Rba3

Pemimpin yang Menjadi Hamba Tuhan dan Pemimpin yang Menjadi Tuhan Kecil

Oleh T. Muhammad Jafar Sulaiman, MA

A A A

Suatu hari, Seorang GURU SUFI berkata: "Jika sesorang menjadi pemimpin, maka hendaklah dia menjadi pemimpin hanya untuk mengabdi, bukan memperkaya diri.

Jika pemimpin memimpin untuk memperkaya diri, maka dia kehilangan kesempatan terbaiknya untuk mengabdi kepada Tuhan, maka dia kehilangan kesempatan untuk menjadi hamba Tuhan.

Mengapa seorang pemimpin harus mengabdi kepada Tuhan dan menjadi hamba Tuhan ?, karena dengan segala kekuasaan, kekuatan dan penghormatan yang ada padanya, dia masih punya tempat menundukkan dirinya, sehingga dia akan terhindar dari merasa menjadi Tuhan kecil bagi rakyat yang dipimpinnya.

Kalau pemimpin bertujuan memperkaya diri, maka dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekayaan dengan kekuasaannya, sehingga menyebabkan dia berpaling dari mengutamakan dan mementingkan urusan kesejahteraan rakyat”.

Pemimpin yang memimpin hanya untuk mengabdi, maka dia akan selamat dunia dan akhirat, karena dia telah menyerahkan dirinya, telah merelakan dirinya berada dijalan yang benar, yaitu menjadi hamba Tuhan, dengan menjadikan kepemimpinannya sebagai lahan pengabdiannya kepada Tuhan.

Pemimpin dengan kriteria diatas, pemimpin yang selesai dengan dirinya sendiri tidak akan pernah bisa didapat jika tanpa bimbingan seorang Guru rohani yang kapasitasnya adalah Wali Allah, karena sosok ini tahu segala kekotoran hati para pemimpin, yang bisa dibersihkan, bisa dihilangkan dengan bimbingan dan kasih sayang seorang Guru.

Namun, jika pemimpin menemukan Guru pembimbing yang tidak tepat, maka kekotoran hati pemimpin bukannya hilang, tetapi justru semakin menumpuk bahkan bertambah-tambah lagi dengan penyakit hati.

Menjadi pemimpin adalah sebuah pertanggung jawaban besar. Pertanggung jawaban dunia akhirat, pertanggung jawaban pengetahuan, pertanggung jawaban intelektual, pertanggung jawaban akhlak, pertanggung jawaban sejarah, pertanggung jawaban legacy (warisan).

Pemimpin diperlukan karena perlunya satu sosok yang dapat menjadi orang tua yang bijak bagi seluruh anak-anaknya dari berbagai ragam agama, ras, budaya, etnis, dan status sosial.

Pemimpin adalah milik bersama seluruh rakyatnya, bukan milik kelompok tertentu, agama tertentu, atau golongan tertentu. Pemimpin yang berpengetahuan, mengayomi, melayani, bijak, berani, dan menjadi milik bersama adalah syarat mutlak kepemimpinan sepanjang masa.

Pemimpin yang semata - mata untuk mengabdi hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, dia telah selesai dari segala keinginan duniawinya, sehingga semua kekuasaannya, semua visinya ketika memimpin tidak lain hanya untuk mengabdi.

Pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri, sangat sulit dicari, namun tetap akan ada. Ketika menemukan pemimpin seperti ini, maka manusia seperti menemukan sebutir mutiara dalam gelap gulita.

Namun, semua hal diatas tidak akan pernah terjadi bagi seorang pemimpin, jika tanpa bimbingan seorang Guru, tentu bukan guru politik, guru strategi, tetapi Guru Rohani, Guru Sufi.

