Setelah 4 Pesawat N219, Pemerintah Aceh Anggarkan Pembelian Senjata Rp 1.3 miliar

Setelah 4 Pesawat N219, Pemerintah Aceh Anggarkan Pembelian Senjata Rp 1.3 miliar
Polhut Aceh meningkatkan latihan setelah lima Polhut nyaris terluka saat belasan pelaku illegal logging mengejar mereka dengan senjata tajam di kawasan Konservasi Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, beberapa waktu lalu./ Photo. acehxpress
A A A

Banda Aceh, acehtoday.com  –  Setalah akhir tahun lalu pemerintah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pembelian 4 pesawat terbang N219  senila Rp 324 milia dengan PT Dirgantara Indonesia, dalam APBA 2020 Aceh Pemerintah Aceh menganggarkan Rp 1.3 miliar untuk pengadaan senjata api.

Jurubicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata, membenarkan adanya anggaran pengadaan senjata dalam APBA 2020.

 “Benar ada pengadaan senjata dalam APBA 2020 yg diusulkan oleh DLHK Aceh, “ kata Wira kepada media, pada Senin malam 6 Januari 2020.

Wira merincikan dari total Rp1,3 miliar tersebut dianggarkan untuk pembelian senjata laras pendek 16 unit dengan nilai Rp616.000.000, dan laras panjang 16 unit dengan nilai Rp776.000.000.

Menurutnya, pembelian senjata tersebut diperuntukan untuk polisi penjaga hutan atau Polhut. Wira menambahkan, pembelian senjata tersebut, guna menindaklanjuti qanun Aceh tentang kehutanan yang baru disahkan beberapa waktu lalu. Qanun tersebut mengizinkan Polhut untuk mengunakan senjata api dalam melaksanakan tugas.

Total anggaran Pemerintah untuk penggadaan senjata api di APBA 2020, senilai Rp1.392.000.000. Item tersebut tercatat dalam Peraturan Gubernur Aceh Nomor 80 Tahun 2019 Tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2020.

Selain itu, terdapat pos anggaran belanja modal pengadaan persenjataan non senjata api Rp82.500.000, dan pos anggaran belanja modal Pengadaan alat keamanan dan perlindungan Rp410.800.000.

Ilustrasi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Ir Syahrial, MT menyatakan mengusulkan alokasi belanja sekitar Rp 1,39 miliar untuk pengadaan senjata api, amunisasi, brankas, dan gudang penyimpananya, dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2020.

Hal tersebut disampaikan Syahrial menjawab pertanyaan seumlah awak media di Banda Aceh, Senin (06-01-2020) malam. Ia mengatakan, senjata api dan amunisi tersebut akan digunakan Polisi Hutan (Polhut) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam rangka pengamanan hutan dan operasi ilegal logging di Aceh.

“Polhut dan PPNS kita dilengkapi senjata tajam dan bayonet dalam menjalankan tugas berat dan penuh resiko di tengah rimba selama ini,” kata Syahrial.

Padahal, katanya melanjutkan, Polhut itu dilatih di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah sebagai Polisi Khusus (Polsus) dan diberikan kewenangan oleh perundang-undangan menggunakan senjata api type tertentu untuk penagmanan hutan.

Syahrial menambahkan, Polhut Aceh pernah memiliki senjata api, namun karena Aceh dilanda konflik bersenjata, senjata api Polhut pun  ditarik kembali oleh pihak Kementerian Kehutanan. Sejak itulah Polhut  Aceh yang sebanyak 123 orang, PPNS 30 orang, dan PAMHUT sebanyak 1770 orang, itu hanya bersenjata tajam dan bayonet dalam melaksanakan tugasnya.

“Bertugas di tengah rimba raya tanpa senjata, selain penuh resiko, juga kurang efektif saat berhadapan dengan para pembalakan liar,” tegas Syahrial.

Meski pun demikian, tambahnya, petugasnya tak menenteng senjata tiap hari. Senjata api itu hanya dipakai saat operasi tindak pidana kehutanan saja, dan ada prosedur pencatatan waktu penggunaannya. Rencanan pengadaan tahun ini 16 pucuk senjata laras pendek dan 16 pucuk senjata laras panjang, melalui koordinasi dengan Polda Aceh.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda untuk pengadaan dan perizinannya,” tutup Syahrial.[]

acehtiket1

Komentar

Loading...