Perginya Sang Pejuang Sunyi  (1/2)

Perginya Sang Pejuang Sunyi  (1/2)
A A A

sangat menderita tatkala berada di atas  kursi roda. Ia merasa seluruh  bagian belakangnya  sangat sakit.

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com  -  Belahan tahun hanya tertelungkup di pembaringan, dan hanya mampu menggerakan satu jari, akhirnya pemuda Srilanka yang lahir 37 tahun lalu ini, meninggal dunia Selasa (28/4/2020). Kematian Irfan Hafiz yang mulutnya selalu tertutup alat pendorong pernapasan itu,  membuat seluruh rakyat di negara pulau yang kerap tercabik karena isu sentimen sektarian tersebut, terhenyak dan merasa kehilangan.

Mengikuti pendapat dokter 30 tahun lalu, anak yang semula riang ini diperkirakan tidak akan melampaui usia 13 tahun. Ia mengidap disebut Distrofi Otot Duchenne (DMD), ganggguan bawaan kelemahan otot. Tapi karena tekadnya sendiri dan kasih sayang lingkungannya, membuat pemuda ini bisa menikmati dunia dan memperkenalkan dunia melalui kacamatanya kepada kita hingga minggu kemarin,  25 tahun  lebih lama dari perkiraan dokter. Bahkan ia menulis tiga buah buku, "Silent Strugle", "Moments of Merriment" dan "Strugle of Though" yang luar biasa isinya dan karena caranya ia menulis. Ketiga buku tersebut dia selesaikan dengan hanya  dengan satu jari yang masih mampu ia gerakkan.

Irfan anak ketiga dari delapan bersaudara, yang lahir cukup sehat pada 1981. Maka oleh tuanya, Hafiz,   seorang guru, ia diberi nama Irfan, yang artinya orang bijaksana yang selalu bersyukur. Ayahnya yang seorang kecil berharap,  dalam keadaan serba terbatas, kelak anaknya akan selalu bersyukur.

Ia disekolahkan seperti anak-anak lainnya karena ia memang normal. Hanya para guru memperhatikan, anak ini sedikit lamban pergerakannya. Sekali waktu, ia ikut lomba lari.  Walau akhirnya mencapai finis, tapi itu dilakukannya dengan sangat susah payah dan paling akhir. Maka oleh guru, hal itu dilaporkan kepada ayahnya. Hafiz yang harus mengajar, meminta istrinya membawa Irfan ke dokter di rumah sakit kecil dan sederhana di Matara. Hasil diagnosa, dokter perempuan itu menduga, Irfan terkena simpton yang disebut DMD. Meskipun demikian ia meminta orang tua Irfan untuk mencari opini kedua.

Irfan diantar ayahnya ke rumah sakit lebih besar dan lebih canggih di Kolombo. Di rumah sakit ini akhirnya orangtuanya menerima  vonis bahwa Irfan terserang DMD. Seseorang yang terkena simpton ini, akan mengalami kerusakan otot secara ptogresif, dan dalam waktu dekat akan kehilangan kekuatan sama sekali. Sejauh ini belum ada obat untuk menyembuhkan seseorang yang terkena simptom ini.

Maka tentu saja, tak terbayangkan hancurnya hati sang guru kecil ini ketika menyadari  nasib buruk yang menimpa buah hatinya. Bahkan dokter memperkirakan Irfan, yang saat itu beranjak usia delapan tahun itu, tidak akan bertahan hingga empat tahun lagi. Sekembali dari Kolombo, setelah membaringkan Irfan seraya tersenyum, Hafiz keluar dari rumahnya dan menghambur ke rumah ibunya. Di sana, menurut penuturan nenek Irfan itu, Hafiz bersimpuh di depan ibunya tersebut dan sesugukan sampai pagi. Ibu Hafiz yang arif menasihatkannya untuk pulang dan berdiri di depan Irfan secara tegar, seakan tidak ada apapun yang terjadi. Hafiz melakukan hal itu.