Pemimpin yang mengabdi kepada Tuhan, tidak akan pernah terjadi kecuali pemimpin itu punya seorang Guru Rohani yang kapasitas dan otoritas spiritualnya terkoneksi lansung dengan Tuhan, yang akan membimbingnya siang dan malam, tempat dia menundukkan diri, tempat dia menyerahkan diri untuk dibimbing, tempat dia bersimpuh.

Guru Rohani disini adalah seorang Wali Allah, yang menyembunyikan diri dari manusia, karena Dia hanya menyibukkan diri dengan Allah, tidak mau menyibukkan diri dengan urusan manusia, sehingga sosok seperti ini harus dicari oleh para pemimpin untuk berguru kepadanya, seperti bergurunya Sultan Al Fatih kepada seorang Syekh.

Pemimpin yang tidak mau memenuhi kriteria ini, maka sama saja, sepanjang hayat kepemimpinannya, hanya menghadirkan kekacauan selama dia memimpin dan hanya akan mewariskan segala kekacauan ketika dia tidak agi memimpin.

Guru Rohani seperti ini adalah seorang ulama yang tidak pernah jatuh dalam intervensi politik, ulama yang terbebas dari segala intervensi politik, apalagi bertandang dan berkunjung ke istana-istana pemimpin, karena bagi-Nya yang berhak dikunjungi hanyalah Allah semata.

Ulama seperti ini adalah ulama yang tidak pernah takut kehilangan umat, tidak pernah menginginkan pujian-pujian manusia, karena pujian Allah baginya sudah lebih dari cukup.

Ulama seperti ini adalah ulama yang sangat murni, karena dia hanya lalai dengan Allah, dan tidak pernah lalai dengan manusia, lalai dengan segala tingkah polah manusia, bahkan pada hal-hal yang tidak penting.

Ulama seperti ini adalah ulama yang tidak pernah hadir meresmikan jembatan, meresmikan bangunan, meresmikan rumah, meresmikan gapura bahkan meresmikan menara-menara.

Ulama ini adalah ulama yang juga tidak pernah naik kepanggung politik manapun.

Maka, para pemimpin perlu menemukan ulama yang seperti ini sebagai Guru pembimbingnya, karena jika pemimpin menemui Guru seperti ini, maka dia akan dibimbing bagaimana mengabdi kepada Allah dengan jalurnya sebagai seorang pemimpin, sehingga pemimpin ini terbebas dari segala ketakutan, bebas dari segala teror dan terbebas dari berbagai sandera-sandera politik.

Guru rohani disini, bukanlah guru klenik, dukun atau paranormal, yang memberikan pemimpin itu jimat-jimat dan pantangan - pantangan, jika pemimpin jatuh dan tunduk dalam pelukan guru klenik ini, maka pemimpin itu telah mengabdi kepada Setan dan tidak pernah mengabdi kepada Allah.

Hasilnya adalah kekacauan dan kerusakan dimana - mana, karena pemimpin telah menundukkan dirinya pada yang bukan haq.

Para dukun, paranormal yang kadang kala juga bersorban dan berjubah ini juga hafal ayat-ayat Suci, bahkan dengan suara merdu, tetapi yang haq dan yang batil itu setipis kulit bawang, sehingga pemimpin terkecoh dengan ayat- ayat Tuhan yang dibacakan.

Turunan selanjutnya dari pemimpin yang mengabdi kepada Tuhan melalui bimbingan seorang Wali Allah adalah pemimpin yang tidak mempolitisasi agama, pemimpin yang tidak menghukum dan mempermalukan rakyat kecil sebagai tontonan demi prestasinya.

Pemimpin yang tidak mendengar “pembisik” dari berbagai lingkaran. Pemimpin yang sering berjalan di siang dan malam hari melihat rakyatnya, bukan berjalan malam untuk menggrebek, melainkan untuk melihat apakah rakyatnya sudah makan dan sudah terpenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Pemimpin yang turun menjenguk rakyatnya tanpa menunggu undangan seremonial panen perdana, potong pita peresmian gedung atau berbagai seremonial lainnya.

