Pemerintah Aceh Sakit, Investor Mundur dari KIA Ladong

Pemerintah Aceh Sakit, Investor Mundur dari KIA Ladong
A A A

Oleh Dr Taufiq A Rahim (Pengamat Ekonomi dan Pembangunan)

Banda Aceh, acehtoday.com -  Masyarakat heboh dengan keputusan CEO Trans Continent Ismail Rasyid yang dalam bisnis internasional sukses, namun di Aceh harus angkat kaki.

Dia membangun kawasan industri di Ladong Aceh Besar harus berakhir. Hal ini dengan penuh kekecewaan besar, mengangkut peralatan kerjanya serta mengakhiri untuk tidak lagi berinvestasi di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong.

Yang setahun lalu dengan cara hingar bingar diresmikan oleh Pemerintah Aceh, tetapi tidak didukung sarana dan prasarana lingkungan untuk kawasan industri, juga kepastian aturan atau qanunnya yang menjamin.

Demikian juga, proses industri dalam investasi yang besar, sesungguhnya mesti adanya jaminan keamanan dan yang paling penting lingkungan hidup, juga yang memiliki kesadaran untuk berubah kearah kehidupan yang lebih modern.

Yang mendasar sekali persoalan investor dan investasi serta penanam modal enggan membangun industri di Aceh adalah prasarana dan sarana penting seperti, lahan yang tidak feasibel, air bersih, listrik, sanitasi, kondisi lingkungan yang sehat.

Namun jika semua dibebankan kepada investor, terlalu banyak biaya (cost) yang terserap terhadap pendukung biaya produktif dari modal yang dipersiapkan akan terkuras. Belum lagi biaya yang tidak terduga lain sebagainya, akan menggaggu perhitungam awal proses produksi dari aktivitas industrinya.

Yang juga sangat prinsipil adalah, aturan undang-undang atau qanun investasi masih banyak yang tidak mendukung iklim investasi di Aceh. Namun keinginan dan hasrat besar industri di Aceh terutama industri pengolahan dan manufaktur tidak didukung oleh resources (sumber daya alam) yang tersedia di Aceh, kecuali diimpor dari luar Aceh.

Hanya saja minat besar dan investor serta masih adanya keinginan investor untuk melakukan aktivitas industri yaitu, industri yang resources-nya berupa bahan tambang dan bahan dasar sekali, kemudian diolah di luar Aceh.

Hal yang harus menjadi perhatian, tidak hanya semangat ingin menjadi kawasan industri, tetapi investor disuruh urus sendiri prasarana dan sarana pendukung.

Seperti pembangunan industri di Lhokseumawe dan Aceh Utara dengan migas, pupuk dan lainnya, ini pada tahap awal juga penekanan pendekatan keamanan sangat tinggi serta ketat. Karena kutipan juga akan dilakukan oleh siapa saja, baik resmi maupun tidak resmi (liar) akan berlaku, jika jamiban keamanan tidak ketat.

Membangun industri dan kawasan yang masih tidak adanya jaminan keamanan yang ketat, qanun/aturan yang sangat tidak kondusif, serta belum berubahnya pola pikir masyarakat di sekitar kawasan industri. Ini nenjadikan iklim investasi tidak sehat sama sekali. Kondisi Aceh hari ini dengan lemahnya leaderships Pemerintah Aceh, juga merupakan kondisi investasi juga tidak terjamin untuk stabilitas iklim membangun industri.

Dengan demikian, iklim investasi Aceh yang tidak sehat, tidak menjamin keberadaan industri baru di Aceh. Iklim investasi tidak bisa berdiri sendiri, juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah yang kuat dan sehat, juga lingkungan, prasarana dan sarana, juga pola pikir masyarakat lingkungan telah berubah, modern dan ingin maju. Baik secara ekonomi, sosial-budaya dan politik dan lain sebagainya. Hengkangnya investor menjadi risiko ekonomi dan politik di Aceh, karena iklim investasi tidak sehat.[]