Ulama: Bid’ah Kumpul  Massal Berdoa  Tolak Bala

Ulama: Bid’ah Kumpul  Massal Berdoa  Tolak BalaSERAMBINEWS.COM/Foto: Alfadhal Jeunieb
Dalam rangka mencegah Virus Corona (Covid-19) yang sedang mewabah, ratusan warga Gampong Teupin Kupula, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, keliling gampong bawa obor (suwa) serta membaca doa tolak, Rabu (18/3/2020) malam.
A A A

Banda aceh , acehtoday.com -  Ibnu Hajar mengeluarkan fatwa tentang Kegiatan Kumpul Massal untuk Berdoa saat Dilanda Wabah.

Imam Ibnu Hajar al Asqalani telah mengarang Kitab Badzlu al Maun Fi Fadhli al Thaun.

Berikut ini kesimpulan yang diterangkan oleh al-Imâm al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalânî :

Berkumpul untuk berdoa dan beristighotsah di suatu tempat (sebuah lapangan) untuk menolak bala’ ketika terjadinya wabah penyakit (Tha’ûn) sebagaimana praktek Istisqa’ (diawali puasa 3 hari) adalah kehiatan bid’ah.

Kegiatan tersebut pertama kali dilakukan pada 764 H, (wabah Thâ’ûn ganas di Damaskus (Suriah) pada 749.

Jadi 15 tahun setelah awal terjadi wabah, barulah mayoritas pembesar/penguasa dan sebagian ulama berkumpul.

Di mana setelah terjadi kumpulan massa untuk berdoa tersebut korban meninggal justru malah lebih banyak yang berjatuhan dibandingkan sebelumnya.

Di zamannya pada 27 Rabî’ul Akhir tahun 833 H di Kairo, juga terjadi hal yang sama (pengumpulan massa untuk doa bersama).

Pada tanggal 4 Jumâdal Ûlâ masyarakat diperintahkan keluar ke lapangan, sebelumnya dianjurkan puasa 3 hari, lalu shalat dan berdoa.

Korban jiwa sebelum acara tsb kurang dari 40 orang. Namun setelahnya malah membengkak lebih dari 1000 lebih nyawa melayang.

Sebagian ulama memfatwakan kegiatan itu berdasarkan keumuman dalil tentang doa dan menyandarkan kepada (niat baik) Malik/Raja Muayyad.  

Segolongan ulama hadir dan semua tidak ada yang mengingkarinya, sehingga kegiatan itu dinilai sebagai kegiatan yang baik.

Sebagian ulama yang lain berpendapat kegiatan itu lebih utama untuk ditinggalkan karena dikhawatirkan fitnah.

Karena meskipun perkara tersebut dianggap baik akan tetapi tetap tidak lepas dari timbulnya tuduhan yang buruk, terutama kepada para ulama, kaum shalih dan doa itu sendiri.

Ibnu Hajar al-Asqolani melarang perkumpulan tersebut. Bahkan  itu menjadi alasan yang mendorongnya menyalin kitab Badzlul Mâ’ûn Fî Fadhlith Thâ’ûn setelah mengumpulkan banyak sekali hadis dan kalam para ulama pada 819 H.  

Dua kali dia menolak keluar bersama Malik/Raja Muayyad dalam kegiatan tersebut.

Ibnu Hajar melalukan karantina mandiri dengan social distancing dengan menolak keluar rumah (isolasi diri) dengan tidak menghadiri kegiatan yang disponsori Raja Muayyad Billah di Kairo saat itu.

Tindakan beliau bahkan lebih maju dari pemikiran era saat ini. Wallâhu a’lam. (Ringkasan dari halaman 328-330 yang diringkas Fahmi Salim, MA) dikutip dari hidayatullah.com.[]

#janganmudik

Komentar

Loading...