Perginya Sang Pejuang Sunyi  (2/2)

Perginya Sang Pejuang Sunyi  (2/2)
A A A

Dia menulis tiga buku dengan satu jari

Catatan Ringan Akhir Pekan T. Taufiqulhadi

Jakarta, acehtoday.com  -  Jika tidak mendapatkan segera alat bantu pernapasan yang disebut ventilator, Irfan akan menghadapi risiko  fatal.  Persoalnya, bagaimana cara mendapatkannya? Harga ventilator tidak kurang dari Rp 45 juta (dalam rupiah).

Meski telah bekerja tanpa kenal waktu, gajinya cukup hanya untuk membiayai keluarganya setiap bulan. Ia tidak berdaya membeli ventilator. Hafiz, yang seakan berpacu dengan waktu, meminta tolong kepada semua kenalannya. Tapi uang yang terkumpul tetap belum memadai.

Dalam situasi yang sangat genting itu, tanpa diduga satu hari datanglah sebuah paket kecil  ke rumahnya. Hafiz membukanya dan isinya adalah  sebuah ventiltor baru. Si pengirim adalah Dr Vroom dari Belanda.

Rupanya, dalam situasi tak berdaya, Hafiz mengeluh kepada perempuan yang baik ini. Dr Vroom yang terkesan dengan situasi keluarga Hafiz, menghadiahkan ventilator baru kepada Irfan. Irfan, yang menghadapi situasi antara hidup dan mati,  merasa seperti datangnya seberkas cahaya menyerbu puncak kepalanya.

Ia  gembira, dan hidupnya merasa lebih mudah. Ia menganggap, Tuhan sangat baik kepadanya. Lebih-lebih ketika suatu hari, di rumahnya juga terpasang jaringan internet.

Meskipun ventilator datang, Irfan ambruk total dalam tahun itu: ia tidak bisa duduk lagi.  Dia hanya berada di tempat tidur. Tapi seperti belum cukup penderitaan pemuda ini, karena semakin lama ia semakin sakit punggungnya, maka dokter menyaran agar ia ditelungkupkan secara permenen. Dengan ditelungkupkan, Irfan merasa lebih nyaman. 

Tapi pemuda ini kini terlihat menggenaskan: tidur harus tertelungkup,  mulutnya tersumbat alat pernapasan,  dan tanpa bisa menggerakkan anggota tubuh sedikitpun lagi kecuali satu jarinya. Tapi anehnya,  mata Irfan tetap cerah.  Irfan  belum  menyerah.

Berbekal sebuah HP sederhana, dan dengan satu jarinya,  ia curahkan semua isi hatinya dan pandangannya tentang dunia sekitar dia. Ia menulis apa saja. 

Kini ia mahir berbahasa Inggris, dengan bahasa ini ia sampaikan isi hatinya dalam tiga buku di atas. Jika ada tamu yang menjenguknya,  ia menatap sang pengunjung  dengan mata gembira, dan bibirnya terus tersungging. Ketika kian lemah, dan semakin sulit bernapas -- karenanya semakin sulit berbicara -- maka ia akan menulis dengan satu jarinya di atas HP-nya yang butut itu " Alhamdulillah atas semuanya." 

Kita hanya menebak saja kenapa Irfan selalu bersyukur kendati dengan kondisinya yang sangat menyayat itu. Buku-buku itulah yang bisa menjelaskan sedikit.

Bukunya memang bercerita tentang kisah hidupnya tapi jauh dari pandangan mengiba.  Justru ia menyampaikan tentang keindahan dunia versinya. Ia menceritakan, hidupnya  indah, karena ayahnya selalu di sampingnya.

Ia merasa hidupnya sangat berharga karena kehadiran semua orang-orang dekatnya;  ia juga tak habis-habis bersyukur, ketika dalam situasi mendesak, selalu saja ada bantuan dari belahan dunia manapun yang tak terbayangkan.

Lebih beruntung lagi, ia dapat menguasai bahasa Inggris dengan dan menulis tiga buah buku.  Ucapan spontan "Alhamdulillah" adalah ekspresi rasa syukur pemuda tak berdaya ini karena ia merasa beruntung.

Irfan mungkin tidak menyadari, kini ia telah menjadi  positive role model bukan hanya bagi sesama penyandang disablitas, tapi bagi kita yang bertubuh sehat. Dia telah membantu kita untuk belajar menghargai kehidupan sekarang dan mendatang. Ia juga telah mendorong semua orang untuk selalu bersikap positip. Ganjalan hanya akan terjadi jika kita yang menciptkan sendiri.

Itulah mungkin yang sering dikisahkah orang-orang yang menuntut ilmu irfani, "Pejuang Sunyi Satu Jari" ini mungkin bagian kebanggaan sang khaliq. Maka ia cepat-cepat memanggilnya kembali untuk  ditempatkan di sisi-Nya agar ia bisa membangga-banggakannya kepada ciptaan-Nya yang lain. Selamat jalan, Irfan, "Sang Pejuang Sunyi".

Pejaten Barat, 1 Mei 2020

Komentar

Loading...