Pemimpin yang mengabdi kepada Tuhan adalah pemimpin yang punya "Self Autority", "Self Power", pemimpin yang punya kepemimpinan yang utuh dan kuat.

Kekuatan kepemimpinan yang bersumber dari pribadi otonom sang pemimpin, bukan kepemimpinan yang ditentukan dan dibentuk oleh lingkaran-lingkaran di sekitar.

Jika karakter otonom pribadi pemimpin tidak kuat, maka kepemimpinan akan sangat mudah terpengaruh oleh berbagai kepentingan dari sekitar lingkaran-lingkaran tersebut.

Ini adalah problem klasik kepemimpinan di manapun dalam sejarah manusia.Kenapa karakter otonom pemimpin harus utuh dan kuat, karena pemimpin adalah cermin dan gambaran realitas bagi rakyatnya. Pentingnya posisi pemimpin sebagai cermin bagi rakyatnya.

Bagi seorang pemimpin juga berlaku hukum "as above so below" (sebagaimana di atas, seperti itu di bawah) dan "as Inside, so Outside" (sebagaimana di dalam, begitu juga di luar”).

Berdasarkan teori ini, segala yang terjadi di luar pemimpin, apa yang terjadi di luar istana pemimpin, maka itu adalah cermin sebenarnya, gambaran utuh dari kondisi seorang pemimpin.

Apa yang dialami oleh rakyatnya, adalah cermin dari diri pemimpin itu. Ketika pengangguran meningkat, kemiskinan di mana-mana, maka itu adalah cermin dari miskinnya ide, visi, rasa dari seorang pemimpin.

Ketika di luar terjadi kegaduhan, kekacauan, ketidak nyaman, maka itu adalah cermin nyata dari kacau dan labilnya diri seorang pemimpin

Dalam konteks ini, pemimpin adalah teladan, yang memberi contoh melalui kebijaksanannya, keramah tamahannya, kesederhanannya.

Disini, pemimpin tampil sebagai sosok yang tidak mencari-cari kesalahan diluar dirinya, tetapi segera memeriksa dan introspeksi dirinya sendiri. Karena, apapun yang terjadi dan apapun yang dilakukan oleh bawahannya maka itu menjadi tanggung jawab pemimpin.

Jangan sekali – kali pemimpin atau dilingkaran pemimpin berkata : “rakyat bandel, rakyat tungang, karena sebandel-bandelnya rakyat, setungang-tungangnya rakyat, rakyat tidak pernah bertanggung jawab terhadap negara, karena rakyat bertanggung jawab memikirkan nasibnya sendiri yang tidak dipedulikan negara, sedangkan pemimpin bertanggung jawab penuh dan mutlak terhadap nasib rakyatnya, sekalipun itu ditanggung – tanggung saja tanpa pernah ada jawaban”.

Pemimpin yang mengabdi kepada Tuhan adalah pemimpin yang melihat dengan hati dan mendengar dengan mata.

Melihat dengan hati adalah melihat sekaligus merasakan keadaaan sebenarya. Melihat dengan hati hanya bisa kita perolah dari pemimpin yang bisa mengakses lansung gelombang Ilahiyah, terkoneksi dengan jalur Ilahiyah, sehingga pemimpin tersebut melihat mendengar dan merasakan tidak lagi dengan mata manusianya, tetapi sudah dengan mata Ilahiyah.

Jika pemimpin tidak terkonek dengan gelombang dan frekwensi ilahiyah, maka pemimpin tersebut akan mengakses gelombang setan, sehingga hasilnya adalah centrang prenang dimana-mana.

Pemimpin yang memimpin tanpa bimbingan dari ulama yang punya kapasitas dan otoritas spiritual, ataupun salah mendapat bimbingan, maka dia tidak akan menjadi hamba Tuhan tetapi hanya akan menjadi Tuhan kecil.[]

Komentar

Loading...