Petani dan Toke Kopi yang Merana Tertimpa Corona

Petani dan Toke Kopi yang Merana Tertimpa CoronaFoto : Lintas Gayo
Pemetik Kopi Gayo
A A A

Oleh:  Syifa Azzahra (Mahasiswa Statistika FMIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

COVID-19 tiba-tiba merubah peradaban dunia, namun Covid-19 juga seperti ingin membawa ribuan korban jiwa sebelum pergi.

Angka-angka terus bertambah seolah bersaing dengan waktu. Jumlah korban yang berjatuhan seolah terus mengikuti perjalanan waktu.

Berbagai langkah telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka penyebaran Corona. Dari social distancing, yang kemudian diganti menjadi physical distancing hinga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar, (PSBB) di semjulah kota-kota besar di Indonesia.

Virus yang teramat kecil ini pula, seketika menjadikan kegiatan ekspor dan impor seperti mati suri.  

Sehingga menyebabkan banyak pesokan barang tertahan dan bahkan ditolak di beberapa negara.

Tidak hanya antar negara, aktifitas ekonomi di juga sepi. Hal ini dialami petani kopi Aceh khususnya kopi Gayo.

April dan Oktober adalah bulan panen kopi pada umumnya. Biasanya harga kopi akan stabil atau mungkin naik pada saat panen karena banyaknya aktifitas ekspor impor kopi.

Bahkan harga tertinggi kopi dapat mencapai hingga Rp 15.000 per-bambu setara 1,2 gram untuk kopi gelondong pada saat panen.

Harga stabil kopi pada umumnya adalah senilai Rp 10.000 per-bambu untuk kopi gelondong. Namun, April tahun 2020 ini harga kopi jatuh akibat dari penyebaran virus Corona.

Pemasukkan yang tidak sesuai dengan pengeluaran menjadi salah satu faktor menurunnya harga kopi tersebut.

Harga jual pasar yang semula Rp 10.000 per-bambu untuk kopi gelondong menurun sekitar 30 sampai 40 %.

Hingga saat ini toke kopi hanya sanggup mematok harga untuk kopi gelondong per-bambunya mencapai Rp 7.000.

Sebelumnya, pelaku usaha kopi bernama Arun, menyebutkan bahwa dalam seminggu belakangan harga kopi hanya dapat dibeli seharga Rp 60.000/kg. Toke kopi di pusingkan dengan keadaan yang semakin gelap bagi dunia usaha.

Seorang toke kopi di Takengon mengatakan bahwa mereka mungkin tidak lagi berani membeli kopi, dari pada merugi.

Beberapa toke kopi mengalami kerugian akibat pandemi Corona ini, kerugianya bahkan mencapai puluhan juta.

Saya melihat sendiri, di tengah pandemi ini petani justru mencari pembeli kopi.  Toke kopi membalasnya dengan wajah yang murung saat petani menawarkan kopinya.

Si petani hanya bisa pasrah ketika si toke memperlihatkan beberapa karung penuh kopi bertumpuk di gudangnya. Seolah sang toke sedang menunjukkan sejumlah kerugian yang dialaminya.

Jika pandemi ini tidak segera berhenti, kemungkinanya para toke akan segera bangkrut, tidak  akan bisa membeli kopi dari petani lagi.

Aduh hai… betapa malangnya nasip petani kopi.

Penghasilan dari uang penjualan kopi kepada toke.

Masa panen kopi segera tiba, dan bencana ini masih terus bertahan.

Menurunnya harga jual kopi diduga karena tingkat konsumsi dunia terhadap kopi gayo menurun pasca pandemi. Seperti yang disampaikan Kasi Promosi Disperidagkop dan UKM Aceh Tengah, Hadiyan Ibrahim.

“Permintaan kopi dunia menurun, importir dari Amerika, Eropa dan lainnya, kini mengurangi pembelian, bahkan harga kopi ekspor beberapa bulan ke depan belum ada, sedangkan kopi yang sekarang masih dikirim, adalah kopi yang sudah dikontrak,” katanya.

Sulitnya ekspor kopi akibat terbatasnya pembeli dari luar negeri dan sarana-sarana logistik untuk pengiriman kopi ke berbagai negara sudah sangat ketat.

Rendahnya harga kopi tidak hanya dialami di Aceh, penurunan harga kopi juga melanda banyak daerah penghasil kopi.

Imbauan untuk tetap dirumah memang bertujuan mencegah penyebaran Corona, namun para petani tidak mungkin diam dirumah tanpa penghasilan.

Pemerintah terus berusaha walaupun belum ada kepastian terkait perekonomian. Masyarakat berharap agar badai virus ini cepat berlalu sehingga perekonomian dapat pulih kembali.

Panen, seharusnya membahgiakan bagi mereka petani dan toke kopi, pandemic segeralah pergi.[]

Komentar

Loading...