Siapa Kata Rasisme tak Berdampak ke Ekonomi AS, Ini Buktinya!

Siapa Kata Rasisme tak Berdampak ke Ekonomi AS, Ini Buktinya!
Foto: Demo Penembakan Warga Kulit Hitam Rayshard Brooks di Atlanta (AP/Brynn Anderson)
A A A

Jakarta, acehtoday.com - Rasisme menjadi isu yang sensitif di Amerika Serikat. Demonstrasi besar-besaran terjadi di negara itu karena isu ini.


Semua bermula dari kematian seorang warga Afrika Amerika George Floyd atas perlakuan polisi Minneapolis yang menangkapnya 25 Mei lalu. Demo juga makin menjadi lagi, saat Jumat (12/6/2020) Rayshad Brooks yang juga warga Afrika Amerika, harus meregang nyawa di tangan aparat di Atlanta.


Meski soal rasisme terbukti tak mempengaruhi Wall Street, setidaknya ekonom top di AS percaya ini akan memperlambat pertumbuhan. Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Robert Kaplan salah satunya.

Foto: Demo Penembakan Warga Kulit Hitam Rayshard Brooks di Atlanta (AP/Brynn Anderson)
A person is covered with liquid after being officials deployed teargas at protesters Saturday, June 13, 2020, near the Atlanta Wendy's where Rayshard Brooks was shot and killed by police Friday evening following a struggle in the restaurant's drive-thru line in Atlanta. (AP Photo/Brynn Anderson)

Selain itu, tingkat pengangguran yang tinggi di antara masyarakat kulit hitam dan keturunan Hispanik juga menjadi kunci dari perlambatan ekonomi tersebut. "Ekonomi yang lebih inklusif di mana setiap orang memiliki peluang akan berarti pertumbuhan tenaga kerja lebih cepat, pertumbuhan produktivitas lebih cepat, dan akan tumbuh lebih cepat," kata Kaplan dalam acara CBS yang dikutip Reuters, Senin (15/6/2020).


Kaplan, bersama dengan mitranya di Bank Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic yang merupakan satu-satunya pembuat kebijakan keturunan Afrika-Amerika di The Fed. Ia meminta mengakhiri rasisme sistematis dan menjelaskan cara bank sentral AS dapat membantu hal tersebut.



"Itu demi kepentingan AS," kata Kaplan. "Kelompok demografis yang tumbuh paling cepat di negara ini adalah orang kulit hitam dan Hispanik. Jika mereka tidak berpartisipasi secara setara, maka kita akan tumbuh lebih lambat."



Kaplan mengatakan, Dallas dan Federal Reserve System telah bekerja selama bertahun-tahun untuk meningkatkan pelatihan keterampilan dan pendidikan bagi masyarakat kulit hitam dan Hispanik.



Dengan meningkatkan pelatihan, angka pengangguran yang tinggi kini sedang menurun secara perlahan. Ia  menambahkan bahwa ia mengharapkan untuk melihat pertumbuhan pekerjaan yang positif mulai bulan Juni ini.



Dia mengatakan kebijakan fiskal, yang ditetapkan oleh Kongres, akan menjadi elemen penting dari pemulihan. Termasuk tunjangan pengangguran yang mungkin "direstrukturisasi untuk menciptakan lebih banyak insentif bagi orang-orang untuk kembali bekerja", serta manfaat bagi pemerintah negara bagian dan lokal.



Rasisme masih hidup dan ketimpangan masih merajalela di AS. The Economist melaporkan warga kulit hitam di Negeri Adidaya masih mengalami disparitas ekonomi, kesehatan bahkan hukum.



Privilese atau hak istimewa yang dimiliki warga kulit putih membuka lebar jarak dengan warga kulit hitam. Memang jarak ini sejatinya sudah menurun sejak tahun 1970-2000, namun setelah itu kondisi kembali memburuk.

Foto: Demo Penembakan Warga Kulit Hitam Rayshard Brooks di Atlanta (AP/Ben Gray)
Police attempt to control protestors outside a Wendy's restaurant Saturday, June 13, 2020 in Atlanta. Georgia authorities said Saturday a man was shot and killed in a late night struggle with Atlanta police outside a fast food restaurant after he failed a field sobriety test and resisted arrest. (Ben Gray/Atlanta Journal-Constitution via AP)

Namun jarak tersebut akan kembali melebar mengingat warga kulit hitam lebih banyak menjadi pekerja yang membutuhkan keterampilan rendah. Ketimpangan kekayaan antara si hitam dan si miskin bahkan lebih lebar dari gap pendapatannya.



Kemiskinan dan pengangguran juga membuat praktik hukuman lebih keras bagi orang kulit hitam, dan praktik itu membuat orang kulit hitam lebih sulit mendapatkan pekerjaan.



Oleh sebab itu, perbedaan dari sisi supremasi hukum inilah yang jadi jantung protes atas kematian George Floyd, hal ini juga makin memperkuat alasan lain, yakni ketidaksetaraan penghasilan dan pekerjaan.



Meskipun dunia sudah bergerak maju dengan pelbagai inovasinya, nyatanya masih banyak data yang menunjukkan bahwa kesenjangan di berbagai aspek antara si hitam dan si putih masih ada di tengah dengung keras nilai-nilai inklusivitas,[]

Sumber:CNBC

Komentar

Loading...