Virus Corona dan Pendidikan Kebencanaan Kita

Virus Corona dan Pendidikan Kebencanaan Kita
Ilustrasi
A A A

Penulis: Nurmalahayati, M. Si, Ph.D (Dosen jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Aceh Alumni Institute for Risk and Disaster Reduction, University College London, UK)

KONDISI dunia saat ini disibukkan dengan hadirnya wabah virus corona atau yang dikenal dengan COVID-19 yang bermula dari daerah Wuhan di negara Cina.

Virus yang menyebar lewat saluran pernafasan ini telah meresahkan masyarakat dunia. Informasi resmi WHO menyebutkan jumlah kasus aktif  sampai Jumat (10 April 2020) mencapai 1.625.313  jumlah  kasus yang tersebar di 210 negara.

Beberapa negara seperti Itali telah melakukan lockdown atau dalam bahasa umumnya menutup semua akses karena tingginya angka kematian akibat virus tersebut.

Di Indonesia, berdasarkan peta informasi penyebaran Covid-19 hingga 10 April  2020 menyebutkan tercatat lebih 3500 lebih kasus covid-19 dengan jumlah korban meninggal 306 yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia dan ditetapkan sebagai bencana nasional. 

Peningkatan angka penyebaran Covid-19  yang cukup signifikan ini semestinya bisa diminimalisir jika pemerintah sedini mungkin telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat sehingga memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan akan ancaman bahaya melalui penguatan payung hukum pendidikan kebencanaan.

Jika melihat konteks kebencanaan Indonesia, menurut Undang-undang No 24 Tahun 2007, bencana terjadi karena disebabkan oleh tiga faktor alam, non alam dan bencana sosial. Yang pertama adalah bencana yang disebabkan oleh faktor alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Faktor yang kedua adalah bencana yang disebabkan faktor non-alam  berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit dan yang terakhir bencana sosial yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau komunitas masyarakat, dan teror.

Berdasarkan kategori di atas, dapat dilihat bahwa bencana wabah penyakit (pandemik) sebagai salah satu bagian dari jenis bencana di Indonesia.

Lalu mengapa isu penyebaran  wabah ini seolah hal baru bagi masyarakat kita?  Padahal hanya dengan mengurangi aktivitas sosial dan menjaga jarak dalam beriteraksi (social/physical distancing) kita dapat memutus mata rantai penyebaran wabah covid-19.

Mengapa sangat sulit untuk meminta masyarakat untuk melakukan social distancing/ physical distancing ini?

Padahal tidak sedikit upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi aktivitas masyarakat di berbagai sektor agar penyebaran virus ini dapat dihambat. Kantor-kantor melakukan penghentian semua aktivitas kecuali sektor-sektor penting terkait pelayanan masyarakat dan kebutuhan pokok.

Tidak terkecuali di Provinsi Aceh,  pemerintah Aceh melalui surat edaran Plt Gubernur telah mengintruksikan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat bekerja dari rumah dan mengurangi aktivitas di tempat-tempat keramaian, seperti  warung kopi sebagai  salah satu tempat kumpul dalam  budaya masyarakat Aceh.

Dalam sektor pendidikan, sekolah diliburkan hingga akhir Mei untuk mengurangi peningkatan jumlah kasus.

Pengetahuan adalah kunci dalam membangun kesadaran masyarakat, meningkatkan kepatuhan sosial dan kesiapsiagaan.

Masih adanya sikap acuh tak acuh atau menganggap sepele pada berbagai himbauan yang dikeluarkan baik oleh pemerintah pusat atau daerah tentang social/physical distancing bisa jadi karena masyarakat belum memiliki pengetahuan yang memadai akan kondisi dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap wabah.

Beragam informasi terkait bahaya covid-19 belum mampu secara otomatis membantu masyarakat menentukan keputusan dan tindakan (sikap) yang tepat dalam meminimalisir dampak. Untuk ini perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk sekolah untuk memaksimalkan pemahaman masyarakat secara terus-menerus.

Al-Qur’an meneceritakan tentang Nabi Nuh AS, yang dikenal  dengan mukjizatnya tahu akan terjadi banjir besar yang akan menelan banyak korban jiwa, telah mempersiapkan sebuah bahtera sebelum kejadian tersebut, meski dianggap tidak waras oleh masyarakat pada jaman itu.

Penyiapan bahtera ini adalah langkah persiapan yang dalam dunia kebencanaan sering disebut dengan Disaster Preparedness (kesiapsiagaan).

Pembelajaran dari Nabi Nuh a.s adalah bahwasanya kita harus mampu memahami bahasa alam dan mampu beradaptasi serta mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi berbagai potensi bencana seperti yang disampaikan Muttaqin Alim dalam buku khutbah kebencanaan BNPB.

Kisah Nabi Nuh a.s  tersebut memberikan pelajaran bahwa sebagai manusia kita wajib berihtiar dengan maksimal sesuai kemampuan yang kita  miliki.

Dalam jangka pendek, ini dapat dilakukan dengan kontribusi minimal dengan tetap mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan seperti mengurangi aktivitas di luar rumah dan keramaian, beperilaku hidup bersih dan sehat dan rambu-rambu lainnya sehingga bersama-sama kita menekan keanaikan angka kasus covid-19.

Sedangkan untuk jangka panjang, kesiapsiagaan dengan membangun pemahaman secara komprehensif dan sistematis menggunakan pengetahuan, inovasi, dan untuk membangun budaya selamat dan tangguh yang harus dimulai sedini mungkin melalui setiap jenjang satuan pendidikan. Sehingga akan terbentuk sikap peduli dan pembiasaan dalam tingkah laku dalam menghadapi bencana.

Pendidikan (sekolah) sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan semestinya mampu menjadi wadah untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi berbagai kondisi  yang ada baik ditingkat lokal, nasional dan global.

Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang sepatutnya dimiliki oleh setiap peserta didik yang  hidup di daerah rawan bencana. Ini berarti bahwa  pendidikan kebencanaan haruslah menjadi topik yang harus diberikan dalam dunia pendidikan formal dan informal.

Pengetahuan tentang kebencanaan ini dapat dikategorikan sebagai kebutuhan universal untuk setiap individu guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Badan penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan TDMRC Universitas Syiah Kuala, beberapa waktu lalu telah menggagas rancangan qanun pendidikan kebencanaan agar dapat segera menjadi bagian pendidikan di sekolah-sekolah namun hal ini masih tertunda dalam wacana.

Mengingat pentingnya pendidikan kebencanaan untuk masyarakat Aceh saat ini dan generasi Aceh mendatang, mungkin ini saat yang tepat bagi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh untuk  merealisasikan Qanun Pendidikan Kebencanaan agar pendidikan kebencanaan tidak bersifat sporadik di provinsi tercinta ini.

Sehingga menjadi lebih komprehensif tidak hanya berpusat pada gempa dan tsunami tapi juga dengan memasukkan berbagai aspek kebencanaan termasuk pendidikan terhadap wabah penyakit seperti virus corona ini.  

Marilah bersama-sama kita memaksimalkan ihtiar sambil terus berdoa agar kita selalu dalam lindungan Allah dan wabah ini segera berakhir.[]

Komentar

Loading...