Rba3

Puasa dan Hawa Mata

Puasa dan Hawa Mata
A A A

Oleh: Khairul Munadi (Dosen Unsyiah)

Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan (QS. Al-A'raf: 31).


Banda Aceh, acehtoday.com - Ada dua jenis lapar: lapar fisik dan lapar mata. Tapi kita lebih sering makan-minum untuk memenuhi lapar mata. Inilah pangkal penyakit.

Lapar fisik mengindikasikan bahwa tubuh benar-benar perlu makan atau minum. Takarannya? Sedang-sedang saja. Seperti anjuran Rasulullah: hendaknya 1/3 perut diisi untuk makanan, 1/3 untuk minuman, dan 1/3 untuk bernapas.

Sedangkan lapar mata (hawa mata) adalah nafsu. Keinginan makan atau minum karena rasa “kepingin”. Bukan kebutuhan tubuh. Takarannya pun sulit dipastikan karena kepuasan manusia cenderung nirbatas.

Berbagai riset menunjukkan bahwa tubuh jadi sehat ketika pola makan-minum ditujukan untuk sekedar memenuhi lapar fisik. Bukan memuaskan hawa mata. Bukan pula untuk kenyang.

Di Barat, kini popular istilah intermittent fasting (puasa intermiten). Yaitu “puasa yang dimodifikasi” untuk kesehatan mental dan fisik. Orang berpantang makan selama 12, 16 atau 24 jam pada waktu tertentu. Kata para ahli, tubuh lebih mudah membuang racun ketika perut kosong atau sistem pencernaan beristirahat.

Seperti pesan ayat di atas, Islam sejak lama mengajarkan kita untuk tidak berlebihan perihal makan-minum. Secukupnya saja. Sekedar memenuhi lapar fisik.

Bahkan puasa Ramadhan telah diwajibkan sejak lebih 1400 tahun lalu (tahun ke-2 Hijriyah). Selain ibadah, kita meyakini perintah puasa juga untuk menyehatkan tubuh. Dengan berpuasa, bahaya kekenyangan akibat pemenuhan lapar mata lebih mudah dihindari. Seperti kata Imam Asy-Syafii dalam sebuah kitab, “Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.”

Pada waktunya, tubuh akan menyuratkan pola makan-minum yang kita jalankan bertahun-tahun. Apakah mengedepankan pola pemenuhan lapar fisik atau lapar mata. Karenanya, jangan lekas berkesimpulan bahwa sakit tertentu adalah takdir atau keturunan. Bisa jadi itu adalah konsekuensi logis dari pola makan-minum keliru yang menahun.

Seiring melaksanakan perintah Tuhan, puasa demi puasa setiap tahun adalah kesempatan emas menormalisasi pola yang keliru.

Cermatilah bagaimana membuncahnya selera sebelum berbuka puasa, dan porsi yang dapat kita habiskan dengan nyaman setelahnya. Di situ tampak nyata: hawa mata dan lapar fisik berjibaku.

Komentar

Loading...