AcehTiket2

Selain Kopi Robusta, Komoditi Perkebunan di Pidie Cenderung Stabil

Selain Kopi Robusta, Komoditi Perkebunan di Pidie Cenderung Stabil
Biji kakao yang dijemur pada salah satu gudang penampung di Gampong Blang Lileue, Kecamatan Mutiara, Pidie, (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).
A A A

Pidie, acehtoday.com -- Harga jual biji kakao di tingkat petani produsen mencapai Rp 28 ribu hingga Rp 29 ribu per kilogram pada November 2019. Sementara sebulan yang lalu, harga kakao di tingkat petani produsen berkisar Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram atau mengalami kenaikan harga sekira Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu.

Salah seorang pekerja pada penampung kakao di Gampong Blang Lileue, Kecamatan Mutiara, Pidie, Muhammad Usman, 52 tahun, mengatakan, dalam sehari pihaknya mengeringkan 5 ton biji kakao dengan cara menjemur biji-biji tersebut di bawah sinar matahari.

“Saat ini memang hampir habis masa panen kakao. Musim panen kakao dalam setahun dua kali. Jadwal Febuari hingga April panen pertama dan Oktober hingga Desember untuk panen yang kedua kalinya,” kata Muhammad Usman yang ditemui sinarpidie.co, Jumat, 29 November 2019.

Pemilik usaha penampung kakao tersebut, Junaidi, 40 tahun, mengatakan, dalam sepekan pihaknya menampung kakao petani sebanyak 20 ton. Namun, sebutnya, kakao yang berasal dari Pidie hanya berkisar sekira 5 hingga 7 ton dalam sepekan.

“Kakao yang kami tampung ada yang berasal dari Gayo, Biruen, dan Pidie Jaya. Sebelum pengiriman ke Medan dijemur dulu selama tiga hari,” kata Junaidi.

Junaidi juga menampung hasil perkebunan lainnya seperti, pinang, kopi dan kacang tanah. Saat ini, kata dia, harga pinang di tingkat petani bekisar Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram.

“Kalau biji kopi ada dua jenis yang kami tampung, yakni, biji kopi bibit Lampung harganya Rp 25 ribu per kg, sementara harga biji kopi robusta lokal yang berasal dari Tangse dan Geumpang Rp 30 ribu per kg,” kata dia.

Menurutnya, biji kopi lokal dari Tangse dan Geumpang saat ini sudah tidak banyak lagi dibudidayakan petani sehingga produksi biji kopi tersebut pun turun drastis. “Biji kopi lokal asal Tangse dan Geumpang dalam setahun hanya berkisar sekitar 10 hingga 20 ton. Padahal dulu, di bawah tahun 2000-an dalam seminggu bisa mencapai 20 hingga 30 ton,” kata Junaidi.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Pidie Saiful Bahri SP mengatakan, menurunnya produksi kopi robusta lokal di Pidie disebabkan alih fungsi lahan, hama penyakit, dan banyak tanaman kopi yang sudah tua.

“Masa-masa gemilang kopi lokal di Pidie itu periode tahun 70-an sampai 90-an. Setelah itu, banyak lahan kopi petani terbengkalai karena konflik bersenjata,” kata Saiful Bahri SP Jumat, 29 November 2019. “Untuk kakao dan pinang cenderung stabil baik produksi maupun harga di pasaran.” []

Sumber:SINARPIDIE
acehtiket1

Komentar

Loading...