Pekan Lalu Menguat Gila-gilaan, Rupiah Kini Terkapar

Pekan Lalu Menguat Gila-gilaan, Rupiah Kini Terkapar
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6/2020), cukup jauh di atas Rp 14.000/US$. Memburuknya sentimen pelaku pasar membuat rupiah tertekan pada perdagangan hari ini.

Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,5% ke Rp 14.020/US$. Depresiasi rupiah semakin membengkak hingga 1,45% ke Rp 14.152/US$. Posisi rupiah sedikit membaik, pada pukul 12:00 WIB, rupiah berada di level Rp 14.122/US$, melemah 1,23% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Rupiah berada di dalam fase konsolidasi sejak awal pekan, sebelum melemah tajam hari ini. Maklum saja, pada pekan lalu rupiah menguat "gila-gilaan" nyaris 5%, menembus jauh ke bawah Rp 14.000/US$ hingga kembali ke zona hijau secara year-to-date (ytd).

Derasnya aliran modal yang masuk ke dalam negeri menjadi penopang penguatan rupiah pekan lalu. Derasnya capital inflow ke dalam negeri terlihat dari lelang obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) Selasa (2/6/2020 yang penawarannya mencapai 105,27 triliun. Ada 7 seri SBN yang dilelang kemarin, dengan target indikatif pemerintah sebesar US$ 20 triliun, artinya terjadi oversubscribed 5,2 kali.

Pemerintah menyerap Rp 24,3 triliun dari seluruh penawaran yang masuk, di atas target indikatif, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Tingginya daya tarik SBN juga terlihat di pasar sekunder. Berdasarkan data DJPPR, sepanjang pekan lalu, ada inflow sebesar 9,61 triliun. Inflow tersebut terbilang besar, melebihi inflow sepanjang bulan Mei Rp 7,07 triliun.

Di pasar saham, juga terjadi inflow yang cukup besar. Berdasarkan data RTI, sepanjang pekan lalu investor asing melaukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 3,45 triliun di all market.

Sementara hal sebaliknya terjadi di pekan ini, dalam tiga hari pertama di pasar obligasi terjadi outflow sebesar 2,34 triliun, sementara di pasar saham dalam sepekan terjadi aksi jual Rp 435,88 miliar di pasar reguler.

Pergerakan rupiah memang sangat rentan oleh keluar masuknya aliran modal (hot money) sebagai sumber devisa. Sebabnya, pos pendapatan devisa lain yakni transaksi berjalan (current account), belum bisa diandalkan.

Sejak tahun 2011 transaksi berjalan RI sudah mengalami defisit (current account deficit/CAD). Praktis pasokan valas hanya dari hot money, yang mudah masuk-keluar. Ketika terjadi capital outflow yang besar maka tekanan bagi rupiah akan semakin kuat.

Capital outflow hari ini terjadi akibat memburuknya sentimen pelaku pasar setelah terjadi lonjakan kasus pandemi penyakit virus corona (Covid-19) di AS, dan outlook pemulihan ekonomi yang kurang bagus.

Memburuknya sentimen pelaku pasar terlihat dari bursa saham AS (Wall Street) yang ambrol pada perdagangan Kamis kemarin. Indeks Dow Jones ambles nyaris 7%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing lebih dari 5%. Penyebabnya, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di AS.

Kasus corona baru di AS meningkat menjadi 20,2486 kasus per hari dari sebelumnya 17,376. Secara total, jumlah pengidap virus corona mencapai 2 juta orang di AS dengan 116.000 korban jiwa.

Negara bagian Texas mencatatkan rekor tertinggi pasien Covid-19 dalam tiga hari terakhir. Sembilan wilayah di California juga melaporkan kenaikan kasus corona.

Selain itu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang memberikan outlook perekonomian yang kurang cerah juga membuat sentimen pelaku pasar memburuk. Dini hari tadi, The Fed mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 0-0,25%, dan tidak akan dinaikkan dalam hingga beberapa tahun ke depan. The Fed memproyeksikan ekonomi AS akan berkontraksi 6,5% di tahun ini, dengan tingkat pengangguran sebesar 9,3%.

Suku bunga yang berada di rekor terendah, dan tidak akan dinaikkan dalam beberapa tahun ke depan menjadi indikasi perekonomian AS kemungkinan tidak akan mengalami pemulihan yang cepat.

Alhasil, rupiah yang selama ini ditopang bagusnya mood pelaku pasar yang mengalir modal ke dalam negeri harus mengalami tekanan.[] 

Sumber:CNBC

Komentar

Loading...