Setahun kemudian, Irfan tidak bisa berjalan lagi, dan hidup di atas kursi roda. Sebagai anak-anak, sebagaimana pengakuannya, ia merasa sangat kehilangan. Ia harus menyaksikan anak-anak lain dan adik-adiknya berlarian dan bermain kriket di belakang rumahnya.

Irfan menjadi cepat tersinggung dan keras kepala. Neneknya menasihatinya agar Irfan tidak boleh mudah tersinggung. Tapi Irfan tidak  bisa menerima nasihat neneknya dan `nasihat siapapun  kecuali ayahnya. Ayahnya, biasanya sepulang dari mengajar, mendekati Irfan dan bercerita tentang contoh-contoh soal kebajikan yang hidup di sekitar mereka dan juga bercerita tempat-tempat jauh yang pernah Irfan ingin mengunjunginya.

Irfan dikarunia keluarga besar yang  baik. Musibah yang menimpa Irfan, membuat lainnya sangat terlibat. Pamannya, abang ayahnya, yang tinggal jauh di Kolombo, setiap minggu memastikan melihat Irfan.  Jarak 174 km, ia tempuh hanya sekadar berbincang dengan keponakannya.  Irfan mengemukan kepada pamannya, ia telah kehilangan semua minatnya  untuk belajar, kecuali bahasa Inggris dan komputer. 

Rupanya, pamannya tidak pernah diam untuk keponakannya. Pada waktu-waktu istirahat dari tugasnya, ia akan bersilancar di internetnya, dan akhirnya menemukan  di Amerika ada yang dikenal Duchenne Parent Project (DPP). Jika menjadi anggotanya, maka proyek ini akan menyediakan segala informasi berharga tentang  penyakit itu. Paman Irfan senang bukan kepalang, ia mendaftarkan atas nama adiknya, Hafiz, menjadi anggota Parent Project itu. Beberepa minggu kemudian, Hafiz segera mendapatkan surat undangan dari Dr Elizabeth Vroom, Ketua Parent Project Belanda, yang mengundang Hafiz untuk ikut konferensi DMD di Belanda. Dr Vroom, yang  juga memiliki putra yang terserang simptom ini, ingin Hafiz mendapat pehamahan yang lengkap tetang DMD. Sejak itu, Irfan merasakan, ayahnya sedikit lebih bergairah.

Dalam perkembangan, Irfan jadi lebih tenang dan jarang membantah. Ia senang dengan keberadaan di sekitarnya, terutama kepada abang dan kakaknya, yang selalu memberikan waktu kepadanya. Ibu dan kakaknyalah yang merawatnya siang dan malam. Setelah itu, adik perempuannya yang terkecil menggantikan ibunya, seorang ibu rumah tangga yang tidak banyak bicara.

Jika malam tiba, Irfan senang sekali karena kakaknya akan mendorong dia ke lapangan di belakang rumah mereka. Di sana ia akan menyaksikan teman-teman dan adiknya bermain kriket. Irfan sangat menyukai permainan ini, dan mempelajari secara seksama. Meski ia duduk jauh di atas kursi roda, setiap terjadi perselisihan, para pemain cilik ini akan meminta pendapat Irfan. Irfan yang jeli dan paham sekali permainan kriket, memberikan pendapat yang memuaskan semua pihak.

Menjelang usia 18 tahun, ia merasa sangat menderita tatkala berada di atas  kursi roda. Ia merasa seluruh  bagian belakangnya  sangat sakit. Dan, yang lebih mengerikan, ia merasa semakin sulit bernapas. Ayahnya menyadari, Irfan sudah habis masa kemampuan untuk duduk, dan karena semua otot, termasuk otot pernapasan menjadi lemah,  ia akan menghadapi kesulitan bernapas.

 Pejaten Barat, 1 Mei 2020

Komentar

Loading...