napasnya  nyaris terhenti pula saking shock memikir nasip sang putrinya. Andai istrinya tidak segera memberi saran bahwa  pesta resepsi bisa diganti dengan acara akad nikah saja, ia bakal kolep seperti kolep waktu mudik lebaran lalu ke Banyuasin. Dalam akad nikah ini, jelas istrinya,  undangan cukup belasan orang saja. Tapi perkawinan tetap jadi dan afdol. Pak camat setuju, tapi kini yang berganti sedih adalah tetangga saya: gagal makan gule kambing.

Ikhwal Pak Camat adalah sepenuhnya urusan domestik. Lain lagi urusan yang dihadapi Pak Erwe. Pak Erwe benar-benar merasa ketiban masalah besar, dan itu menurutnya, sungguh tidak adil. Seharusnya urusan yang segenting itu tidak jatuh di pundaknya, baiknya dipikul oleh  para pentinggi di sana. Dia yakin, menteri agama sendiri  akan mengerutkan alisnya yang tebal itu  menghadapi hal kebingungan ini. Bayangkan, tiba-tiba di negara ini banyak sekali muncul petuah aneh bin asing tentang bagaimana menghadapi wabah covid-19. Pencetus hujjah-hujjah asing ini pun sangat beragam. Ada yang ngaku ustad, ada yang disebutorang pintar. Bahkan ada yang memperkenalan diri pengamat, dan yang tak kalah menggegerkan adalah hujjah penuh keimanan dari sang jenderal sungguhan.

Seperti kemarin, seorang jenderal yang pernah menjadi panglima di republik ini memperlihatkan sikap aslinya yang pemberani:  berani menghadapi fatwa MUI. "Lihat di China yang komunis," ujarnya. "Orang beramai-ramai ke masjid, belajar berwuduk dan ikut shalat berjamaah," tambahnya, dengan tak kepalang berani.

Sementara, seorang pengamat urusan segalanya, yang dalam tulisannya selalu memperlihatkan sikap sangat sayang dan takjub kepada seorang habib yang kini menyingkir ke negeri lain, meminta kepada rakyat di negeri yang malang ini agar memohon kepada sang habib untuk sudi kiranya mengirim doa jarak jauh. Dengan doa tersebut, covid-19 yang bengal ini pasti akan tersapu bersih dan enyah ke dunia lain. Sang pengamat urusan segala hal yang bergerak ini, di akhir kalimat tak lupa menambahkan dengan syahdu , "walau negeri ini telah mengusir beliau."

Hiruk-pikuk di panggung besar, mengalir ke panggung mungil di desa saya. Gegara petuah-petuah menggegerkan perkara jumatan  ini, Pak Erwe yang sehari-hari selalu tersungging senyum tipis dan tak tergasa-gesa itu, berubah menjadi kalang-kabut. Ia belum sempat memperbaiki letak peci hitam  yang miring ke kiri ketika saya menghampirinya. Rupanya ia baru saja menerima tujuh  tetangga saya  yang tak puas di tingkat Pak Erte lantas membawa urusan teramat mendasar ini ke tingkat Pak Erwe: kita jumatan di rumah atau di masjid? 

Pak Erwe yang telah mendapat kabar melalui grup WA, wilayahnya telah masuk dalam peta positif Covid-19 Pemerintah DKI, tidak bisa selugas Pak Erte. Pak Erte, yang memiliki pergaulan luas karena menjadi anggota sebuah organisasi yang paling kesohor se-Jabotabek,  membawa informasi menggegerkan. "Jumatan, menurut Em-U-Ik, bisa digantikan dengan solat dohor di rumah," ungkapnya dengan  meyakinkan.

Pak Erwe yang pernah sukses menghadirkan seorang ustad kondang di layar TV ke masjid utama di RW-nya, hatinya sepakat dengan Pak Erte itu. Tapi apa daya mengahadapi pamannya, yang menjadi ketua dewan masjid  utama ini. Pamannya, ibarat  tak terpengaruh dengan musim angin apapun,  konsisten menyerukan "mari makmurkan masjid" walau di musim covid-19.  "Tak masuk akal", katanya pada  sambutan paling menentukan di sebuah pengajian ibu-ibu se-RW, "makhluk sekecil itu membuat kita takut berjamaah di masjid."

Ia lantas menyitir pendapat seorang ustad, pengamat, jenderal di atas,  "Takut kita hanya kepada Allah, bukan kepada virus!!!." Serunya, dengan mata nyaris mendelik ke arah istrinya yang duduk paling  depan dan tidak tahu-menahu soal covid-19.  Pak Erwe, yang juga turut hadir, hanya diam. Paman dari istrinya ini memang sangat menakjubkan jika bertemu toa. Tapi lebih dari sekedar toa, pengaruh paman inilah yang membuatnya terpilih jadi ketua RW tiga bulan lalu.

Maka apa gunanya kalau setelah dia menjadi ketua RW,  masjid menjadi melompong. Hal itu bukan saja akan membuatnya  makin hilang muka di hadapan pamannya ini. Tapi, lebih jauh, makin tak berdaya ia berhadapan dengan istrinya yang  sangat disayangi  pamannya itu.

"Silakan masuk, Pak," ujarnya kepada saya, dengan muka keruh dan lupa tersenyum. Saya yang biasanya sudah cukup puas diikutsertakan rapat pemilihan ketua panitia maulid di tingkat RT, merasa menjadi orang sangat penting petang itu. Betapa tidak. Tak ada angin, tak ada hujan, Pak Erwe meminta saya  mencari jalan keluar  terhadap ikhwal yang teramat pelik di atas.

"Melihat sejarah", ungkap saya kepada Pak Erwe, sedikit  berlagak seperti orang  kampus. "Bukankah dalam pemilu lalu, Haji Nacing ini menjadi pendukung utama Pak Anies sebagai gubernur?"

Pak Erwe mengangguk enggan, dan masih belum mengetahui arah pembicaraan saya.

"Nah, sampaikan kepada beliau bahwa keputusan untuk meniadakan shalat Jumat untuk sementara waktu  adalah himbauan dan sikap Pak Anies yang percaya kepada ikhtiar."

"Tidak bisa, pak" sergahnya, secepat cahaya menerpa.

"Paman saya ini telah jadi pengagum gubernur Sumut, yang yakin kepada takdir".

Komentar

Loading...