Penunggang Angin Populisme (2/2)

Penunggang Angin Populisme (2/2)
A A A

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com -  Sudah jelas dalam ekonomi pasar, uang harus bejibun. Agar tersedia selalu modal banyak, pelaku pasar harus punya hubungan baik dengan semua lembaga keuangan nasional dan internasional. Hubungan baik itu disebut akses modal. Jika memiliki akses modal, maka segala benda dan urusan bisa dipikirkan untuk dibeli dan dibawa ke Indonesia. Disneyland yang ada di Hollywood pun bisa di bawa ke tengah hutan Jawa.   Tapi sejauh ini, pribadi terpercaya yang punya akses tersebut, orang-orangnya itu saja. Sementara  pedagang di Pasar Ular  jangankan memilki akses ke lembaga-lembaga keuangan, kenalan dengan seorang satpam bank cabang pembantu saja tidak ada.

Harapan yang diberikan demokrasi dan ekonomi pasar sungguh sangat tinggi tapi kini menjelang gagal. Lihat, kata pakar tadi, tidak ada rakyat yang makin hebat kuasanya dalam demokrasi Indonesia  dan tidak ada rakyat Indonesia yang berubah menjadi  makmur dalam ekonomi pasar ini. Justru karena ekonomi pasar ini, ketimpangan ekonomi dalam masyarakat makin mencolok. Orang kaya makin kaya, yang miskin tambah melarat. Justru karena pasangan sejoli  demokrasi dan ekonomi pasar inilah, orang kaya makin jaya dalam politik.

Itulah celahnya, lanjut pakar tadi, yang tengah dintip para penunggang angin populis. Karena urusan ketimpangan di atas, orang-orang bermunculan mencoba mengekploitasinya dengan segala cara dan segala jampi-jampi. Siapa tahu jika nasib sedang  berpihak, tiba-tiba mereka bisa jadi seperti Lech Walesa di Polandia.  Dari buruh galangan kapal, jadi presiden.

Karena jarang orang Indonesia yang ada kumis setebal seperti Walesa, maka para penunggang angin ini, mencari model tampila lain, yang mengesankan tidak memenatingkan dunia. Karena masih mementingkan dunia, apa bedanya dengan elite yang dicerca di atas?

Biasanya seperti politisi India yang hendak menjual konservatisme agama, semua perlu ditunjukkan untuk dikuti orang banyak.  Tunjukkan cara minum kencing sapi karena sapi itu keramat. Dijamin, peminumnya bakal tambah sehat dan hilang jerawatnya. Jika banyak pengikut yang doyan kencing sapi, berarti sebagai ukuran, ia makin dipercaya untuk bertempur dalam kancah bratayudha politik.

Jika Hindu didekati dengan simbol sapi, maka rakyat  di Indonesia dapat pula dihampiri dengan semua simbol-simbol padang pasir Arabia: ada  unta dengan penunggangnya; ada  kurma dengan pemilik kebun kurmanya, dan semua jenis manusia dengan segala sebut-sebutanya. 

Saking penting simbol-simbol ini, ada teman yang membawa batang kurma untuk ditanam di sini. Teman ini haqul yakin, panennya bakal sama dengan di Arab. Karena negeri di sana dan di sini  tidak ada bedanya, sama-sama Islam. Bahkan,ada tokoh penunggang angin populisme ini yang dengan  riang-gembira memperagakan cara minum kencing unta.

"Coba lihat, hingga sekarang saya tetap bugar dan jerawat pun hilang, semua karena khasiat kencing unta," aku tokoh ini, yang persis  politisi di India tersebut. 

Peran tokoh-tokoh peminum kencing unta seperti inilah yang bertugas mempercepat masyarakat lekas sadar bahwa mereka ditindas oleh elite saban hari dan saban tahun .   Jika tidak tidak sadar-sadar juga, cari pelecut agar mereka terkejut. Pelecut itu banyak, berupa hantu-hantu. Ada hantu Yahudi, ada  hantu komunis, dan ada hantu China. 

Untuk lebih afdol karena masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama yang taat, jangan gunakan istilah rakyat. Silap-silap dikira PKI pula karena PKI saja yang teramat sanang membawa-bawa nama rakyat. Tapi gunakan istilah "umat".  Jika "umat" yang digunakan,  bukan hanya tukang listrik,  tapi tukang kebun di gunung, pengembala kambing di desa pun  dijamin  bakal tersengat.

Mereka akan bangkit dari mimpi jika digugah dengan kata-kata  "demokrasi yang tidak memihak umat Islam", dan "pembentukan negara Islam sebagai solusi akhir". Pokoknya kasih rumus yang bisa menjadi panasea, obat untuk segala penyakit. Panaseanya adalah "negara Islam atau khilafah".

Jika itu diterima, dijamin  umat di bumi ini akan makmur dan sejahtera seketika, tanpa perlu ekonomi pasar. Negara pun akan menjadi perkasa luar  dan dalam. Karena makmur dan perkasa, dipastikan pula, China yang ingin menjadikan Indonesia  sebagai negara komunis, pasti akan lari terbirit-birit ke laut.

Pejaten Barat, 31 Mei 2020.

Komentar

Loading...